Published on

Expert's Corner

Podcast adalah: Pengertian, sejarah, jenis, dan 5 kesalahan umum

Algonz D.B. Raharja

podcast_adalah.jpg

Di era digital yang makin masif ini tentu kita tak asing lagi dengan apa yang disebut dengan “podcast”. Namun, belum tentu pula kita tahu dan paham tentang apa itu podcast, mesti beberapa kanal telah menyediakan platform untuk kegiatan ini dan dikenal sebagai podcasting dan podcaster bagi pelaku podcast. Tak hanya itu, beberapa nama besar di panggung YouTube pun memakai Podcast sebagai nama kanal mereka. Lantas. apa sih sebenarnya podcast ini?

Apa itu podcast?

Apa itu podcast?
Podcast masih menjadi salah satu marketing channel yang efektif hingga saat ini. (Sumber: Pexels)

Dilansir dari situs PodcastHero, podcast diartikan sebagai media digital yang terdiri dari serangkaian episode berkas audio, video, PDF, atau e-Pub yang bersifat langganan dan dapat diunduh melalui situs atau dialirkan secara daring ke komputer atau perangkat seluler. Lema podcast berasal dari “broadcast” dan “pod” yang merujuk pada kesuksesan iPod sebagai pemutar musik portable.

Podcast juga diartikan sebagai program radio yang disimpan dalam bentuk digital dan dapat diunduh melalui internet dan diputar di komputer maupun perangkat pemutar musik. Secara umum, podcast adalah sebuah program, baik musik atau pembicaraan, yang tersedia dalam format digital untuk diunduh secara otomatis melalui internet.

Baca Juga: Mengenal keberadaan data lake yang penting bagi bisnis

Sejarah podcast dari masa ke masa

Sejarah podcast dari masa ke masa
Podcast berkembang seiring tumbuhnya pengguna iPod dan munculnya layanan merekam pembicaraan untuk aplikasi pemutar musik (Sumber: Pexels)

Dari situs PodcastHero juga tertulis bahwa sebutan Podcast pertama kali muncul lewat artikel tulisan Ben Hammersley di majalah The Guardian tahun 2004 yang menyebutnya sebagai “audioblogging”, “podcast”, dan “guerillamedia”. 

1. 2004-2005: Awal Penamaan Podcast dan Istilah Sebelumnya

Di sisi lain, situs ElegantThemes, mencatat bahwa memang kemunculan podcast tak bisa lepas dari kesuksesan iPod yang digadang-gadang sebagai temuan termutakhir bagi alat pemutar musik digital di tahun 2004. Di tahun 2004 itu terdapat dua orang VJ MTV perancang I-Podder bernama Adam Curry dan Dave Winer yang membuat pengguna iPod dapat mengunduh siaran ke dalam perangkat iPod mereka. Dari sana kemudian muncul istilah podcasting atau “iPod broadcasting”.

Situs Voices juga mencatat bahwa provider podcast pertama muncul pada Oktober 2004 dengan nama Libsyn.com atau Liberated Syndication. Sejak saat itu, penggunaan kata “podcast” meluas di dunia maya hingga kini menjadi tren tersendiri seiring munculnya aplikasi pemutar musik dan juga layanan provider podcast yang beragam.

Setahun kemudian, pada tahun 2005, gemuruh seputar podcast makin meluas hingga lema “podcast” sendiri meraih sebutan word of the year dari Oxford American Dictionary. Tak cuma itu, podcast juga mendukung industri hiburan dengan berdirinya beberapa korporasi digital khusus untuk ranah ini. Terlebih ketika Yahoo! mengadakan kerja sama dengan Mommycast yang berisi pembicaraan dua orang ibu-ibu dari Virginia Utara, AS dan membahas tentang kesehatan serta nutrisi.

Perkembangan podcast makin melebar setelah banyak orang menggunakannya sebagai ranah diskusi publik. Dari yang semula semacam radio musik semata, pada tahun 2005 kegunaan podcast justru menyasar ke berbagai tema dalam masyarakat. Bahkan pada tahun itu pula, Apple.Inc memasukkan podcast ke dalam layanan musik mereka, iTunes Music Store.

