Published on

startup

BEP (Break Event Point): Pengertian, konsep, tujuan, 3 komponen, dan cara perhitungannya

Sylvia Rheny

BEP_(Break_Event_Point)_Pengertian__konsep__tujuan__3_komponen_dan_cara_perhitunganya.jpg

Di bidang ekonomi, Break Even Point atau BEP adalah komponen penting dari keberlanjutan perusahaan. Salah satu fungsi BEP adalah meramalkan dampak perubahan biaya dan efisiensi terhadap profitabilitas. Baik bagi pemilik bisnis maupun investor, data dari BEP bisnis yang beroperasi sangat penting. Memahami cara menghitung dan menganalisis BEP adalah penting bagi pemilik bisnis untuk mempertahankan kendali atas operasi keuangan perusahaan dan di kemudian hari. Untuk membantu kamu memahami BEP, yuk ketahui pengertian, konsep, tujuan, komponen, dan cara menghitung BEP di bawah ini.

Baca juga: 8 Contoh monkey business yang merugikan dan perlu dihindari

Apa itu BEP (Break Event Point)?


BEP adalah perhitungan untuk menentukan jumlah penjualan agar kembali modal. (Sumber: iStock)

BEP adalah perhitungan bisnis yang digunakan untuk menentukan jumlah penjualan yang diperlukan untuk mencapai titik impas atau mengembalikan modal, pada titik mana bisnis mulai mengharapkan keuntungan. Untuk setiap pengusaha, memahami titik impas sangat penting. Tanpa menghitung BEP, pemilik bisnis akan menghadapi banyak kesulitan, mulai dari menentukan margin keuntungan hingga memperkirakan kapan perusahaan mereka akan mengembalikan modal.

Dalam posisi BEP, tidak ada kerugian atau keuntungan yang dialami perusahaan, itulah mengapa disebut titik impas. Dengan demikian, referensi BEP menjadi penting bagi pemilik bisnis untuk mengkonfigurasi beberapa item untuk meningkatkan penjualan dan menghasilkan keuntungan.

Baca juga: Mengenal bussiness intelligence dan manfaatnya

Konsep BEP (Break Event Point)


Salah satu konsep BEP adalah penggolongan biaya harus dalam biaya tetap dan variabel. (Sumber: iStock)

Sangat penting untuk memahami nilai BEP suatu produk. Dengan menentukan BEP, suatu bisnis dapat meramalkan kinerja keuangannya pada periode-periode berikutnya. Menurut Susan Irawati, dalam buku “Manajemen Keuangan”, asumsi dasar BEP adalah sebagai berikut:

  • Penggolongan biaya yang dikeluarkan dalam suatu perusahaan harus dalam biaya tetap dan biaya variabel.
  • Biaya variabel berubah secara total sesuai dengan perubahan volume, sedangkan biaya tetap tidak berubah secara total.
  • Besarnya jumlah biaya tetap tidak berubah meskipun terjadi perubahan aktivitas, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah-ubah.
  • Saat menganalisis periode, harga jual per unit adalah konstan.
  • Asumsi bahwa jumlah produk dari setiap produksi dianggap selalu habis terjual.
  • Perusahaan menjual dan membuat satu jenis produk. Jika perusahaan membuat atau menjual lebih dari satu jenis produk, maka saldo hasil penjualan masing-masing produk tetap ada.

Asumsi dasar ini akan membantu dalam memodifikasi rumus untuk menghitung BEP. Secara umum, dasar-dasar ini merupakan aturan tetap untuk menghitung BEP yang benar. Jika kamu mengabaikan ini, perhitungan nilai BEP sangat mungkin untuk gagal.

Baca juga: 9 Segmen business model canvas untuk merancang bisnis startup

Tujuan analisis BEP (Break Event Point)


Tujuan analisis BEP adalah untuk menentukan langkah-langkah efisien perusahaan. (Sumber: iStock)

