Published on

Expert's Corner

Growth hacking: Bedanya dengan traditional marketing dan 5 cara menerapkannya

Tsalis Annisa

growth-hacking-EKRUT.jpg

Seiring berkembangnya dunia startup, istilah-istilah baru di dunia bisnis pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah growth hacking sebagai metode marketing. Lalu, apakah metode ini sama dengan marketing tradisional?

Nah, guna menjawab pertanyaan di atas, kali ini EKRUTtalks akan membahas mengenai growth hacking bersama dengan Fajar Widi yang merupakan Head of Strategic Partnerships & Business Analytics di Kumparan. Mulai dari apa itu growth hacking, hingga skill apa saja yang perlu dikuasai oleh seorang Growth Hacker. 

Apa itu growth hacking?

Apa itu growth hacking?
Growth hacking adalah strategi yang berfokus pada pertumbuhan perusahaan. (Sumber: Pexels)

Istilah "growth hacking" diciptakan oleh Sean Ellis, pendiri dan CEO GrowthHackers, pada tahun 2010. Growth hacking adalah istilah umum untuk strategi yang hanya berfokus pada growth atau pertumbuhan perusahaan. Biasanya, growth hacking digunakan dalam kaitannya dengan startup tahap awal yang membutuhkan pertumbuhan besar dalam waktu singkat dengan anggaran kecil. Tujuan dari strategi growth hacking secara umum adalah untuk mendapatkan pengguna atau pelanggan sebanyak mungkin dengan biaya yang sesedikit mungkin. 

Growth hacking vs traditional marketing

growth hacking EKRUT
 
Ada beberapa perbedaan mendasar antara growth hacking dan traditional marketing - EKRUT

Growth hacking dapat dikatakan sebagai cara baru dalam melakukan distribusi sebuah produk ke pasar. Cara yang dilakukan haruslah kreatif dan unik sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan perusahaannya dengan cepat. 

Ada 4 hal yang membedakan growth hack dengan marketing. Adapun ke empat hal tersebut adalah, people, approach, channel, dan process. Berikut ini adalah beberapa penjelasannya. 

1. People

Keputusan yang diambil pada traditional marketing umumnya diambil berdasarkan opini. Sementara di perusahaan startup yang menerapkan growth hacking, keputusan lebih dipengaruhi oleh data, termasuk data dari hasil testing market. Jika data menunjukkan bahwa startegi yang dilakukan tidak berhasil, akan dicoba cara yang lain. 

2. Approach

Selanjutnya dalam hal approach, traditional marketing umumnya cenderung membuat orang untuk menginginkan produk yang ditawarkan. Sedangkan dengan cara growth hack, perusahaan justru membuat produk yang memang dibutuhkan oleh konsumen. Jadi, pertama cari tahu apa masalah yang perlu diselesaikan di masyarakat, apa yang mereka butuhkan, lalu berusaha untuk hadir memberikan apa yang mereka butuhkan. 

3. Process

Jika biasanya traditional marketing fokus untuk melakukan brand awareness, maka growth hacking menggunakan metode yang istilahnya adalah pirates method. Di mana produk berusaha untuk mengakuisisi konsumen di pasar, tahu apa yang perlu dilakukan pada saat launching, bagaimana konsumen terus kembali menggunakan produk, hingga akhirnya revenue naik. 

4. Channel

Sedangkan dalam hal channel, traditional marketing umumnya sangat menggunakan promosi berbayar. Sedangkan growth hacking lebih mengarah kepada strategi yang mengeluarkan dana seminim mungkin atau bahkan tidak sama sekali, namun memberikan hasil terbaik. 

Baca juga: Mengenal growth hack marketing dan cara menyusun strateginya

Skills dan tools apa yang perlu dikuasai untuk menjadi seorang Growth Hacker?

growth hacking EKRUT 
Kemampuan SEO menjadi salah satu kemampuan yang diperlukan oleh growth hacker - EKRUT

Seorang Growth Hacker sebaiknya mengerti programming, SEO (search engine optimization), dan bisa menganalisis data. Lebih lengkap, berikut ini adalah kelompok skills yang diperlukan oleh seorang Growth Hacker

1. Fundamental skill

Seorang Growth Hacker diharapkan mampu melakukan data tracking dan analytics. Selain itu, ia juga perlu mengerti bagaimana perilaku psikologi konsumen dalam memutuskan sesuatu. Kemampuan ini pun akan lebih baik jika ditunjang keinginan ingin belajar yang keras dan memiliki rasa ingin tahu. 

