Published on

Expert's Corner

Mengenal green marketing, 3 Manfaat, dan contoh penerapannya

Algonz D.B. Raharja

green_marketing_adalah.jpg

Keberlangsungan bisnis, industri, dan ekonomi di dunia tak bisa terlepas dari faktor lingkungan alam sebagai sumber utama dari bahan baku. Tak cuma itu, alam juga menjadi tempat di mana proses berlangsung. Hal ini mau tak mau membuat industri memberi dampak tertentu bagi lingkungan dalam jangka waktu panjang maupun pendek. Oleh karena itu, lantas muncul sebuah konsep yang disebut green marketing untuk menyeimbangkan dampak negatif industri terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

Green marketing lantas dikenal sebagai metode atau praktik pemasaran yang menyesuaikan kehidupan industri dengan ramah lingkungan dan pendekatan pro lingkungan. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada realitas ekologis dan sosial dari sebuah pemasaran produk yang luas. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang green marketing, mari kita simak ulasan berikut.

Baca juga: Mengenal brand marketing dan strategi yang bisa digunakan

Apa itu green marketing?

Apa Itu Green Marketing
Melalui green marketing ini sebuah bisnis tumbuh dari pembiayaan hingga pemasaran yang berbasis pada kelestarian lingkungan dan memperhatikan setiap risiko lingkungan dalam proses produksinya. (Sumber: Pexels)

Dilansir Study.com, green marketing memiliki sejarah panjang yang bermula di Amerika Serikat saat penggunaan pestisida amat masif seiring bertumbuhnya pasar hasil pertanian di negeri itu tahun 1960-an. Setelah itu, pada peringatan Hari Bumi 22 April 1969 muncul tuntutan dan fokus kritis terhadap isu lingkungan dan industri yang berkaitan langsung dengan energi. Hal ini lantas diikuti dengan terbentuknya Environmental Protection Agency  (EPA) hingga berbagai pakta kesepahaman tentang perlindungan air, udara, hingga hewan langka.

Berbasis pada hal-hal tersebut di atas, kemudian sektor bisnis di Amerika Serikat mulai mengarahkan kebijakannya pada keberlanjutan lingkungan. Salah satu yang hadir lebih dulu adalah konsep sustainable development pada 1987 yang lantas diikuti dengan adanya pertanggungjawaban industri terhadap realitas sosial dan lingkungan lewat konsep corporate social responsibility (CSR) pada awal 1990-an. Tahun 1990-an ini menjadi masa awal green marketing mulai dikembangkan dalam sektor industri.

Lewat jurnal ilmiahnya, Surya dan Vijaya Banu dari Idhaya College for Woman Kumbakonam, India menyebut bahwa green marketing mengalami evolusi dari yang semula terpaku pada aspek “ekologis” lantas berkembang menjadi aspek “lingkungan” dan terakhir adalah fase “sustainable” atau berkelanjutan. Surya dan Vijaya Banu mendefinisikan green marketing sebagai proses penjualan produk dan/atau jasa berdasarkan manfaat lingkungan.

Produk atau layanan yang dijual lewat green marketing diharuskan untuk diproduksi dan dikemas secara ramah lingkungan. Asumsi umum dari green marketing adalah bahwa nantinya konsumen potensial akan melihat produk sebagai produk dengan manfaat tak hanya secara substansi tetap secara aspek lingkungan. 

Di sisi lain, Jay Polonsky dari University of Newcastle, Australia, dalam risalahnya mengungkap bahwa konsep green marketing sejatinya telah dicanangkan bahkan sejak tahun 1975. Hal ini mengacu pada sebuah workshop yang dihelat oleh The American Marketing Association (AMA) dengan tema “Ecological Marketing”. Kegiatan ini belakangan menghasilkan konsep mula-mula tentang pentingnya pemasaran berbasis ekologi.

Polonsky sendiri mulai mendefinisikan green marketing pada tahun 1994 dengan mengacu pada tiga hal utama dari pemasaran. Pertama, adalah green marketing merupakan bagian dari aktivitas pemasaran secara keseluruhan. Kedua, green marketing mengkaji baik kegiatan pemasaran positif maupun negatif. Dan ketiga, green marketing mencakup isu lingkungan dan pemeriksaan terhadap isu paling sempit dalam lingkungan.

