Technology

Manusia vs. Internet: Siapa yang salah?

Published on
Min read
0 min read
time-icon
Widyanto Gunadi

Content palnner | Likes: Video games, music and drums, good reads, running, learning new things | Dislike: Overcomplicates simple things

fake_news.jpg
Ujaran kebencian dan komentar-komentar menyangkut suku, agama, dan ras (SARA) seringkali bertebaran di media sosial dan berbagai situs. Namun, pula Anda mungkin kerap tak menyadari bahwa komentar-komentar tersebut bukan berasal dari pengguna langsung, melainkan dari akun palsu yang diciptakan secara massal.
 

Ratusan pengguna Facebook terhubung akun palsu 

 
Pada akhir 2017, Facebook dan beberapa perusahaan teknologi lainnya menyatakan ada ratusan juta pengguna yang terhubung dengan akun-akun palsu. Propaganda pun terjadi. Banyak korban akun palsu di internet yang tersulut emosi dan berbalik menyerang pengguna Internet lain. Pada tahap ini, tujuan mereka untuk menyebarkan kebencian dapat dibilang berhasil.
 
Dilansir Wired, seorang jurnalis, Craig Silverman, mengatakan bahwa kemampuan pengguna Internet untuk merasakan sesuatu, mengevaluasi, dan memvalidasi informasi sangat ditantang dan seringkali terpengaruh oleh kabar bohong atau hoax.
 

Sabotase informasi berawal di sini

 
Propaganda komputasi yang menggambarkan kolaborasi antara manusia dan mesin untuk mempengaruhi masyarakat luas berawal dari Oxford Internet Institute di Balliol College, Oxford. Balliol College didirikan pada 1263 ketika Raja James I dari Aragon ingin menyabotase informasi penting dengan menyensor huruf-huruf Ibrani.

 

Informasi tersebut memuat alrogitme, otomatisasi, kemungkinan manusia memanipulasi persepsi, kognisi, dan perilaku. Dalam hal ini, kuncinya berada pada kemampuan manusia untuk memilah informasi.

 

Medsos untuk giring opini publik

 

Peneliti dari Oxford Internet Institute, Samantha Bradshaw, telah mendokumentasikan cara-cara yang dilakukan oleh 28 negara untuk membentuk opini masyarakat melalui media sosial. Biasanya opini ini dibentuk dengan mempelajari gaya dan kebiasaan aktivis asli dan pengguna Internet pada umumnya. Tujuannya, agar konten yang dibuat terlihat seolah-olah asli. Padahal tidak.

 

Pada bulan Maret, sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyatakan akun palsu masih memiliki kemampuan untuk memilah konten yang akan disebarluaskan. Sementara itu, manusia malah cenderung memilih untuk menyebarkan berita kebohongan, hanya semata-mata karena menyukai berita tersebut, maupu terkejut dengan berita itu.

 

Bagaimana cara mengatasinya?

 

Dengan demikian, tak ada cara lain untuk mengatasi masalah ini selain melewatinya. Tentu saja, propaganda harus dilawan. Namun, pada saat yang sama, kita harus menyadari, ternyta manusia mudah terpengaruh sensasi di dunia maya.
 

Sumber:

wired.com

0

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    H1_jadwal_fyp_tiktok.jpg

    Technology

    Jadwal FYP TikTok 2022: Jam Terbaik untuk Upload Video

    Nurina Ulfah

    16 January 2023
    5 min read
    Ssstiktok_Download_Video_TikTok_tanpa_Watermark_Secara_Online_2022.jpg

    Technology

    SSSTikTok

    Sylvia Rheny

    19 December 2022
    5 min read
    H1_tiktok_affiliate.jpg

    Technology

    Cara Daftar TikTok Affiliate Terbaru 2022 untuk Menambah Penghasilan

    Alvina Vivian

    05 December 2022
    6 min read

    Video