Published on

Careers

Apa itu budaya organisasi? Berikut 7 karakteristik dan contohnya

Algonz D.B. Raharja

H1_Budaya_Organisasi.jpg

Dalam kehidupan organisasi, terdapat apa yang disebut dengan budaya organisasi. Budaya organisasi secara tidak langsung akan memengaruhi cara hidup atau tata perilaku seseorang yang ada dalam suatu organisasi. Budaya organisasi juga dikenal sebagai patokan arah organisasi serta anggotanya dalam menjalankan peranannya masing-masing. Lantas, apa yang dimaksud budaya organisasi itu?

Apa itu budaya organisasi?

apa itu budaya organisasi
Budaya organisasi dapat memengaruhi anggotanya tanpa sadar (Sumber: Pexels)

Budaya organisasi merupakan frasa kultural kontemporer yang dikembangkan oleh seorang psikolog sosial bernama Edgar Schein, seorang guru besar dari Sloan School of Management, Massachusetts Institute of Technology. Schein menulis bukunya yang berjudul “Organizational Culture and Leadership” pada tahun 1985 dan lantas menjadi buku babon yang mencakup antropologi bisnis dan psikologi, khususnya tentang budaya organisasi.

Menurut Schein dalam bukunya, budaya organisasi diartikan sebagai budaya kelompok berupa pola asumsi dasar yang dipelajari bersama saat memecahkan masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal. Budaya organisasi dianggap pula sebagai pijakan asumsi bersama yang sah dan telah berguna baik dalam sebuah organisasi dan lantas diajarkan kepada setiap anggota untuk memahami, berpikir, dan merasakan setiap masalah dalam organsasi.

Seperti halnya pemahaman arti “budaya” dalam ilmu antropologi, Schein juga lantas meyakini bahwa budaya organisasi juga memiliki banyak pemaknaan simbolis dan lapisan kognitif. Oleh karenanya, Schein membagi asumsi dasar yang mendasari sebuah budaya organisasi ke dalam tiga hal. Ketiga hal ini adalah artefak, nilai yang dianut, dan asumsi dasar. 

Artefak adalah apa yang dapat diamati dan mewakili sikap, perilaku, dan keyakinan dalam suatu budaya organisasi. Hal ini berarti juga meliputi aspek fisik seperti teknologi dan lingkungan hingga pakaian. Dalam budaya organisasi, artefak menjadi tolok ukur observasi yang dapat dilakukan oleh tiap individu anggotanya.

Nilai yang dianut adalah cerminan perilaku yang tak dapat disangkal dan mendapatkan penerimaan jangka panjang. Nilai ini umumnya adalah sesuatu yang diperjuangkan oleh pimpinan organisasi dan para pengelolanya. Meski sejatinya nilai-nilai yang dianut ini berbeda tiap individu, namun dalam budaya organisasi nilai acuan yang dipakai umumnya berasal dari beberapa pemimpin berpengaruh. Hal ini nantinya akan berdampak pada perilaku umum organisasi beserta anggotanya.

Asumsi dasar adalah suatu hal yang mendasari determinan dari sikap organisasi yang berisi pemikiran, proses, dan tindakan. Asumsi dasar adalah pusat dari budaya organisasi yang diyakini secara tidak sadar, tiap individu anggota akan terpengaruh oleh nilai-nilai ini. Selain menimbulkan rasa aman, nilai yang dianut juga memberikan dorongan intrinsik bagi seorang anggota dalam organisasi tertentu. Asumsi dasar akan mendapatkan penerimaan jangka panjang di kalangan anggota organisasi. 

Bagaimana budaya organisasi terbentuk

bagaimana organisasi terbentuk
Budaya organisasi terbentuk dari paduan beberapa aspek budaya secara umum (Sumber: Pexels)

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, budaya organisasi terbentuk atas tiga aspek utama dalam kebudayaan yaitu artefak, nilai, dan asumsi. Namun, dalam prosesnya, pembentukan budaya organisasi ini terbagi lagi menjadi dua hal yaitu aspek yang terlihat dan tidak terlihat.