Secara umum, Polonsky kemudian mendefinisikan green marketing sebagai sebuah aktivitas yang dirancang untuk menghasilkan dan memfasilitasi pertukaran apa pun dengan maksud untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia, sehingga pemuasan kebutuhan dan keinginan tersebut dapat terjadi, dengan dampak kerugian minimal terhadap lingkungan alam. 

Green marketing dan pembangunan berkelanjutan

Green marketing dan pembangunan berkelanjutan
Green marketing menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari sustainable development di bidang industri (Sumber: Pexels)

Seperti telah disinggung lewat sejarahnya, green marketing memang berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Hal ini dikarenakan adanya penerapan beberapa kebijakan di mana industri harus memiliki tanggung jawab langsung terhadap lingkungan dan komunitas sosial terdampak lewat beberapa program seperti CSR dan juga kebijakan produksi ramah lingkungan.

Prof. Rajeshkumar P. Patel, lewat risalahnya yang dimuat IOSR Journal of Business and Management menjelaskan bahwa green marketing adalah konsep yang lebih luas daripada sekadar promosi, iklan dan penjualan produk berbasis ramah lingkungan. Green marketing dibutuhkan dalam konsep Sustainable Development, itu sebabnya kedua hal ini saling berhubungan satu sama lain. Patel juga berpendapat bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya memerlukan upaya pemasaran yang kompetitif tetapi juga berkelanjutan secara ekologis.

Aspek penting green marketing dan pembangunan berkelanjutan menurut Patel adalah bahwa proses pemasaran berkelanjutan harus bisa memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, green marketing berfokus pada semua tindakan pemasaran dengan basis perlindungan lingkungan. Di sisi lain, generasi mendatang bertindak sebagai patokan atau acuan dari kebijakan industri dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Tujuan green marketing

Tujuan green marketing
Tujuan utama green marketing adalah memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati sumber daya alam yang berkualitas (Sumber: Pexels)

Dari penjelasan sebelumnya, kita dapat sedikit memahami tujuan green marketing secara umum yaitu keberlangsungan bisnis dengan perspektif lingkungan. Perusahaan yang mengembangkan dan meningkatkan produk atau layanan dengan konsep green marketing akan memiliki akses pasar dan keunggulan kompetitif. Hal ini dikarenakan aspek green marketing akan membuat konsumen atau pasar menaruh kepercayaan pada produk-produk dari perusahaan tersebut karena komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan.

Adapun tujuan-tujuan utama green marketing menurut Surya dan Vijaya Banu adalah sebagai berikut:

  • Memastikan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan
  • Menghemat uang dalam jangka panjang, meski biaya produksi di awal umumnya lebih besar
  • Membantu perusahaan memasarkan produk mereka dengan akses pasar baru yaitu konsumen berwawasan lingkungan yang membeli produk-produk dengan kualitas dan komitmen lingkungan tinggi
  • Kebanggaan dan rasa percaya diri perusahaan atas tanggung jawab industri mereka terhadap lingkungan

Baca Juga: 11 Skills yang dibutuhkan oleh marketing di tahun 2020

Komponen green marketing

Green production process
Proses produksi dalam green marketing dituntut untuk memperhatikan kelestarian lingkungan (Sumber: Pexels)

Dalam penerapannya, green marketing memiliki beberapa komponen utama yang membuatnya dapat bermanfaat tak hanya bagi konsumen tetapi juga perusahaan yang memproduksi barang atau jasa. Adapun komponen-komponen green marketing itu adalah:

1. Green production process

Komponen utama dari green marketing adalah green production process di mana suatu produk dibuat atau diproduksi dengan mengedepankan kaidah-kaidah lingkungan. Hal ini meliputi penguasaan sumber daya alam sebagai bahan baku, proses produksi, dan pengolahan limbang pasca produksi, hingga kemasan produk. Komponen green marketing yang satu ini amat berdampak bagi kepercayaan konsumen di masa mendatang serta komunitas sosial yang tinggal di sekitar lokasi produksi. 

