Published on

Expert's Corner

Psikologi warna: 10 Warna yang memengaruhi marketing dan branding

Nur Lella Junaedi

psikologi-warna-EKRUT.jpg

Keberadaan warna dalam marketing memiliki keterkaitan tersendiri, karena biasanya pelanggan akan lebih mudah mengenali merek dari warnanya. Warna inilah yang mampu mendatangkan kedekatan emosional kepada pelanggan. 

Tak heran bila dalam marketing, psikologi warna sangat diperhatikan. Suatu brand setidaknya harus memiliki warna khusus yang membedakannya dari kompetitor atau brand lain. 

Apa itu psikologi warna? 

psikologi warna EKRUT 
Psikologi warna adalah sebuah penelitian untuk melihat bagaimana warna mampu mempengaruhi manusia dalam mengambil tindakan - EKRUT

Psikologi warna adalah sebuah bidang penelitian yang melihat bagaimana warna bisa memengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan. Dalam pemasaran dan branding sendiri psikologi warna ini difokuskan pada pembahasan tentang bagaimana warna mampu memengaruhi kesan konsumen terhadap suatu produk dan pada akhirnya menimbulkan persuasi untuk membeli produk tersebut atau tidak.  

Contoh, saat kamu ingin membeli sebuah sepatu, yang kamu temukan adalah sepatu warna hitam namun yang kamu inginkan justru sepatu warna putih. Karena itulah kamu tidak jadi membeli produk sepatu tersebut, di sini terlihat kenapa keberadaan warna sangat mempengaruhi keputusan pelanggan.

Baca juga: Begini cara mengukur kepuasan pelanggan terhadap produk

Pengaruh psikologi warna terhadap keputusan konsumen

Pengaruh psikologi warna terhadap keputusan konsumen
Iklan berwarna cenderung lebih menarik perhatian publik daripada iklan hitam putih. (Sumber: Pexels)

Tidak semua marketer tahu bahwa warna dapat memengaruhi cara berpikir dan berperilaku seseorang. Dikutip dari convinceandconvert.com, iklan berwarna akan menarik perhatian publik 42% lebih banyak daripada iklan hitam putih. Hal itu tidak hanya berlaku pada pemasaran di ranah media sosial atau media cetak, tetapi juga pada materi penunjang pemasaran yang lain seperti kartu nama.

Ketika mata calon pelanggan bertemu dengan warna tertentu, mereka segera mengirim pesan ke otak. Setelah hitungan nanodetik memproses informasi, seseorang akan membuat penilaian tentang apa yang mereka lihat. Mereka bisa saja kemudian tertarik, bosan, atau bahkan mengabaikan. Persepsi warna berperan penting dalam proses ini karena akan mempengaruhi perilaku konsumen dan keputusan berikutnya yang akan diambil. Oleh karena itu, penting bagi para marketer untuk mempelajari teori warna karena hal ini akan membantu mereka dalam memasarkan produk atau layanan perusahaan.

Penggunaan harmoni warna juga berdampak pada psikologi iklan atau konten visual. Misalnya penggunaan warna komplementer dapat menciptakan efek yang kontras, sedangkan penggunaan warna yang berdekatan dalam color wheel, seperti merah, oranye, dan kuning, dapat memberikan nuansa yang tenang. Suasana atau pesan yang ingin disampaikan marketer kepada audiens dapat diciptakan melalui pemilihan atau penggunaan warna yang tepat.

Baca juga: Teori warna: Pengertian, tujuan, dan penerapan color wheel

M10 Psikologi warna yang umum digunakan dan maknanya

psikologi warna EKRUT 
Tiap warna memiliki makna psikologinya sendiri - EKRUT

Untuk memberi kamu gambaran tentang makna dari psikologi warna-warna itu sendiri, berikut ini penjelasan lengkapnya. 

1. Psikologi warna oranye 

Dalam psikologi warna, rona oranye mewakili makna keseimbangan, antusiasme, petualangan, kesuksesan dan kreativitas. Dalam ranah pemasaran warna oranye juga mampu menimbulkan perasaan yang gembira atau bahagia. Salah satu merek yang menggunakan warna oranye adalah perusahaan saluran tv anak Nickelodeon. Warna tersebut mewakili kreativitas dan antusiasme yang dibutuhkan oleh acara anak-anak melalui warna yang menyenangkan. 

