Media

Penasaran apa saja konsep psikologi untuk konten marketing?
By Maria Yuniar - 7 September 2018
4 min read 171 Views

Apa hubungan psikologi dengan marketing? Kamu mungkin keduanya tidak berkaitan sama sekali. Ternyata, baik marketer konvensional maupun digital marketing profesional, mengadopsi teori psikologi sebagai pendekatan terhadap pelanggan. Strategi yang telah lama dijalankan ini, telah banyak membawa kesuksesan besar. 

Prinsip-prinsip psikologis memang banyak membantu, baik itu untuk membangun website, membuat tweet, maupun posting konten blog. Jadi, semakin banyak kamu mengetahui cara berpikir orang lain, maka semakin baik juga kamu bisa mendekati pelanggan. Apa saja sih prinsip psikologis yang sangat membantu marketing?

 

Kecerdasan kognitif

Sebuah studi pada 2012 menunjukkan bahwa pengunjung menilai sebuah website dalam 0,05 detik. Ini bahkan lebih cepat daripada kedipan mata. Sementara studi di tahun 2013 oleh Microsoft mencatat rentang perhatian orang telah menyempit menjadi delapan detik pada batas maksimum. Itulah mengapa orang-orang menyukai emoji, yang mampu mengkomunikasikan emosi dengan cara yang sederhana, sangat cepat. Ini berlaku untuk semuanya, mulai dari tweet hingga postingan blog.

Semakin mudah kontenmu dipahami, semakin besar kemungkinan untuk memikat audiens dan membuat mereka tetap terlibat. Kecerdasan kognitif menjelaskan alasan orang menyukai emoji. Emoji menjadi cara sederhana dan cepat untuk berkomunikasi. Nah, sebagai digital merketer atau content marketer, kamu perlu memahami hal ini. Pastikan kamu membuat konten blog yang ringkas dan menarik, serta postingan media sosial yang sederhana tapi mengenai target pemasaranmu.

 

Bukti partisipasi sosial

Pernah memikirkan betapa seringnya kamu belanja online? Atau cobalah pikirkan tentang pola belanja online pribadi kebanyakan rekan-rekan kerjamu. Apakah kamu hanya mengandalkan situs e-commerce untuk mendapatkan informasi? Atau apakah kamu meminta rekomendasi teman dan keluarga? Atau membaca sekumpulan ulasan sebelum melakukan pembelian? Apakah kamu memeriksa media sosial untuk pendapat atau penilaian?


Sumber: shoppingonline230.wordpress.com

 

Jika termasuk salah satunya, maka kamu seperti 69 persen dari populasi Amerika. Berdasarkan penelitian Mintel's American Lifestyles, lebih dari dua pertiga konsumen mempercayai kata teman, keluarga, dan bahkan orang asing atas konten pemasaran dari suatu merek. Mengapa demikian?

Ini dampak dari partisipasi sosial. Pada dasarnya, orang lebih termotivasi mengambil sebuah tindakan saat melihat orang lain telah melakukannya. Dalam hal marketing, baik itu ketika kamu membaca postingan di medsos, hingga melakukan pembelian. Jadi, seseorang lebih suka mengikuti jejak orang lain terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Jadi, sebagai digital marketer profesional, kamu perlu mengoptimalkan Facebook Ads dalam memasarkan konten penjualanmu.

 

Teori persepsi

Manusia adalah makhluk yang senang menjalani kebiasaan. Teori persepsi akan membantumu untuk mengadopsi fakta tersebut dalam memasarkan konten. Mungkin kamu pernah secara tidak sadar mencari tombol untuk mengunjungi sebuah landing page. Saat ini terjadi, sebenarnya kamu telah mengalami hal-hal perseptual.

Artinya, rasa ingin tahu sering mendorongmu untuk terus mencari jawaban dari setiap pertanyaanmu. Sebab, harapan setiap individu, terbentuk oleh pengalamamannya di masa lalu. Kita cenderung memilih hal yang ingin kita perhatikan, menyimpulkan cara kerja berdasarkan pengalaman, hingga mencari benang merah dari kondisi saat ini berbekal pengalaman di masa lalu. 

Jadi, dengan pengetahuan soal teori persepsi ini, apa yang bisa kamu lakukan sebagai marketer? Kamu bisa mengatur promosi dan menentukan target visitor website yang kamu bidik. Kamu bisa menyematkan call-to-action (CTA) dalam konten yang kamu posting. Sebab tanpa CTA, para pengunjung website bisa jadi bingung jika ingin tetap berpartisipasi terhadap kontenmu.

 

Model persuasi

Meskipun ada banyak model psikologis persuasi yang berbeda, model Fogg Behavior sangat berguna ketika merencanakan konten. Model persuasinya memperlihatkan cara untuk mendorong perilaku orang lain sesuai yang diinginkan. Visitor harus memiliki motivasi dan pemahaman yang baik untuk bisa melakukan konversi. Motivasi memang membawa pengaruh besar bagi pembeli, sekaligus menjadikan sebuah konten efektif.

Bagaimana caranya membuat konten yang efektif? Kamu harus menyertakan pesan yang kuat dan relevan. Pesan-pesan ini juga mesti bisa dipahami dengan mudah. Hal tersebut berkaitan dengan prinsip kognitif dan perseptual.

 

Psikologi warna

Hasil studi terbaru menunjukkan, orang-orang menilai sebuah produk baru dalam 90 detik setelah melihatnya. Sebanyak 90 persen penilaian, didasarkan pada warna. Oleh karena itu, warna menjadi hal penting bagi content marketer saat merancang halaman web, memilih gambar banner, hingga merencanakan video. 

Misalnya, warna biru dapat membantu membangun kepercayaan dan kesetiaan audiens. Merah mengkomunikasikan energi dan semangat, sementara kuning dapat menghadirkan optimisme serta keceriaan. Jika kamu ingin brand perusahaanmu membangkitkan rasa hormat terhadap alam, tetaplah gunakan nuansa hijau. 


Sumber: outsource-philippines.com

 

Konsep psikologi tersebut akan sangat berguna untuk konten marketing dan strategi pemasaran perusahaanmu. Selain hal-hal ini, kamu juga dapat dilakukan evaluasi dari channel marketing yang digunakan untuk promosi konten. Mana yang paling banyak memberikan traffic, atau mana yang paling sedikit memberikan dampak pada sales marketing?

 

Rekomendasi bacaan:
6 kunci desain grafik untuk non-desainer
5 tips agar kontenmu disukai pembaca
Selain Kaskus dan Blibli, Cermati juga terima dana Djarum

 

Sumber:
contentmarketinginstitute.com
medium.com
digitalentrepreneur.id
singlegrain.com
 

Tags:

  • psikologi
  • konten
  • content marketing
  • content
  • digital marketing
  • marketing
  • Share Group 1 Group 3 Group 4
    Bergabung dengan EKRUT

    Bergabung dengan EKRUT dan dapatkan pekerjaan impianmu!
    Daftar Sekarang