Proses produksi yang berwawasan lingkungan juga akan meminimalisasi kesalahan-kesalahan atau pelanggaran hukum oleh perusahaan terhadap lingkungan masyarakat. Jika sebuah proses produksi dilakukan dengan wawasan lingkungan, maka bukan tidak mungkin hal itu akan mengurangi potensi konflik akibat kerusakan lingkungan yang dikarenakan proses industri.

2. Green financial affairs

Green financial affairs
Kesepakatan moneter yang pro lingkungan dituntut dalam green marketing (Sumber: Pexels)

Merujuk pada United Nations of Environmental Programme (UNEP) green financial affairs adalah komponen green marketing yang berbasis pada hubungan perbankan atau investasi dengan tolok ukur perlindungan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa green marketing harus mempertimbangkan perencanaan dan kesepakatan moneter dengan mencakup juga investasi terhadap perlindungan dan tanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi akibat adanya industri.

Green financial affairs merupakan komponen green marketing yang dapat dipromosikan melalui perubahan kebijakan pemerintah, harmonisasi insentif keuangan publik, peningkatan pembiayaan berorientasi lingkungan di berbagai sektor, dan pengambilan keputusan investasi dengan mengacu pada dimensi lingkungan. Hal ini secara langsung akan meningkatkan investasi dan pembiayaan ekonomi di sektor industri dan teknologi hijau.

3. Reason for being green

Komponen green marketing yang satu ini berarti bahwa seseorang memiliki alasan untuk mengubah perilakunya menjadi peduli kepada keberlanjutan lingkungan hidup. Hal ini dapat terjadi pada konsumen maupun perusahaan yang memproduksi barang atau jasa. Perusahaan dengan paradigma lingkungan akan mengarahkan metode green marketing dengan alasan-alasan kuat. Alasan-alasan ini yang nantinya tercermin lewat produk atau layanan mereka kepada konsumen.

4. Green customers

Green customers
Komponen green customers dapat menentukan pasar produk dari industri berbasis green marketing (Sumber: Pexels)

Komponen penting dan terakhir dari green marketing adalah green customers di mana wawasan konsumen tentang kepedulian lingkungan bertumbuh dari waktu ke waktu. Wawasan lingkungan para konsumen ini akan membentuk ceruk pasar tersendiri bagi suatu produk ramah lingkungan. Contohnya adalah produk-produk sedotan stainless steel yang belakangan ramai di pasaran sebagai perlawanan terhadap sedotan plastik yang dinilai tak ekonomis karena sekali pakai.

Bertumbuhnya green customers akan menunjang keberlangsungan lingkungan sekaligus kompetisi produk di pasaran. Hal ini nantinya akan berdampak positif pada kedua sisi baik bisnis maupun lingkungan itu sendiri.

Baca juga: 10 Kursus digital marketing paling relevan untuk dicoba

Manfaat berinvestasi pada green marketing

Manfaat berinvestasi pada green marketing
Kualitas produk green marketing umumnya akan lebih tahan lama (Sumber: Pexels)

Seiring dengan berkembangnya green finance maka green marketing juga akan bertumbuh melalui investasi dan pembiayaan produksi berbasis lingkungan. Dengan adanya wawasan lingkungan yang holistik, sebuah perusahaan dapat meyakinkan investor dengan berbagai manfaat dari green marketing. Adapun manfaat-manfaat itu adalah sebagai berikut,

1. Produk akan lebih awet

Secara umum, produk-produk berwawasan lingkungan dengan konsep green marketing akan lebih awet karena memang dirancang untuk dapat digunakan dalam waktu lama atau tidak sekali pakai. Produk semacam ini tentunya berkualitas tinggi dan tidak menimbulkan sampah atau limbah produk bekas dalam waktu cepat. Tentu saja, produk dengan ketahanan dan nilai guna dalam jangka waktu lama lebih ekonomis daripada produk sekali pakai. 

2. Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit

Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit
Nilai ekonomis dari green marketing didapat dari penggunaan bahan baku ramah lingkungan atau daur ulang (Sumber: Pexels)

Penyediaan bahan baku produk dengan metode green marketing bisa dibilang lebih terfokus pada sejumlah produk berkualitas tinggi. Hal ini membuat ketahanan produk tinggi dan tidak memerlukan banyak bahan baku serupa dalam waktu dekat. Hal ini akan membuat pembiayaan proses produksi memang sedikit lebih besar namun tidak terjadi dalam rentang waktu pendek, sehingga proyeksi keuntungan dapat diperhitungkan untuk mengisi sela waktu produksi ini.