BEP bertanggung jawab atas beberapa fungsi yang berbeda dalam perusahaan. Tujuan analisis BEP adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui nilai BEP memungkinkan pengusaha untuk memperkirakan volume kapasitas produksi yang akan tersisa setelah BEP tercapai. Dengan menentukan nilai BEP, maka dapat memilih proyeksi keuntungan maksimum yang mungkin terjadi.
  2. Nilai BEP memungkinkan untuk menentukan langkah-langkah efisiensi yang dapat dilakukan perusahaan. Ketika manufaktur berjalan secara otomatis, biaya tetap dan variabel berubah. Ini karena biaya variabel yang terkait dengan tenaga kerja diganti dengan biaya tetap yang terkait dengan mesin.
  3. Nilai BEP membantu pengusaha mengetahui perubahan nilai keuntungan jika terjadi perubahan harga produk. Hubungan antara nilai BEP, biaya produk, dan keuntungan adalah paralel, sehingga jika nilai salah satu elemen meningkat, elemen lainnya juga akan meningkat, dan sebaliknya.
  4. Karena BEP berfungsi untuk menentukan perubahan laba, BEP juga dapat menentukan kerugian. Bagi pengusaha, dengan mengetahui nilai BEP, pengusaha dapat mengantisipasi nilai kerugian ketika terjadi penurunan penjualan.

Baca juga: Rasio profitabilitas: Pengertian, fungsi, 8 jenis hingga contoh kasusnya

Komponen penghitungan dasar BEP (Break Event Point)


Komponen penghitungan BEP adalah fixed cost, variable cost, dan laba. (Sumber: iStock)

Terdapat beberapa komponen yang berkontribusi terhadap penghitungan dasar nilai BEP yaitu fixed cost, variable cost, dan laba/profit. Penjelasan dari masing-masing komponen yang berkontribusi terhadap terbentuknya BEP adalah sebagai berikut.

1. Fixed cost

Komponen pertama dalam penghitungan dasar BEP adalah biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang tetap konstan terlepas dari perubahan proses produksi. Perubahan yang dimaksud adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi barang dari waktu ke waktu. Contoh biaya tetap adalah penyusutan, tenaga kerja, bangunan, atau sewa gudang.

2. Variable cost

Komponen yang selanjutnya dalam penghitungan dasar BEP adalah biaya variabel (variable cost). Biaya variabel adalah biaya perusahaan yang berubah secara proporsional dengan seberapa banyak perusahaan memproduksi atau menjual. Biaya variabel meningkat atau menurun tergantung pada produksi atau volume penjualan perusahaan, biaya tersebut naik saat produksi meningkat dan turun saat produksi menurun. Beberapa hal termasuk ke dalam variable cost adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, peralatan sekali pakai, dan sebagainya.

3. Laba atau profit

Komponen yang selanjutnya dalam penghitungan dasar BEP adalah margin laba, sesuatu yang wajib ditambahkan pada harga produk begitu BEP-nya terhitung. Besarnya margin laba merupakan kekuasaan pemilik bisnis sehingga pemilik bisnis bisa menetapkan margin laba dengan nominal berapapun.

Baca juga: Begini cara membuat visi misi perusahaan dan contohnya

Cara perhitungan BEP (Break Event Point)


Cara menghitung BEP adalah dalam jumlah unit dan mata uang. (Sumber: iStock)

Setelah mengetahui apa saja komponen dasar dalam BEP, maka selanjutnya kamu perlu mengetahui bagaimana cara menghitung BEP. Ada dua cara untuk menghitung BEP, yang pertama didasarkan pada unit dan yang lainnya didasarkan pada mata uang, misalnya rupiah.

Untuk menghitung BEP dalam satuan atau unit, maka rumus yang berlaku adalah sebagai berikut:

BEP = Fixed costs / (revenue per unit – variable cost per unit)

Sementara untuk menghitung BEP dalam mata uang, maka rumus yang berlaku adalah sebagai berikut:

BEP = BEP in units x sales price per unit

Demikian beberapa penjelasan mengenai pengertian, konsep, tujuan, komponen, hingga cara menghitung BEP. BEP adalah cara yang tepat untuk menganalisis bagaimana perusahaan dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga semua keputusan yang diambil adalah hal yang tepat.

Selain dari artikel EKRUT Media ini, kamu masih bisa memperoleh informasi dan berbagai tips bermanfaat lainnya melalui YouTube EKRUT Official. Nah, kalau kamu ingin mengembangkan karier dan mencari pekerjaan baru, yuk, sign up di EKRUT sekarang juga karena banyak peluang kerja dari perusahaan dan startup ternama menantimu!

sign up EKRUT

Sumber:

  • Investopedia
  • Corporate Finance Institute
  • Freshbooks

Tags

Share