Aspek yang tak terlihat dari pembentukan budaya organisasi ini meliputi nilai yang dianut, sikap, asumsi, dan keyakinan. Keempat hal ini menjadi fondasi non-realis yang berada dalam struktur budaya organisasi dan cukup sulit dianalisis karena masuk dalam unsur intrinsik akal atau psikologis anggota organisasi secara umum.

Di samping itu, aspek yang terlihat dari budaya organisasi dibagi lagi menjadi dua yaitu artefak dan tingkah laku. Pertama, artefak atau hal-hal fisik yang dapat meliputi pakaian, garis produksi, rambu-rambu organisasi, publikasi, dan berbagai hal fisik dari suatu organisasi lainnya. Kedua, perilaku atau tingkah laku dalam budaya organisasi dapat dimisalkan seperti laporan finansial, perekrutan anggota, hingga pelatihan anggota.

Dalam perkembangannya, budaya organisasi juga nantinya dikenal sebagai budaya perusahaan di mana sifatnya mewakili perilaku kolektif dari orang-orang yang menggunakan visi, tujuan, nilai, sikap, kebiasaan, bahasa kerja, sistem, dan simbol perusahaan yang sama. Pembentukan budaya organisasi pada kasus ini dapat terjadi oleh karena sinergi antara proses, teknologi, pembelajaran, dan nilai-nilai organisasi yang dianut.

Baca juga: 7 Jenis struktur organisasi perusahaan yang perlu diketahui

Tipe budaya organisasi

tipe budaya organisasi
Organisasi memiliki empat tipe utama (Sumber: Pexels)

Sejatinya, budaya organisasi memiliki empat tipe utama yang meliputi hierarchy culture, market culture, adhocracy culture, dan clan culture. Keempat tipe utama ini dipakai sebagai Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) dan digagas oleh Kim Cameron dan Robert Quinn dari University of Michigan. Namun demikian, jika diringkas, keempat tipe ini masuk dalam dua tipe utama budaya organisasi yang adalah sebagai berikut:

1. Open and participatory culture

Seperti namanya, tipe budaya organisasi jenis ini bersifat terbuka dan memungkinkan adanya partisipasi atau kolaborasi di dalamnya. Jika mengacu pada OCAI, maka yang masuk ke dalam tipe budaya organisasi ini adalah market culture dan adhocracy culture.

Adhocracy culture merupakan budaya organisasi yang bertumpu pada inovasi dan pengembangan produk organisasi. Fokus dari adhocracy culture adalah diferensiasi eksternal dan ide-ide baru yang erat kaitannya dengan pertumbuhan pasar dan kesuksesan organisasi atau perusahaan. Aspek penting dari budaya organisasi jenis ini adalah fleksibilitas dan keterbukaan.

Sedangkan, market culture adalah budaya organisasi yang menekankan stabilitas dan kontrol dan bertumpu pada fokus eksternal. Budaya organisasi jenis ini memprioritaskan profitabilitas dan evaluasi atas pemasaran produk organisasi atau perusahaan. Budaya organisasi pasar juga dikenal dengan penekanan pemenuhan kuota, capaian target, dan hasil. Budaya organisasi ini bertumpu pada tindakan partisipatif.

2. Close and autocratic culture

close and autocratic culture
Budaya organisasi hierarkis bersifat struktural dan bertujuan membangun stabilitas (Sumber: Pexels)

Tipe budaya organisasi autokrasi dan tertutup secara umum memang bersifat tertutup pada internal organisasi. Jika mengacu pada OCAI, maka jenis budaya organisasi yang masuk tipe budaya organisasi ini adalah clan culture dan hierarchy culture.

Clan culture adalah budaya organisasi yang berfokus pada orang atau individu dalam suatu organisasi. Budaya organisasi jenis ini bersifat internal atau tertutup dan mengedepankan aspek kolaboratif. Meski begitu, budaya organisasi jenis ini juga bersifat horizontal dan tidak memakai sistem struktur dalam orientasi tindakannya. Budaya organisasi ini lebih bertumpu pada perubahan dan fleksibilitas internal. 

