Published on

Expert's Corner

Six Sigma: Pengertian, prinsip, metode, dan 8 teknik dalam sistem produksi perusahaan

Algonz D.B. Raharja

H1_Six_Sigma.jpg

Apakah kamu pernah mendengar tentang metode Six Sigma? Atau, mungkin kamu pernah berpengalaman dengan pekerjaan mengelola sistem produksi atau proses peningkatan kualitas di perusahaanmu? Nah, jika kamu penasaran apa yang dimaksud dengan Six Sigma dan bagaimana pengaruhnya dalam proses peningkatan kualitas perusahaan, maka mari simak ulasan berikut ini ya.

Apa itu six sigma?


Six Sigma merupakan metode yang menunjang bisnis perusahaan dengan mengelola koreksi produk atau operasional (Sumber: Pexels)

Menurut ASQ, Six Sigma merupakan metode yang menyediakan alat organisasi/institusi untuk meningkatkan kemampuan proses bisnis mereka. Six Sigma dapat menunjang peningkatan kinerja dan penurunan variasi proses yang mengarah pada pengurangan cacat serta peningkatan laba perusahaan. Tak hanya itu, Six Sigma juga dianggap mampu meningkatkan moral karyawan dan kualitas produk atau layanan perusahaan.

Dilansir dari isixsigma.com, Six Sigma memiliki sejarah panjang sebagai metodologi dalam pengelolaan manajemen produksi. Jika ditarik ke belakang, metode Six Sigma ini berakar pada standar pengukuran kurva normal milik Carl Friedrich Gauss. Selanjutnya, pada tahun 1920-an, Walter Shewhart menunjukkan bahwa tiga sigma dari rerata suatu proses koreksi. Standar pengukuran ini kemudian didukung dengan banyaknya varian baru hingga Mikel Harry dan Bill Smith dari Motorola menciptakan istilah Six Sigma pada tahun 1986 sebagai konsep pembaruan manajemen dengan kerangka pengukuran kualitas demi kemajuan bisnis.

Menurut Investopedia, Six Sigma berfokus pada perbaikan statistik untuk proses bisnis dan lantas menganjurkan pengukuran kualitatif untuk penanda keberhasilan manajemen. Praktisi Six Sigma secara umum adalah pebisnis yang menggunakan statistik, analisis keuangan, dan manajemen proyek untuk mencapai fungsionalitas bisnis lebih baik. Untuk dapat menguasai Six Sigma, seseorang perlu mengikuti program pelatihan dan sertifikasi yang mengajarkan prinsip-prinsip inti dari Six Sigma. Praktisi nantinya akan mendapat capaian yang berupa tingkat sertifikasi yang disebut “belt” mulai putih hingga hitam. 

Baca juga: Kenali metode Kanban dalam manajemen proyek

Prinsip-prinsip six sigma


Six Sigma memiliki prinsip utama untuk mengurangi pemborosan dan fokus pada esensi atau nilai (Sumber: Pexels)

Sesuai dengan proses penguasaannya, praktisi Six Sigma memerlukan pemahaman mendasar terhadap prinsip-prinsip Six Sigma secara umum. Adapun prinsip-prinsip Six Sigma itu antara lain meliputi beberapa hal berikut ini.

  • Selalu fokus pada pelanggan
  • Pemahaman tentang bagaimana suatu hal dikerjakan
  • Jadikan proses kerja mengalir dengan lancar
  • Kurangi pemborosan
  • Konsentrasi dan fokus pada nilai atau esensi
  • Hentikan potensi kecacatan produksi dengan menghapus variasi yang non-esensial
  • Dapatkan dukungan dari tim lewat kolaborasi
  • Membangun upaya yang sistematis dan ilmiah

Baca juga: 4 Perbedaan Kanban dan Scrum yang harus Website Developer ketahui

Metode six sigma


Metode umum dari Six Sigma adalah pendekatan DMAIC (Sumber: Pexels)

Proses Six Sigma didukung dengan metodologi praktis berupa pendekatan DMAIC (define measure, analyze, improve, control). 

Define merupakan proses penentuan akar masalah dan tujuan dari Six Sigma dalam suatu perusahaan. Measure adalah pengukuran masalah dan proses evaluasi terhadapnya. Analyze dilakukan dengan menganalisis proses untuk efisiensi dan peningkatan efektivitas. Improve diartikan dengan identifikasi terhadap pengembangan proses operasional dan perbaikan. Sedangkan Control adalah proses penilaian terhadap strategi pembaruan operasional.

Metode DMAIC merupakan metodologi berbasis statistik yang diterapkan perusahaan sebagai kerangka kerja mental untuk peningkatan proses bisnis. Metode ini berperan pula dalam membentuk ideologi bisnis dalam institusi dalam memecahkan masalah dalam perusahaan. Adapun langkah-langkah penerapan metode DMAIC yang dikenal dalam Six Sigma adalah sebagai berikut.

