Published on

Technology

eSport di Indonesia, ada peluang dan tantangan

Widyanto Gunadi

esport.jpg

Aktivitas bermain game sudah bertransformasi menjadi olah raga elektronik bernama eSport. Di Indonesia, bermain game resmi menjadi cabang olahraga, ditandai dengan berdirinya Indonesia eSport Association (IeSPA) tahun 2014. Apa saja ya peluang dan tantangannya di Indonesia?

 

Masuk Asian Games

Pamor eSport sebagai cabang olahraga akan naik daun, seiring masuknya eSport di Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang bulan Agustus mendatang, meskipun masih dalam skema eksibisi, alias tanpa medali. 

"eSport di Asian Games, harusnya bisa jadi katalis, kalau diselenggarakan dengan baik dan benar," jelas pengamat gaming dan eSport, Dedy Irvan, seperti dikutip kompas.com.

 

Minim pemain

Di samping itu, sama seperti cabang olah raga lain, eSport membutuhkan atlet dalam perlombaanya. Indonesia dinilai belum siap bertanding karena jumlah pemain yang minim.

“eSport kalau masuk ke dalam Olimpiade, Asian Games, siapa yang mau kita kirim? Apakah kita ada timnya? Ini adalah fundamental issue," kata Direktur Discovery Nusantara Capital (DNC), Irene Umar, seperti dilansir cnnindonesia.com.

CEO OmniVR, Nico Alyus, pun memiliki pendapat serupa. Ia melihat talenta lokal Indonesia masih sangat tersebar. "Pasti ada, cuma butuh effort untuk menyeleksi dan menyeleksi lagi," ujar Nico.


Belum populer

Olahraga eSport memang belum sepopuler cabang lain di Indonesia. Namun, perkembangannya cukup pesat. Di ranah global, posisi Indonesia dalam pasar industri gaming menempati urutan ke-16 pada 2017. Tercatat ada 43,7 juta gamer yang menghabiskan US$ 879,7 juta atau setara dengan Rp 12,3 triliun, berdasarkan paparan data dari Newzoo.

Salah satu tantangan terbesar perkembangan eSport di Indonesia adalah perbedaaan pandangan antara generasi milenial dan generasi senior. ESport bukan sekedar main game untuk mengisi waktu, seperti yang dipersepsikan selama ini. "Main game itu rekreasi, eSport itu profesi. Ini satu perbedaan," kata pengamat gaming dan eSport, Dedy Irvan.

 

Butuh banyak dukungan

Martketing Director Intel ANZ & South East Asia, Anna Torres mengatakan, jika Indonesia ingin mengembangkan industri eSport, atletnya harus mendapat dukungan penuh dari semua pihak. Dukungan juga diperlukan untuk mengatasi isu negatif. Misalnya, dampak anti-sosial bagi para pemain.

Secara umum, eSport masih membutuhkan pengelolaan yang profesional. Selanjutnya, urusan infrastruktur akan mengikuti, seperti pengadaan stadion khusus gaming dengan perlengkapan eSport yang memadai. 

Bagaimana pendapat Anda? Apakah eSport memiliki masa depan cerah di Indonesia?

 

Rekomendasi bacaan:
Chromebook tawarkan 5 keuntungan ini, Anda tergoda?
Startup punya segudang strategi buat mencegah karyawan resign
Raih pendanaan Rp 277 miliar, EV Hive bidik seratus lokasi

 

Sumber:
kompas.com
cnnindonesia.com
 

Tags

Share