2. 2006-2013: Perpaduan audio digital dengan live podcasting

Di masa itu, tepatnya tahun 2006, Steve Jobs dengan Apple Inc. langsung menggarap podcast dan mulai mengenalkan pembuatannya pada masyarakat secara langsung. Apple Inc. kemudian merilis GarageBand sebagai aplikasi gratis milik mereka sebagai salah satu perintis pembuatan podcast saat itu.

Tercatat ada Lance Anderson dan acaranya The Lance Anderson Podcast Experiment menjadi pelopor live podcasting yang menggebrak dunia audio-video terkait podcast ini. Bahkan, di tahun 2006 itu Podcast Award muncul dalam salah satu yang dinominasikan dalam People’s Choice Award.

Acara radio The American Life kemudian menyusul ingar-bingar podcasting pada Oktober 2006 dengan meluncurkan versi podcast dari acara itu. Selain Amerika Serikat, Inggris juga mengikuti gempita menyambut podcast dengan meluncurkan pidato natal Ratu Elizabeth dari Istana Buckingham pada Desember 2006 yang dapat diunduh sebagai podcast.

Komedian ternama Inggris, Ricky Gervais juga menambah kepopuleran podcast setelah meraih Guinness World Record untuk podcast yang paling banyak diunduh pada tahun 2007. Saat itu podcast milik Ricky Gervais meraup unduhan sebanyak 250 ribu unduhan untuk tiap episodenya. 

Munculnya beberapa komedian televisi yang merambah ranah podcast menjadikan podcast diserbu banyak penggemar hingga tahun demi tahun berlalu. Bahkan acara live podcasting menjadi salah satu yang hingga kini tetap bertahan, di mana podcaster dapat tampil secara live melalui video dan tidak hanya dinikmati secara audio saja.

Baca Juga: Tren digital marketing di tahun 2019

3. 2014-sekarang: Mendunia dan mudah dibuat

2014-sekarang: Mendunia dan mudah dibuat
Podcast berkembang di Indonesia setelah maraknya pengguna platform aplikasi pemutar musik (Sumber: Pexels)

Tahun 2014 menjadi awal mula podcast mulai dikenal luas di luar AS dan Inggris. Jumlah pendengar yang makin bertumbuh membuat orang-orang juga penasaran untuk membuat podcast mereka sendiri. Di AS sendiri pendengar podcast bulanan berlipat ganda dalam kurun waktu lima tahun sejak 2014, dari 39 juta pendengar pada 2014 dan meningkat 90 juta pada 2019. 

Tak hanya itu,  media-media atau koran-koran besar seperti The New York Times pun mulai membaut podcast untuk melebarkan jurnalismenya. Masuknya jurnalisme ke dalam podcast membuat tema pembicaraan di dalam podcast menjadi semakin beragam dan makin dekat dengan masyarakat. Pelaporan dan rekaman berita utama dalam surat kabar diputar kembali dalam bentuk audio digital.

Dengan potensi pendengar yang banyak, podcast pun mulai dibanjiri iklan yang tayang lewat kanal-kanal podcaster. Hal ini mendukung industri dan sekaligus mengangkat kanal podcast sebagai bentuk baru media hingga Apple Inc. lagi-lagi mengeluarkan Apple’s Podcast Analytics pada tahun 2017 untuk mengetahui cakupan dari kanal-kanal podcast yang ada untuk melihat rerata pendengar dan keberhasilan mereka.

Di Indonesia sendiri perkembangan podcast diawali sekitar tahun 2005 oleh blogger Boy Avianto lewat podcast “Apa Saja Podcast” di situs blog miliknya. Kemunculan aplikasi Soundcloud pada 2008 membuat podcast mulai mudah dibuat. Pada tahun 2015, podcaster Iqbal Hariadi lewat Podcast Subjective mulai dikenal. Kemudian disusul oleh Adriano Qalbi dengan Podcast Awal Minggu pada tahun 2016. 