Pembiayaan yang dilakukan dalam metode green marketing juga sebetulnya relatif lebih murah karena menggunakan bahan baku daur ulang atau ramah lingkungan. Minimalisasi penggunaan plastik juga akan mengurangi biaya bahan baku secara umum.

Baca juga: Panduan membuat marketing plan beserta contohnya

3. Mengubah pola pikir tentang lingkungan

Seiring dengan adanya komponen reason for being green dalam green marketing memang memungkinkan adanya perubahan pola pikir terhadap investor, perusahaan, hingga pasar secara umum. Perubahan pola pikir berbasis lingkungan ini terjadi karena meningkatnya kesadaran umum tentang efisiensi produk ramah lingkungan dan tanggung jawab bersama untuk menciptakan iklim ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan alam secara masif.

Strategi green marketing

Strategi green marketing
Green marketing memungkinkan perusahaan menggunakan strategi pro lingkungan yang menyeluruh sejak tahap investasi (Sumber: Pexels)

Strategi green marketing secara khusus dilakukan secara bertahap mulai dari tahap pembiayaan, proses produksi, hingga pemasaran. Kita sudah mengenal strategi awal seperti pembiayaan atau investasi dengan kesepakatan tertentu yang berbasis pada pengelolaan limbah hingga penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan. Lalu, proses produksi dilakukan dengan memperhatikan risiko-risiko kerusakan lingkungan di sekitar lokasi produksi agar tidak menimbulkan konflik.

Lalu pengemasan produk dan proses pemasaran juga dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai atau penggunaan kemasan berbahan ramah lingkungan yang mudah terurai. Proses promosi pun harus dikembangkan untuk tidak terpaku pada penggunaan baliho-baliho yang sulit didaur ulang, tetapi bisa menggunakan media sosial maupun papan promosi digital. Hal ini akan mengurangi dampak negatif produk terhadap lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan masyarakat.

Baca juga: 12 Jenis strategi pemasaran yang paling efektif

Contoh penerapan green marketing

Contoh penerapan green marketing
Green marketing dapat dicontohkan dari penggunaan kemasan produk yang mudah terurai (Sumber: Pexels)

Berbeda dengan CSR yang dapat diatur melalui kebijakan pemerintah, green marketing umumnya hadir dan ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri dengan harapan dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan green marketing secara umum yang dapat dilihat dari produk-produk di sekitar kira,

  • Penggunaan kemasan mudah terurai pada air minum dalam kemasan merek tertentu
  • Produksi alat makan ramah lingkungan dengan bahan paku yang mudah terurai maupun dapat dipakai kembali (reuse)
  • Pengelolaan limbah produksi dan diolah menjadi senyawa kimia yang dapat terurai
  • Pengajuan kredit pembiayaan modal dengan skema green finance
  • Pengadaan stasiun isi ulang produk seperti shampoo, sabun cair, deterjen, dan lain-lain untuk mengurangi produksi kemasan.

Nah, itulah tadi penjelasan tentang apa dan bagaimana green marketing berperan terhadap kehidupan bisnis sekaligus kelestarian lingkungan. Green marketing hadir sebagai bentuk tanggung jawab industri atau ekonomi secara luas terhadap lingkungan alam yang telah memberi banyak manfaat bagi pertumbuhan ekonomi secara global. Ditambah lagi, isu-isu lingkungan seperti pemanasan global dan meningkatnya jejak karbon akibat kegiatan industri juga kian ramai dibahas di dunia internasional.

Green marketing hadir sebagai metode sekaligus strategi untuk membentuk pola pikir pasar dan industri agar lebih ramah lingkungan. Untuk itulah hal ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh berbagai pemangku kepentingan di ranah bisnis baik mereka yang memproduksi barang maupun jasa.

sign up EKRUT

Sumber:

  • Next Lesson History of Green Marketing
  • Introduction to Green Marketing
  • An Introduction To Green Marketing

Tags

Share