  • Sebuah tim harus dipimpin oleh seorang dengan sertifikasi Six Sigma
  • Tim tersebut perlu mendefinisikan proses yang keliru dari operasional perusahaan dan menjadikannya fokus penyelesaian masalah
  • Analisis tujuan dan penguraian masalah dikoordinasikan dengan kerja kolaboratif
  • Tim mengukur kinerja di awal proses dengan langkah statistik (mis. membuat daftar input potensial, pemahaman benchmark, dll)
  • Tim menganalisis proses dan melakukan isolasi pada setiap input atau masukan. Pastikan potensi kegagalan dan pengujian terhadap akar masalah dapat terpenuhi
  • Tim menggunakan analitis sebagai identifikasi alasan kesalahan proses
  • Tim mulai membangun solusi peningkatan kerja dan menambahkan kontrol pada proses untuk memastikan proses pembaruan tidak mundur dan lebih efektif

Baca juga: 5 Fungsi manajemen sebagai dasar membangun perusahaan

8 Teknik six sigma dalam sistem produksi perusahaan


Berikut delapan teknik Six Sigma. (Sumber: Pexels)

Meski terdiri dari berbagai teknik, Six Sigma dapat dilakukan dengan delapan teknik utama untuk pembaruan sistem produksi perusahaan. Kedelapan teknik Six Sigma yang umum dikenal itu adalah sebagai berikut.

1. Brainstorming


Brainstorming merupakan teknik Six Sigma untuk membangkitkan ide kolaboratif (Sumber: Pexels)

Menurut Australian Institute of Business, brainstorming merupakan proses perenungan ide oleh satu atau lebih individu dalam upaya untuk merancang atau menemukan solusi untuk suatu masalah. Brainstorming dapat diartikan sebagai proses bersama untuk membangkitkan ide dalam bisnis atau usaha. Kolaborasi ide yang dilakukan lewat brainstorming dapat menunjang praktik Six Sigma, khususnya pada proses define dan analisis.

2. Root Cause Analysis (RCA)

Teknik lain dalam Six Sigma adalah root cause analysis atau analisis akar masalah. Teknik ini berupa proses menemukan akar penyebab masalah untuk identifikasi solusi yang tepat. Teknik RCA dalam Six Sigma memiliki asumsi pokok bahwa memecahkan masalah dan mencegah permasalahan jauh lebih efektif daripada memperbaiki masalah ketika sudah terjadi. Secara umum, teknik RCA dalam Six Sigma memiliki beberapa prinsip antara lain meliputi.

  • Fokus pada koreksi dan perbaikan akar penyebab masalah, bukan gejala
  • Fokus pada pertanyaan “Bagaimana?” dan “Mengapa?”, bukan pada “Siapa?” yang bertanggung jawab
  • Fokus pada penemuan bukti sebab-akibat konkret terhadap akar masalah
  • Mengumpulkan informasi yang cukup untuk tindakan korektif
  • Mempertimbangkan potensi pencegahan dengan replikasi pola untuk permasalahan di masa mendatang

3. Suara konsumen


Salah satu sumber koreksi untuk Six Sigma adalah melalui suara konsumen (Sumber: Pexels)

Salah satu teknik Six Sigma yang umum dikenal adalah analisis operasional dan produk lewat suara konsumen. Adanya layanan suara konsumen dapat membantu tim analisis Six Sigma untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam perusahaan atau sebuah produk rilisan perusahaan tersebut. Melalui teknik suara konsumen ini nantinya perusahaan mendapat masukan dari konsumen tentang hal-hal yang perlu ditingkatkan dari sebuah produk atau bahkan dihilangkan dari suatu produk tersebut. 

4. 5R Systems

Sistem 5R merupakan salah satu metode pengelolaan tempat kerja yang dikenal di Jepang dengan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke. Sistem 5R mudah dikenal karena tujuannya untuk memperhatikan internal perusahaan dan dapat mengurangi pemborosan waktu dalam kinerja karyawan. Sistem 5R dapat menunjang Six Sigma dalam proses kolaborasi dan peningkatan produktivitas di tempat kerja. Adapun lima hal utama dalam 5R ini meliputi.

  • Ringkas, yaitu menuntut organisasi dapat mengatur dan mengelola segala sesuatu di tempat kerja dengan aturan dan prinsip tertentu. Penghapusan stratifikasi atau birokrasi yang rumit dalam internal perusahaan adalah salah satu contoh penerapan teknik ini.
  • Rapi, berarti organisasi mampu melakukan pengelolaan inventaris barang dengan baik dan tepat serta penggunaannya dapat efisien dan efektif. Contohnya adalah dengan adanya indeks barang untuk memudahkan pencarian barang di kantor.
  • Resik, merupakan ide untuk membuat suatu tempat kerja atau tempat di mana organisasi bekerja bersih dari barang-barang dan kotoran yang tidak perlu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan iklim kerja yang kondusif.
  • Rawat, dapat didefinisikan sebagai cara untuk memelihara inventaris dan aspek fisik dari suatu tempat kerja. Hal ini dapat menunjang proses kolaborasi di tempat kerja secara maksimal.
  • Rajin, teknik ini secara ide dan penerapan berlaku untuk sumber daya manusia dalam suatu organisasi agar dapat melakukan sesuatu dengan cara yang benar dan tepat guna.

