Published on

Careers

Perbedaan antara HR di startup dan korporat

Aldo Imanuel

perbedaan-HR-startup-dan-korporat-EKRUT

Ada anggapan bahwa pekerjaan HR di startup lebih santai karena perusahaan cenderung belum matang. Sedangkan HR di korporat cenderung kaku dan penuh birokrasi. Benarkah peran HR di startup berbeda dengan HR di korporat? Seberapa besar peranan HR pada perusahaan startup yang belum memiliki banyak karyawan?

Melihat esensi peran HR di perusahaan

hrd adalah EKRUT
 
Perbedaan HR di startup dan korporat terletak dalam skala pekerjaannya - EKRUT

HR pada dasarnya berperan dalam startegi perekrutan dan membantu para manager mendapatkan kandidat terbaik untuk perusahaan. Lantas apa saja perbedaan kerja antara HR di startup dan korporat?

Bisa dikatakan bahwa perbedaan terdalam di dalam skala pekerjaan. HR di sebuah perusahaan dengan 50 orang dan 1.000 orang tentu berbeda skala pekerjaanya, namun secara fundamental mereka melakukan pekerjaan yang serupa.

1. Rekrutmen

Sama seperti di semua perusahaan, salah satu pekerjaan utama HR adalah rekrutmen. Di startup yang masih berusia satu hingga dua tahun, terkadang founder dan manajer juga melakukan rekrutmen.

Alasan utamanya adalah kecepatan dan lebih bisa mengakomodir hal-hal teknis pekerjaan.

Sebaliknya, rekrutmen di korporat hampir pasti akan dilakukan oleh HR. Flow dan step rekrutmen juga sudah terbentuk, misalnya seorang kandidat harus lolos tes psikologi, tes kesehatan, dan tes teknis lainnya.

Adapun untuk mempercepat proses rekrutmen, baik HR, manajer, founder, maupun rekruter bisa memanfaatkan teknologi yang tentunya akan mempermudah proses rekrutmen.

Rata-rata seorang HR membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk bisa mendapatkan kandidat yang dirasa terbaik untuk perusahaan.

Guna menyiasati lamanya rekrutmen, HR bisa menggunakan platform talent marketplace yang pastinya akan mempercepat proses hiring. 

Kenapa? Karena dalam platform talent marketplace sudah tersedia banyak kandidat berkualitas yang sudah dikurasi, dan engagement dengan kandidat juga berlangsung sangat cepat.

Menurut data, talent marketplace bisa mempercepat proses rekrutmen hingga 9x lebih cepat.

2. Performance management

Strategi atau sistem dalam performance management adalah suatu keharusan, baik di startup maupun korporat. Bedanya, peran founders dan manajer sangat terasa dalam hal performance management ini di startup.

Ada kalanya sebuah startup tidak memiliki sistem performance management yang baku sehingga appraisal atas suatu performance menjadi tidak sepadan antar karyawan.

3. Employee engagement

Seperti dikatakan oleh Shalaka, budaya perusahaan, untuk HR, adalah segalanya. HR, baik di startup maupun korporat, akan menjaga budaya perusahaan untuk dimiliki oleh semua karyawan perusahaan tersebut, termasuk para eksekutif.

Lagi-lagi perbedaan utama antara HR startup dan korporat adalah di skala kerja. Membuat 1.000 orang memiliki budaya yang sama tentu lebih sulit dibanding ‘hanya’ mengurusi 50 orang.

4. Employer branding

HR memiliki peran yang sangat penting pada bagian employer branding. Pernahkah kamu menemukan banyak orang, fresh graduates dan yang sudah berpengelaman, berbondong-bondong ingin masuk ke perusahaan A karena terdengar atau terasa keren? Atau karena merasa suasana dan budaya kerja yang kekinian?

Itulah peranan dari HR dalam melakukan employer branding. Dengan branding perusahaan yang baik tentu akan memudahkan proses rekrutmen dalam mendapatkan kandidat yang berkualitas. Namun sayangnya, employer branding acap kali dilakukan belakangan oleh HR startup

Mereka menyadari kalau employer branding itu penting, tapi belum banyak startup yang melakukannya karena dirasa mahal dan tidak membawa berdampak langsung ke company metrics.

Baca juga: 8 Skill people management ini penting diketahui oleh manajer

Tantangan untuk HR di startup

hrd adalah EKRUT 
HR saat ini juga sudah mulai memerhatikan budaya kerja karyawan - EKRUT

Jika dulu pekerjaan HR cenderung administratif seperti mengurusi payroll karyawan, saat ini HR juga sudah mulai memerhatikan budaya kerja di perusahaannya.

Menurut Sartain, kini banyak anak muda generasi milenial yang tidak mengerti pentingnya memiliki etika di tempat kerja. “Menurut saya, banyak anak muda ini tidak mempelajari perilaku seperti apa yang dapat diterima dan tidak dapat diterima di tempat kerja.“

Venture capitalist dan pengajar perilaku berorganisasi di Starnford Graduate School of Business, Robert Siegel, mengatakan bahwa semua perusahaan pasti memiliki budaya tersendiri, baik disengaja ataupun tidak.

“Untuk itulah perusahaan-perusahaan besar memiliki posisi eksekutif untuk HR karena perusahaan-perusahaan tersebut memahami kalau karyawan adalah aset paling penting yang harus dijaga.”

Lanjut Robert, setidaknya ada lima hal yang acap kali dilewatkan oleh HR startup dan salah satunya adalah gagal dalam melakukan onboarding.

Padahal onboarding adalah momen dimana karyawan baru akan merasa sangat diterima oleh perusahaan dan merasakan, untuk pertama kalinya, nilai-nilai dan budaya perusahaan. 

Baca juga: Catat, ini 5 cara menjadi HRD yang baik dan benar

Carly Guthrie, HR Director dan mantan VP People URX, menekankan pentingnya proses onboarding karyawan baru oleh HR. “Proses onboarding yang asal-asalan akan menghasilkan budaya perusahaan yang asal-asalan juga.”

Jadi, bagaimana dengan HR di perusahaan kamu?

hrd adalah EKRUT 
Last update 13 December 2020

Sumber:

  • LinkedIn pulse
  • medium.com
  • entrepreneur.com
  • fastcompany.com

Tags

Share