Sedangkan, hierarchy culture adalah budaya organisasi yang bertumpu pada stabilitas dan kontrol. Budaya organisasi jenis juga dapat diartikan sebagai budaya yang memtahui struktur organisasi internal melalui suatu rantai komando yang jelas. Budaya organisasi hierarkis bersifat autokratis sebab aturan dan struktur yang kaku harus dipakai untuk membuatnya stabil dan terhindar dari risiko.

Baca juga: Kenali perbedaan generasi milenial dan generasi Z dalam dunia kerja

7 Karakteristik budaya organisasi

Mengelola organisasi seperti sebuah petualangan di arus sungai, di mana kita perlu membaca tanda, membaca sungai itu sendiri, dan juga melakukan pengukuran pada titik yang tepat saat meletakkan dayung untuk melajukan perahu. Budaya organisasi adalah langkah-langkah menguasai perahu ini, ia memiliki berbagai karakteristik yang dapat membuatnya tetap mengapung dan berjalan menyusuri sungai. 

Adapun 7 karakteristik budaya organisasi menurut John McLaughlin yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengelola perusahaan atau organisasi adalah sebagai berikut:

1. Innovation and risk orientation

Karakter pertama ini didapat dari suatu organisasi dengan budaya organisasi yang menempatkan nilai tinggi pada inovasi yang mendorong anggotanya untuk mengambil risiko dan berani mengeluarkan ide atau gagasan baru dalam kinerja mereka. Karakter budaya organisasi ini menempatkan ide dan keberanian sebagai tolok ukur utamanya.

2. Attention to detail (precision orientation)

attention to detail
Berorientasi pada detail merupakan salah satu karakter budaya organisasi (Sumber: Pexels)

Karakteristik budaya organisasi ini berarti adanya penentuan sejauh mana anggota diharapkan dapat mencapai akurasi tertentu dalam pekerjaan mereka. Budaya organisasi yang menempatkan nilai tinggi pada perhatian terhadap detail engharapkan anggotanya untuk bekerja secara presisi.

3. Emphasis on outcome (achievement orientation)

Karakter budaya organisasi jenis ini berfokus pada hasil, tetapi bukan bukan bagaimana hasil tersebut dicapai, melainkan pada tercapainya nilai budaya organisasi saat meraih hasil tertentu. Secara umum karakteristik ini mementingkan proses bagaimana anggota-anggota organisasi mampu mengimplementasikan nilai budaya organisasi dalam memperoleh hasil tertentu. Karakter ini juga dapat dikaitkan dengan integritas.

Baca juga: Cara-cara jitu tingkatkan rekrutmen perusahaan

4. Emphasis on people (fairness orientation)

Karakter budaya organisasi ini merupakan budaya yang menempatkan nilai tinggi pada karakteristik perorangan. Hal ini amat penting bagi suatu organisasi untuk dapat mengelola keputusan bersama dan saling memberi pengaruh bagi tiap anggotanya. Selain itu, hal terpenting dari karakter ini adalah perlakuan organisasi terhadap anggotanya juga harus penuh hormat dan bermartabat.

5. Teamwork (collaboration orientation)

teamwork
Kerja sama tim merupakan salah satu karakter budaya perusahaan (Sumber: Pexels)

Budaya organisasi dengan karakter ini akan berpengaruh pada penyelenggaraan kegiatan kerja organisasi yang bertumpu pada sinergi kelompok. Para anggota organisasi diharapkan memiliki hubungan positif dengan rekan kerja maupun atasan mereka demi tercapainya tujuan organisasi atau capaian hasil tertentu dengan sebaik mungkin.

6. Aggressiveness (competitive orientation)

Karakteristik budaya organisasi jenis ini menentukan apakah anggota organisasi dapat bersikap tegas ata santai saat berhadapan dengan organisasi pesaing. Organisasi dengan budaya organisasi agresif menempatkan nilai tinggi pada daya saing untuk menungguli pesaing dengan segala cara.