Baca juga: Manajemen produksi: Definisi, tujuan, fungsi, dan ruang lingkupnya

5. Kaizen


Teknik Kaizen dipakai untuk melakukan perbaikan demi peningkatan kualitas produk atau sistem kerja (Sumber: Pexels)

Serupa dengan Sistem 5R yang juga berasal dari Jepang, begitu halnya dengan Kaizen sebagai teknik populer dalam Six Sigma. Teknik ini umum diadopsi di beberapa perusahaan sebagai salah satu metode yang memudahkan operasional dan produksi. Secara etimologis, Kaizen berasal dari kata “Kai” yang berarti perubahan dan “Zen” yang berarti kebaikan. Kaizen dapat diartikan utuh sebagai perubahan untuk kebaikan atau semuanya bisa diperbaiki.

Teknik Kaizen umum digunakan sebagai bagian dari Six Sigma untuk melakukan perbaikan terus-menerus dengan tujuan meminimalkan pemborosan, meningkatkan kepuasan pelanggan, menambah prosedur bisnis, dan memaksimalkan efisiensi operasional perusahaan.

6. Benchmarking

Benchmarking merupakan teknik umum dalam Six Sigma karena mudah dan pasti dilakukan oleh berbagai jenis usaha atau bisnis. Benchmarking adalah proses yang melibatkan pengukuran kinerja suatu bisnis terhadap pesaing di pasar produksi serupa. Teknik benchmarking dapat memberi suatu pengusaha sebuah pemahaman yang lebih baik dan membuka potensi bisnis tertentu atas produk dengan persaingan ketat. Proses benchmarking atau pembandingan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti:

  • Mengidentifikasi dan memprioritaskan bagian bisnis yang nantinya dapat ditingkatkan
  • Memahami kebutuhan pelanggan di pasar dengan lebih baik
  • Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan produk
  • Penetapan tujuan dan ekspektasi kinerja
  • Memantau kinerja dan mengelola perubahan dalam perusahaan dengan lebih efektif
  • Memahami pesaing atau kompetitor untuk tetap mampu bersaing secara kompetitif

7. Poka-yoke


Teknik Poka-yoke digunakan dalam Six Sigma untuk mengontrol kesalahan manusia dalam proses produksi (Sumber: Pexels)

Serupa dengan 5R dan Kaizen, teknik Poka-yoke juga berasal dari Jepang. Teknik ini diciptakan oleh Shigeo Shingo dari Toyota pada tahun 1960-an. Teknik Poka-yoke juga sering dikombinasikan dengan zero quality control dengan tujuan memperbaiki kemungkinan cacat dan inspeksi sumber dalam upaya mencegah kecacatan produk.

Teknik ini secara literal berarti “pemeriksaan kesalahan” atau “yokeru poka” yang berarti menghindari kesalahan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, teknik Poka-yoke dilakukan dengan memastikan bahwa suatu kondisi harus dinilai secara tepat sebelum langkah untuk proses selanjutnya dijalankan. Hal ini merupakan upaya utama untuk menghilangkan kecacatan dalam proses produksi.

8. Value Stream Mapping (VSM)

Value Stream Mapping adalah teknik pemetaan aliran nilai yang dapat memungkinkan pengusaha membuat visualisasi mendetail dari semua langkah dalam proses kerja atau operasional produksi. Dalam Six Sigma, identifikasi aliran nilai atau VSM ini berperan dalam representasi aliran barang ke pemasok dan nantinya ke pelanggan secara lancar dan baik. VSM akan menampilkan semua langkah penting dari proses kerja suatu perusahaan dari awal hingga akhir. Tak hanya itu, VSM juga dapat memberi data visual setiap tugas dari tim kerja dan memberikan laporan status tentang kemajuan setiap subjek kerja. VSM sering digunakan dalam proses quality check (QC) sebelum produk siap dipasarkan.

Secara umum, Six Sigma dilakukan untuk mengelola dan mempertegas proses operasional perusahaan dengan baik dan tertata. Six Sigma memiliki tujuan utama untuk mengurang beban yang tidak esensial dalam pembiayaan perusahaan untuk operasional dan produksi. Oleh karena itu, Six Sigma perlu dilakukan dengan sistematis melalui metode-metode yang telah dijelaskan di atas.

Baca juga: 5 Jenis program kerja yang efektif dan 3 contohnya

Buat kamu yang penasaran dengan penerapan Six Sigma, tentunya tidak cukup dengan membaca ulasan ini. Kamu perlu terjun langsung ke dalam operasional suatu perusahaan dengan baik. Caranya? Tentu saja, kamu perlu terlebih dahulu untuk mencari pekerjaan yang sesuai denganmu.

Jika kamu bingung untuk mencari pekerjaan, maka EKRUT bisa menjadi jawabanmu. Kamu bisa mendaftar lewat EKRUT untuk dapat ditemukan oleh berbagai perusahaan yang juga tengah mencari kandidat karyawan baru. Klik tautan di bawah ini untuk mulai mendaftar lewat EKRUT.

sign up EKRUT

Sumber:

  • asq.org
  • investopedia.com
  • isixsigma.com

Tags

Share