Kemunculan Spotify dan Anchor.fm juga mendukung berkembangnya podcast di Indonesia. Hal ini membuat pembuatan dan penyebarluasan suatu podcast menjadi lebih mudah dan menguntungkan bagi pembuat iklan di kanal-kanal podcast tertentu.

Baca Juga: 7 Cara membuat script video YouTube agar berada di peringkat atas

Jenis-jenis podcast

Jenis-jenis podcast
Jenis podcast berupa wawancara non-fiksi merupakan yang paling populer di kalangan podcaster (Sumber: Pexels)

Secara umum, jenis-jenis podcast dibagi menjadi 4 tipe sesuai tema podcasting. Menurut Voices, berikut ini adalah jenis-jenis podcast tersebut,

  • Podcast Naratif Non-Fiksi, jenis podcast ini adalah yang terpopuler namun cukup sulit dikuasai. Jenis podcast naratif non-fiksi umumnya didominasi oleh jurnalis yang pandai mendapatkan informasi secara mendalam tentang subjeknya. Podcast jenis ini menceritakan kembali kisah nyata orang lain melalui wawancara dan klip audio. Secara umum, podcast jenis ini berbentuk wawancara seputar kehidupan atau pendapat narasumber tentang suatu hal.
  • Interview and Conversational Podcast, podcast jenis ini dilakukan dengan gaya hosting populer dengan satu atau lebih tamu yang diwawancarai. Jenis podcast ini umumnya lebih pada diskusi antara host dan tamu tentang berbagai tema dengan memberikan sudut pandang berbeda kepada pendengar. Secara umum, tema podcast jenis ini adalah tentang politik atau berita populer yang dibahas bersama-sama dengan para tamu.
  • Hybrid Podcast, jenis podcast ini secara umum memang memiliki pembawa acara dan pembicara tamu, namun isinya dapat terdiri dari monolog, wawancara, diskusi, hingga adanya kontribusi dari media lain seperti video YouTube dan sebagainya.
  • Podcast Fiksi, podcast jenis ini umumnya berbentuk drama audio atau monolog yang menceritakan kisah dengan menggunakan skrip dan pengisi suara. Desain suara yang dipakai biasanya adalah muncul dan terbenam sesuai skrip. Podcast ini populer dengan contoh tema misteri dan cerita seram.

Baca Juga: 6 Poin penting kebijakan privasi WhatsApp yang baru

5 Kesalahan umum dalam membuat podcast

5 Kesalahan umum dalam membuat podcast
Inkonsistensi dalam membuat podcast dapat menyebabkan hilangnya jumlah pendengar (Sumber: Podcast)

Meski belakangan proses pembuatan podcast semakin mudah dan penyebarluasannya dapat didukung oleh berbagai aplikasi pemutar musik, namun beberapa kesalahan produksi tetap mungkin terjadi karena beberapa hal. Berikut ini adalah 5 kesalahan umum dalam pembuatan podcast,

1. Tidak memperhatikan SEO (Search Engine Optimization)

Podcast yang baik diproduksi dengan memperhatikan SEO. Hal ini dilakukan karena adanya algoritma di mesin pencarian yang akan memudahkan pendengar podcast menemukan podcast terkait keinginannya. Tema dan judul podcast juga perlu diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pendengar menemukannya.

Kualitas konten dalam podcast juga perlu diperhatikan dengan tema atau kata dengan kualitas tinggi sehingga Google sebagai mesin peramban dapat menemukannya dengan mudah. Tak hanya itu, gunakanlah kata kunci atau keywords dalam judul atau caption podcast yang hendak kamu buat. Cara mencari tren dan popularitas pilihan kata ini dapat dilihat dari Google Podcast.

2. Kurangnya pelibatan prospek audiens

Pemasaran podcast di ranah dunia maya perlu ditujukan secara jelas kepada audiens. Hal ini diatur agar podcast mendapat pendengar yang loyal dan selalu menunggu tiap rilisan episode baru. Persoalan engagement ini dapat didukung dengan adanya media sosial dan proses interaksi dengan pendengar atau penggemar podcast yang kamu buat.
Dengan adanya ulasan positif dari penggemar yang loyal, dapat dipastikan bahwa konten podcast milikimu akan viral oleh para pendengar baru. Cara untuk menggaet penggemar ini dapat dilakukan dengan membuat konten dan narasi konten podcast dengan fokus pada audiens. Tak hanya itu, gunakan pulau umpan-balik untuk mengembangkan tema podcast agar audiens merasa terlibat.