7. Stability (rule orientation)

stability
Stabilitas merupakan salah satu karakter acuan yang dihasilkan budaya organisasi (Sumber: Pexels)

Budaya organisasi dengan karakter ini menempatkan nilai tingi pada stabilitas dan berorientasi pada aturan. Sifat utama dari karakteristik ini adalah adanya birokrasi. Budaya organisasi jenis ini akan memberikat tingkat capaian yang konsisten serta dapat diprediksi. Organisasi dengan karakter budaya organisasi jenis ini juga umumnya akan beroperasi paling baik dalam kondisi pasar yang bersifat tetap.

Baca juga: 7 Mindset orang sukses yang harus kamu miliki

4 Contoh budaya organisasi

contoh budaya organisasi
Kedisiplinan merupakan salah satu budaya organisasi (Sumber: Pexels)

Setelah memahami apa dan bagaimana itu budaya organisasi, maka sebaiknya kita melengkapinya dengan beberapa contoh budaya organisasi dalam dunia bisnis atau usaha. Berikut ini adalah 4 contoh budaya organisasi tersebut.

1. Kedisiplinan

kedisiplinan
Disiplin merupakan salah satu contoh budaya organisasi yang ada di setiap organisasi (Sumber: Pexels)

Kedisiplinian adalah contoh budaya organisasi paling umum karena hampir terdapat di setiap instansi atau perusahaan. Kedisiplinan ini erat hubungannya dengan tipe budaya organisasi tertutup dan fokus internal. Meski dalam beberapa kasus kedisiplinan juga berurusan dengan pihak eksternal perusahaan. Hal ini dapat dicontohkan dengan ketepatan waktu masuk kantor atau saat memiliki janji dengan klien.

2. Administrasi

Administrasi adalah contoh budaya organisasi yang berorientasi pada keteraturan dan stabilitas operasional suatu organisasi atau perusahaan. Hal ini dilakukan untuk memperlancar siklus kinerja perusahaan secara umum. Contoh dari budaya organisasi ini adalah adanya pengelolaan pendapatan pegawai, absensi, pengadaan barang dan jasa, serta lain-lain.

3. Inovasi

inovasi
Inovasi merupakan contoh budaya organisasi untuk mengembangkan capaian hasil suatu organisasi (Sumber: Pexels)

Seperti telah dijelaskan di atas, budaya organisasi inovasi merupakan suatu konsensus organsisasi yang berupa dorongan untuk memunculkan ide atau gagasan inovatif dari para anggotanya. Ide-ide kreatif dari anggota organisasi ini dapat menjadi lumbung penguat perencanaan produk dari organisasi kedepannya. Contoh dari budaya organisasi inovasi adalah diadakannya rapat terbuka terkait pengembangan produk dalam suatu industri.

Baca juga: Entrepereneur adalah: pengertian, tugas, 4 tipe, dan karakteristiknya

4. Pengelolaan wewenang

Seperti halnya tipe budaya organisasi hierarkis, budaya organisasi yang berupa pengelolaan wewenang berarti adanya pembagian wewenang antar anggota organisasi. Pengelolaan wewenang dalam suatu organisasi akan mempermudah operasional dan kinerja anggota sehingga tidak saling bertabrakan saat menjalankan tugasnya.

Secara umum, budaya organisasi atau budaya perusahaan dapat menjadi tolok ukur sekaligus acuan proses kinerja suatu organisasi beserta seluruh anggota. Melalui adanya budaya organisasi ini sebuah organisasi dan anggotanya akan lebih mudah beradaptasi dan melakukan pekerjaannya sesuai rambu-rambu yang ada dan juga mengikuti arahan dari nilai-nilai budaya organisasi yang ada.

SIGN UP EKRUT
Sumber:

  • Tharp, B. M. Defining "Culture" and "Organizational Culture".
  • Schein, E. H. 2004. Organizational Culture and Leadership.
  • ocai-online.com
  • builtin.com

 

Tags

Share