Published on

Careers

Resesi ekonomi dan potensinya di tengah pandemi

Maria Tri Handayani

resesi-ekonomi---EKRUT.jpg

Pandemi virus Corona yang masih berlangsung hingga kini memberi dampak buruk bagi keadaan ekonomi di berbagai negara. Bila terus terjadi, keadaan ini disebut dapat berpotensi memicu resesi ekonomi global. 

Jadi, apa itu resesi ekonomi dan resesi ekonomi global?

resesi ekonomi - EKRUT
Salah satu variabel yang berkontribusi pada keadaan ekonomi negara adalah geopolitik - EKRUT

Resesi ekonomi adalah kondisi ketika kegiatan ekonomi di sebuah negara mengalami  penurunan signifikan atau tumbuh negatif selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.

Beberapa indikator dari resesi ekonomi, antara lain penurunan pada produk domestik bruto riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel.

Ada berbagai variabel yang dapat berkontribusi pada kesehatan ekonomi suatu negara hingga akhirnya dapat memicu resesi tersebut, seperti karena bencana alam, perang, hingga faktor geopolitik. 

Sebagai contoh, lonjakan harga minyak yang tiba-tiba dan terjadi secara terus-menerus karena krisis geopolitik secara simultan dapat meningkatkan biaya di banyak industri dan memicu resesi yang meluas. Resesi ekonomi juga dapat muncul karena  faktor keuangan seperti monetarisme. 

Sementara itu resesi ekonomi global adalah kondisi dimana terjadi penurunan ekonomi dalam periode yang panjang di seluruh dunia. 

Ada bermacam kriteria yang digunakan IMF untuk mengidentifikasi resesi global, salah satunya seperti penurunan produk domestik bruto per kapita di seluruh dunia. Penurunan dalam output global ini juga dibarengi dengan indikator ekonomi makro lain seperti perdagangan, aliran moda,l dan lapangan kerja. 

Menurut IMF, ada empat resesi ekonomi global yang terjadi sejak Perang Dunia II, yakni pada tahun 1975, 1982, 1991, dan 2009.

Dampak dan tingkat keparahan dari efek resesi global sendiri akan bervariasi pada masing-masing negara tergantung beberapa faktor, seperti hubungan perdagangan negara dengan bagian dunia lainnya, serta kecanggihan pasar, dan efisiensi investasi.

Namun, umumnya ketika resesi ekonomi terjadi, penjualan dan pendapatan bisnis berpotensi menurun sehingga menyebabkan bisnis dapat berhenti berkembang dan merugi.  Selain itu kondisi ketidakstabilan ekonomi karena resesi juga dapat memengaruhi  penurunan pendapatan, naiknya pengangguran, penurunan harga aset, meningkatnya pinjaman negara.

Baca juga: Cari tahu pengaruh Corona terhadap bisnis startup di Tanah Air

Apa hubungan resesi ekonomi dengan pandemi? 

resesi ekonomi - EKRUT
Tidak semua pandemi berpotensi memicu resesi ekonomi - EKRUT

Pandemi global berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan memicu resesi. Data dari  National Bureau of Economic Research menunjukkan pernah ada beberapa kasus pandemi yang diikuti dengan efek resesi ekonomi. 

Contohnya seperti  pandemi flu Rusia pada tahun 1889-1890 diikuti oleh resesi yang terjadi pada tahun 1890 dan 1891; serta flu Spanyol yang muncul di tahun 1918 diikuti dengan resesi di tahun 1918-1919 dan 1920 -1921.

Dampak ekonomi dari pandemi mungkin tidak akan berlangsung lama jika penanganan oleh pemerintah dilakukan cepat, namun peristiwa ini tetap dapat memengaruhi penutupan bisnis dan lonjakan tajam dalam angka pengangguran. Contohnya, pada peristiwa pandemi flu Spanyol pada tahun 1918 mengakibatkan  banyak bisnis berbasis layanan yang merugi.

Meski demikian perlu dipahami bahwa tidak semua wabah penyebaran virus atau pandemi selalu mengarah pada resesi ekonomi. 

Bagaimana dengan pandemi Covid-19 yang sekarang terjadi? 

resesi ekonomi - EKRUT
Keadaan ekonomi banyak negara banyak terguncang oleh dampak pandemi Corona - EKRUT

Goldman Sach Group Inc dan tim ekonom Morgan Stanley menyatakan bahwa pandemi Corona telah memicu potensi resesi global. Penyebaran virus yang masif membuat ekonomi di berbagai negara mengalami pukulan lebih keras dari yang diproyeksi sebelumnya. 

