Media

Indonesia pimpin AI di ASEAN, ungguli Singapura
By Maria Yuniar - 16 July 2018
3 min read 204 Views

Hasil riset terbaru lembaga penyedia data pasar, IDC, memperlihatkan masifnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kawasan Asia Pasifik. Tingkat adopsi teknologi tersebut mencapai 14 persen di kawasan ini, atau naik delapan persen dari tahun 2017.

Survei IDC Asia/Pacific Enterprise Cognitive/AI dilakukan setiap tahunnya untuk mengetahui tren di bidang IT, termasuk tantangannya. Survei tahun 2018 ini melibatkan 502 pegawai dan petinggi IT di Asia Pasifik, termasuk Jepang. Selain itu, ada sebanyak 146 responden dari Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand).

 

Indonesia pimpin ASEAN

Hasil survei IDC pun mencatat sebanyak 24,6 persen organisasi di Indonesia telah mengadopsi kecerdasan buatan. Dengan angka ini, Indonesia menjadi pemimpin di ASEAN, sekaligus mengungguli Thailand (17,1 persen), Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen).

Di kawasan Asia Tenggara, kecerdasan buatan juga ditemukan dalam algoritme prediksi pasar, serta automatisasi aset dan manajemen infrastruktur.

Namun, ada catatan penting yang harus diperhatikan. Di satu sisi, Indonesia memang menjadi negara yang paling banyak mengadopsi AI. Namun di sisi lain, sebanyak 59 persen organisasi di Indonesia belum berencana menggunakan kecerdasan buatan dalam lima tahun mendatang. 

 

Singapura kekurangan tenaga terampil

Singapura boleh jadi pemimpin teknologi di kawasan tersebut. Namun nyatanya, tingkat pemanfaatan AI di Singapura masih 9,9 persen. Angka ini masih jauh di bawah Indonesia yang mencapai 24,6 persen dan Thailand sebesar 17,1 persen.

Lebih dari 25 persen perusahaan di Singapura mengaku masih kekurangan tenaga terampil serta pengetahuan, dalam memanfaatkan AI. Managing Director SAS Singapore, Randy Goh mengungkapkan, kecerdasan buatan bukan lagi menjadi nilai tambah, melainkan sebuah disrupsi.

Teknologi kecerdasan buatan bisa menyelesaikan berbagai persoalan rumit. Managing Director SAS Singapore Randy Goh mengatakan, perusahaan Singapura mesti menerapkan solusi berbasis kecerdasan buatan dalam proses bisnis.

Secara garis besar, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan Asia Tenggara masih jauh tertinggal dari Asia Pasifik, termasuk Jepang. Oleh karena itu, Asia Tenggara ingin cepat menyusul. Buktinya, sebanyak 35 persen organisasi di Singapura telah berencana mengadopsi AI dalam dua tahun mendatang. Persentase ini menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

 

Asia Pasifik belum samai Asia Utara

Kawasan Asia Pasifik memang mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Namun, pertumbuhan ini masih tertinggal dari negara-negara Asia Utara, dalam hal menempatkan AI sebagai agenda penting. Buktinya, lebih dari 80 perusahaan di Tiongkok dan Korea Selatan melihat pentingnya AI untuk menunjang keberhasilan dan daya saing perusahaan di masa mendatang. Sementara itu di Singapura dan Malaysia, hanya 40 persen yang memiliki pandangan seperti itu. 

Selama ini, para responden memang masih berhadapan dengan dua tantangan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Pertama, kurangnya keterampilan dan pengetahuan (23 persen). Kedua, tingginya biaya (23 persen).

 

AI untuk perkuat bisnis

Hasil survei IDC menunjukkan langkah kelompok perusahaan yang terang-terangan menggunakan kecerdasan buatan dalam kegiatan operasional. Lebih dari separuh responden atau sebanyak 52 persen memilih kecerdasan buatan untuk mendapatkan pemahaman bisnis yang lebih baik. Sebelumnya, alasan ini menjadi faktor ketiga dalam pemanfaatan AI pada 2017.

Alasan kedua dan ketiga dalam penggunaan kecerdasan buatan masing-masing adalah untuk mendorong proses otomatisasi (51 persen) dan menggenjot produktivitas (42 persen).

 

Kumpulkan data berbagai divisi

Untuk memperkuat strategi dalam menjadikan kecerdasan buatan sebagai nilai tambah bisnis mereka, perusahaan-perusahaan pun mengumpulkan data dari divisi penjualan, niaga, dan pemasaran, layanan pelanggan dan dukungan operasional, IT, serta risiko dan keamanan.

Perusahaan-perusahaan yang sudah berpengalaman memanfaatkan data pun ternyata tetap menghadapi berbagai tantangan. Misalnya, organisasi di bidang layanan keuangan mengalami kendala dalam mengagabungkan data dan membangun model. Sementara itu, organisasi di sektor publik masih belum memiliki data yang memadai.

 

Dampak AI di berbagai bidang

Global Research Director, Big Data and Analytics and Cognitive/AI, IDC Asia/Pacific, Chwee Kan Chua dikutip networksasia.net mengungkapkan, kecerdasan buatan telah membawa dampak positif pada perbankan, manufaktur, pelayanan kesehatan, serta pemerintahan. Dengan demikian, hal ini sekaligus menjadi peluang bagi lebih banyak organisasi di Asia Tenggara untuk meningkatkan pemanfaatan AI dalam menghadirkan nilai tambah.

Chwee berharap investasi untuk teknologi kecerdasan buatan akan meningkat, seiring tumbuhnya organisasi yang menyadari pentingnya pemanfaatan AI, termasuk data dan analytics. Organisasi yang tidak menggunakan AI, akan dikalahkan mereka yang telah mengadopsi teknologi ini.

Bagaimana pendapat Anda? Hebat ya, Indonesia! Semoga semakin banyak perusahaan dan startup di dalam negeri yang mengadopsi kecanggihan teknologi kecerdasan buatan untuk mengembangkan bisnis dan melayani kebutuhan publik.

 

Rekomendasi bacaan:
7 dasar bahasa pemrograman Python
Jangan jadi developer yang biasa saja
Hati-hati saat jawab 5 pertanyaan interview ini

 

Sumber:
networksasia.net
mobitekno.com

Tags:

  • Indonesia
  • ASEAN
  • Asia
  • Asia Tenggara
  • AI
  • artificial intelligence
  • kecerdasan buatan
  • Share Group 1 Group 3 Group 4
    Bergabung dengan EKRUT

    Bergabung dengan EKRUT dan dapatkan pekerjaan impianmu!
    Daftar Sekarang