3. Lambatnya promosi kanal podcast

Salah satu hal yang menghambat suatu podcast dapat berkembang dan memiliki pendengar adalah karena lambatnya proses promosi. Salah satu cara untuk promosi yang paling mudah adalah lewat tautan-tautan atau link yang disebat lewat media sosial. Gunakanlah media sosial mayor seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya untuk mengundang teman-teman atau pengikut media sosialmu untuk mendengar podcast yang kamu buat.

Tak cuma itu, sebagai pembuat konten podcast kamu juga dapat merilis akun khusus untuk podcast milikmu. Akun ini bisa berupa situs maupun akun sederhana di kanal media sosial. Jika kamu memiliki koneksi lebih, maka lebih baik lagi jika kamu menjadi tamu dalam podcast dengan reputasi tinggi. Selain untuk mempromosikan diri lewat peranmu di sana, kamu juga bisa mempromosikan podcast milikmu di sana.

Baca Juga: 5 Rekomendasi software animasi 3D terbaik

4. Tidak ada pemasaran profesional

Jika podcast yang kamu bangun bertujuan pada profit, maka sudah sebaiknya kamu menggaet podcast marketing agency secara khusus. Agensi pemasaran khusus podcast ini akan menjadi asistenmu di bidang bisnis dan pemasaran lewat kampanye atau iklan pada podcast buatanmu. Tak hanya itu, mereka juga memberikan layanan pengelolaan podcast beserta tema dan gambaran pasarnya ke depan.

Keberadaan agensi pemasaran profesional juga dapat mendukung suatu podcast untuk mendapatkan audiens. Selain profit, kamu juga dapat mengembangkan podcast dengan konten-konten terkini dengan penjadwalan rilis yang tepat waktu dan tepat guna terkait tema-tema tertentu di masyarakat.

5. Hindari stagnasi dan inkonsistensi

Bagi pendengar, konsistensi pembuat konten podcast amat menentukan loyalitas mereka. Jika seorang pembuat podcast atau podcaster nampak stagnan dan tak berkembang, atau bahkan sering telat merilis episode barunya, maka pendengar pun kemungkinan besar akan berhenti berharap pada podcast tersebut.

Loyalitas pendengar bisa saja pudar begitu saja ketika seorang podcaster tidak mengikuti tren atau temanya sering berubah-ubah. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan dan penentuan tema bagi tiap konten podcast yang akan dibuat. Tema-tema bahasan ini sebisa mungkin tidak terpaut jauh, misalnya cerita seram dan misteri atau legenda jangan dicampur dengan bahasan bisnis yang sama sekali tak terkait. Konsistensi tema akan menjadi ciri khas tersendiri bagi sebuah podcast di telinga para penggemarnya.

Nah, begitulah tadi bagaimana perkembangan podcast dan bagaimana langkah-langkah yang perlu diperhatikan jika kamu ingin membuat podcast milikmu sendiri. Selain penting untuk mengembangkan diri, podcast juga dapat menjadi tempat untuk mendatangkan profit jika telah populer dan mendapat penggemar fanatik. 

Sebagaimana media sosial lainnya, podcast juga merupakan pasar yang baik bagi pengusaha untuk menampilkan iklan. Para pendengar yang tertarik akan mengenal suatu produk tertentu lewat podcast dengan selingan iklan. Meski begitu, terlalu banyak iklan dalam satu episode podcast juga akan membuat pendengar jengah. Jadi, pastikan kamu membangun podcast milikmu dengan konsisten dan tidak terlalu berlebihan dalam beriklan. Selamat mencoba.

sign up EKRUT

Sumber:

  • www.podcasthero.com
  • www.elegantthemes.com
  • www.voices.com

Tags

Share