Tim ekonom Morgan Stanley memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 0,3% pada kuartal 1 dan minus 0,6% pada kuartal II tahun ini sebelum rebound pada dua kuartal berikutnya. Sehingga pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksi hanya mencapai 0,9 % di tahun ini.

Hal serupa juga ditekankan IMF. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan bahwa kondisi wabah Covid-19 akan berdampak pada perekonomian global. 

Prospek pertumbuhan ekonomi global di tahun 2020 diprediksi negatif dibanding tahun lalu, di mana dunia akan mengalami resesi yang diperkirakan setidaknya sama dengan kondisi krisis keuangan global 2008 atau bahkan lebih buruk dari itu. 

Meski demikian IMF berharap pemulihan ekonomi akan terjadi di 2021. Itu sebabnya negara di mana pun itu harus memprioritaskan penanggulangan dan memperkuat sistem kesehatan. 

Selain itu dalam beberapa media juga disebutkan bahwa negara seperti AS, Eropa dan negara emerging markets diproyeksi mengalami kondisi terburuk pada kuartal II 2020. Sementara Eropa menurut Morgan Stanley akan menjadi kawasan paling terdampak setahun penuh. 

Data telah menunjukan dampak wabah virus Corona di sektor ekonomi. Kepercayaan investor pada ekonomi Jerman anjlok ke tingkat terakhir bila dilihat selama krisis utang Eropa, sementara penjualan ritel di Amerika Serikat mulai anjlok pada bulan Februari. Pengangguran di Amerika diklaim melompat ke level tertinggi kedua di tahun ini dan kemungkinan akan terus meningkat dalam beberapa minggu mendatang. 

Prediksi serupa juga dikemukakan oleh lembaga konsultan The Economist Intelligence Unit (EIU).  

Lembaga konsultan The Economist Intelligence Unit (EIU) mengatakan bahwa pandemi Corona dapat menyebabkan semua negara yang tergabung dalam G20 mengalami resesi ekonomi.

Amerika Serikat diproyeksikan EIU mengalami penurunan  -2,8% karena pengaruh respon awal pemerintah AS yang dinilai buruk terhadap pandemi serta pengaruh jatuhnya harga minyak global.  

Jerman juga diproyeksi mengalami pertumbuhan negatif sebesar -6,8% karena sektor manufaktur yang sangat berorientasi pada ekspor.

Selain itu,  negara G-20  lainnya yang juga disebut akan mengalami pertumbuhan negatif di antaranya Australia (-0,4%), Korea Selatan (-1,8%), Meksiko (-5,4%), Rusia (-2%), Arab Saudi (-5%), Afrika Selatan (-3%), Argentina (-6,7%),Brazil (-5,5%), Canada (-1,3%), Prancis (-5%), Italia (-7%), Jepang (-1,5%),  Turki (-3%) dan Inggris (-2,8%).

Baca juga: Sederet dampak corona bagi negara-negara di dunia

Bagaimana dengan Indonesia? 

resesi ekonomi - EKRUT
Indonesia adalah salah satu dari 3 negara G-20 yang diprediksi aman dari potensi resesi - EKRUT

The Economist Intelligence Unit (EIU) mengatakan bahwa tiga negara G20 yang diprediksi bebas dari resesi ekonomi adalah  Indonesia, India dan Cina. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih mampu bertahan pada angka 1 %, sementara India 2,1 % dan Cina bertahan dengan pertumbuhan 1 %.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga pernah melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam skenario berat diprediksi masih tumbuh hingga 2,3 persen, sementara untuk skenario sangat berat diprediksi pertumbuhan dapat mengalami  kontraksi hingga 0,4 persen. 

Itulah sekilas informasi terkait bagaimana pandemi di berbagai negara mengganggu kestabilan ekonomi  hingga potensinya memicu resesi ekonomi global di tahun ini. Tentunya tidak ada yang menginginkan situasi ini terus terjadi. Mari berharap pandemi covid-19 segera berakhir dan perekonomian global kembali pulih seperti sedia kala.

resesi ekonomi - EKRUT

Rekomendasi bacaan: 

Sumber: 

  • thebalance.com
  • investopedia.com
  • bloomberg.com
  • observer.com
  • economicshelp.org

Tags

Share