2. Psikologi warna merah 

Penggunaan warna merah dalam pemasaran sering diartikan untuk menarik perhatian. Di samping itu makna psikologi warna merah adalah simbol dari kegembiraan, energi, kemarahan, gairah, dan tindakan. Contoh tindakan ketika beberapa merek menggunakan tombol merah yang mengartikan sebagai ajakan untuk ‘pesan sekarang’. Tidak heran bila dalam penggunaan situs, sebaiknya warna merah diletakkan untuk ajakan bertindak agar lebih terlihat. 

Penggunaan warna merah telah banyak dipakai oleh merek besar contohnya YouTube dan Coca Cola. Warna ini juga memiliki arti menambah nafsu makan, maka dari itu Coca Cola memakainya dalam proses branding.

3. Psikologi warna putih 

Penggunaan warna putih banyak digunakan dalam situs e-commerce atau dalam latar belakang sebuah situs atau produk. Melihat dari psikologi warnanya, rona putih mampu menunjukkan kebersihan, kerendahan hati, kebaikan dan kepolosan. Di samping itu warna putih juga memiliki arti negatif yang melambangkan kemandulan atau sikap yang dingin. 

Di luar sana kombinasi warna putih dan hitam selalu dianggap memiliki kedekatan masing-masing karena saling melengkapi. Dalam situs misalnya, kombinasi hitam dan putih dimaksudkan supaya konten mudah terlihat. Sangat jarang ditemui merek yang menggunakan warna putih sepenuhnya. Seringkali penggunaan warna putih akan dikombinasikan dengan warna hitam seperti pada Adidas yang menggunakan campuran warna hitam dan putih dalam logonya. 

Baca juga: Semakin berkembang, ini potensi e-commerce di Indonesia

4. Psikologi warna hitam

Bila putih banyak digunakan untuk situs e-commerce, maka warna hitam juga banyak digunakan untuk produk retail. Sebagaimana kita tahu warna ini memiliki arti keanggunan, kekuatan, misteri dan konsistensi. Sebaliknya warna ini juga memiliki makna kemarahan dan kesedihan. Di samping itu merek-merek fashion ternama banyak yang menggunakan hitam sebagai bagian dari logo mereka, contohnya seperti Nike dan Chanel. 

Seperti halnya Adidas, warna hitam yang terdapat dalam Chanel selalu dikombinasikan dengan warna putih dalam situsnya untuk memberi kesan konsisten. 

5. Psikologi warna biru

Warna biru selalu identik dengan laut atau langit yang mengisyaratkan kedamaian, ketenangan, harmoni, stabilitas, dan kepercayaan. Sebaliknya warna ini juga bisa menyimbolkan kesan negatif seperti orang yang dingin dan depresi. Warna biru bisa kamu gunakan dalam logo web atau navigasi bagian atas situs. Bahkan beberapa brand menambahkan sertifikasi jaminan kepercayaan dan ikon pengiriman gratis dengan memberikan aksen biru agar pelanggan percaya. 

Sudah banyak merek terkenal yang memakai warna ini dalam logonya seperti Facebook, EKRUT, Twitter, Skype, Oral B. Beberapa merek ini mengaktualisasikan logonya dengan warna biru untuk menunjukkan profesionalitas, andal, aman dan dapat dipercaya. 

6. Psikologi warna hijau 

Hijau identik dengan warna alam yang mengisyaratkan tentang pertumbuhan, kesuburan, kemurahan hati dan kesehatan. Hijau juga bisa berarti negatif yakni iri hati. 

Untuk kamu yang tertarik membuka usaha di bidang kesehatan, peletakkan warna hijau di logo dan latar belakang situs bisa menjadi pilihan terbaik.  Beberapa contoh penggunaan warna hijau di logo yang dilakukan oleh saluran televisi hewan dalam acara Animal Planet atau produk minuman kesehatan Tropicana. 

7. Psikologi warna kuning 

Makna di dalam psikologi warna kuning adalah untuk membangkitkan perasaan positif, optimis, bahagia dan ceria. Namun di samping itu warna ini juga mengisyaratkan sebuah peringatan dan tipu daya. Beberapa brand menggunakan warna kuning untuk diletakkan di bagian background atau border situs mereka. Beberapa juga ada yang menambahkan corak kuning sebagai di bagian pengiriman barang agar lebih terlihat.

Penggunaan warna ini bisa memberikan isyarat kepada pelanggan bila perusahaan berbudaya positif. Sementara itu, contoh merek yang menggunakan warna ini adalah IKEA dan Ferrari. 

8. Psikologi warna cokelat

Cokelat kerap dikaitkan sebagai warna yang membumi karena identik dengan warna tanah, kayu, dan batu. Warna cokelat sering digunakan untuk menggambarkan kenyamanan, keamanan, dan sifat yang rendah hati. Dalam pemasaran, kamu akan sering menemui warna cokelat digunakan untuk produk dan makanan alami. Warna ini juga muncul dalam logo, spanduk, atau bahkan teks karena kontras jika disandingkan dengan latar belakang putih. Beberapa brand yang menggunakan warna cokelat dalam logo dan materi pemasarannya yaitu UPS, Hershey's, and M&Ms.

9. Psikologi warna pink

Warna pink atau merah muda adalah warna populer untuk brand yang mempunyai sasaran audiens perempuan. Dalam psikologi warna, warna pink berkaitan dengan hal-hal yang feminin, ceria, kekanak-kanakan, dan ketulusan cinta. Beberapa brand memilih menggunakan warna pink untuk kemasan produk khususnya mainan anak perempuan, sedangkan brand lain menonjolkan warna pink pada logo, desain website, atau untuk menonjolkan pesan tertentu.

Karena makna warna pink mencakup feminitas, tidak mengherankan jika merek-merek seperti Victoria's Secret dan Barbie memilih menonjolkan warna ini dalam semua materi pemasaran mereka. Kemasan dan logo produk yang digunakan juga turut memperkuat warna pink feminin dalam branding mereka.

10. Psikologi warna ungu

Dalam psikologi warna, ungu identik dengan warna kerajaan. Arti warna tersebut berhubungan dengan kekuatan, kebangsawanan, kemewahan, kebijaksanaan, dan spiritualitas. Hindari menggunakan warna ini terlalu banyak karena dapat menyebabkan perasaan frustrasi atau arogan. Brand seperti Hallmark dan Yahoo menggunakan warna ungu sebagai bagian dari identitas mereka.

Baca juga: Catat, ini 10 tips desain UI/UX yang ‘menjual’

Penggunaan psikologi warna dalam marketing dan branding

psikologi warna EKRUT 
Alasan pentingnya psikologi warna salah satunya adalah untuk membedakan produk dari pesaing atau kompetitor lain - EKRUT

Pengetahuan terkait psikologi warna sebenarnya telah dilakukan sejak dulu, tepatnya saat warga Mesir mempelajari efek warna pada suasana hati dan menggunakannya untuk perkembangan holistik. Di masa itu beberapa warna memiliki makna tersendiri, seperti warna merah melambangkan peningkatan sirkulasi, biru untuk meredakan nyeri, oranye meningkatkan energi, kuning memurnikan tubuh dan hitam melambangkan kehidupan.

Pada akhirnya studi psikologi warna ini terus berkembang dan di bawa sampai psikologi modern. Salah satu pelaku psikologi modern adalah Carl Jung, seorang psikiater dari Swiss yang mengatakan bila manusia memiliki respon yang universal terhadap rangsangan warna. Ia juga mengungkapkan bahwa warna merupakan bahasa ibu dari alam bawah sadar manusia. Studi-studi inilah yang pada akhirnya membuka celah pengetahuan baru bahwa memang ada hubungannya warna dengan proses marketing atau branding

Seperti yang dilakukan oleh peneliti Satyendra Singh dalam penelitiannya berjudul Impact of color on marketing. Salah satu hasilnya menyebutkan bahwa sekitar 62 hingga 90 persen penilaian produk dari pelanggan didasarkan pada warna. Penggunaan warna tak hanya dapat membedakan produk dari pesaing melainkan juga mempengaruhi suasana hati positif dan negatif terhadap produk tertentu. 

Penelitian lain juga mengemukakan bila otak manusia lebih mudah menyukai merek yang dikenali dari warnanya, sehingga membuat posisi warna sangat penting bagi pemasaran. Tidak heran bila pada akhirnya seorang manajer pemasaran, iklan dan desainer harus mengerti pentingnya psikologi warna dalam branding suatu produk.

Baca juga: Mengenal pentingnya branding dalam bisnis

Dengan mengetahui beberapa makna dari psikologi warna diatas, kini para pelaku marketing bisa lebih memikirkan dampak dari penggunaan warna pada suatu brand agar apa yang direncanakan bisa memperoleh hasil yang lebih optimal. Kamu juga bisa cek lebih lanjut mengenai kreatif iklan yang efektif mendatangkan conversion melalui video di bawah ini. Jadi, sudahkah perusahaanmu menggunakan psikologi warna dalam marketing?

psikologi warna EKRUT
Last update: 11 Juni 2021

Sumber:

  • helpscout.com
  • keycolour.net
  • oberlo.com
  • convinceandconvert.com 

Tags

Share