2. Generalize skill

Adapun kemampuan yang termasuk ke dalam generalize skill adalah customer development, mengerti UI/UX, copy writing, visual desain, dan customer retention. 

3. Specialist skill

Specialist skill tidak perlu dimiliki oleh seorang Growth Hacker, jika tidak mampu boleh diserahkan kepada orang lain yang lebih ahli. Adapun kemampuan yang termasuk kepada specialist skill adalah, mengetahui CRO atau conversion rate optimization, performance marketing, referall program and virality, serta activation

Seiring berkembangnya zaman, perilaku pengguna juga akan berubah. Kita sebagai orang di balik industri harus lebih adaptif dengan perubahan zaman. Hal inilah yang kemudian memicu beragam istilah atau metode baru seperti growth hacking. 

Baca juga: Mengenal performance marketing dan kelebihannya bagi brand

Strategi growth hacking

Strategi growth hacking
Fokus growth hacking adalah content marketing, product marketing, dan advertising. (Sumber: Pexels)

Terdapat tiga bidang utama yang menjadi fokus dalam growth hacking, yaitu content marketing, product marketing, dan advertising. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

1. Content marketing

Content marketing adalah salah satu strategi growth hacking yang memerlukan biaya cukup rendah untuk menyebarkan product awareness. Aktivitas dalam content marketing antara lain membuat blog, konten media sosial, e-book, podcast, webinar, quiz, kerjasama dengan blogger untuk review produk, influencer marketing, SEO, dan lain sebagainya.

2. Product marketing

Product marketing mencakup teknik-teknik yang membuat produk milikmu menjadi lebih menarik dan membangun user base. Aktivitas dalam produk marketing antara lain memanfaatkan FOMO pengguna dengan cara menggunakan sistem pendaftaran khusus melalui undangan, menawarkan insentif melalui referral, gamifikasi proses onboarding, dan afiliasi marketing. 

3. Advertising

Growth hacker juga menggunakan social ads dan iklan bayar per klik (Pay-Per-Click Advertising) untuk meningkatkan brand awareness dan memperoleh leads.

5 Cara menerapkan strategi growth hacking

5 Cara menerapkan strategi growth hacking
Salah satu cara menerapkan strategi growth hacking adalah kolaborasi dengan brand lain. (Sumber: Pexels)

Setelah mengetahui strategi utama dalam growth hacking, berikut ini adalah 5 cara untuk menerapkan strategi growth hacking di atas.

1. Membuat daftar email sebelum product launching

Dalam strategi growth hacking, email marketing tetap menjadi cara yang efektif untuk menemukan leads dan memperoleh konversi. Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah berfokus membangun email list untuk bisa menjangkau audiens dan menyampaikan pesan secara efektif. Email marketing terbukti efektif membantu bisnis untuk membangun sensasi pra-peluncuran untuk produk atau acara apa pun.

2. Memanfaatkan program referral

Referral dari teman, keluarga, atau influencer cenderung lebih cepat untuk menghasilkan leads dibandingkan cara-cara yang lain. Selain itu, Cost Per Acquisition (CPA) program referral juga lebih murah sehingga memungkinkan untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan.

3. Melakukan kolaborasi dengan brand lain

Kolaborasi dengan brand lain adalah salah satu teknik growth hacking terbaik karena menghasilkan viralitas. Banyak brand telah menyadari fakta bahwa co-marketing and product partnership adalah strategi pemasaran pertumbuhan yang efektif. Selain itu, kolaborasi dengan brand lain ini juga bisa menghasilkan organic traffic menuju website milikmu. Tidak berhenti di situ, kolaborasi ini juga merupakan kesempatan untuk diliput menjadi berita dan akan meningkatkan visibilitas produk dan layananmu secara global.

4. Melakukan kerjasama dengan influencer

Berkolaborasi dengan influencer terkenal adalah cara ampuh untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Influencer yang memiliki lebih dari 50.000+ pengikut adalah yang paling berdampak. Pemasaran influencer jika dilakukan dengan benar dapat membantu bisnis apa pun untuk meningkatkan awareness dan mencapai reach yang besar. Memanfaatkan jangkauan dari influencer adalah growth hacking pemasaran yang hebat untuk pemula yang tidak mampu bersaing dengan brand besar dalam hal anggaran pemasaran. 

5. Membangun komunitas

Salah satu strategi growth hacking melalui media sosial terbaik membangun komunitas untuk kesuksesan bisnis. Ini bisa dilakukan dengan cara membuat grup Facebook di mana audiens akan terlibat dengan brand-mu. Pastikan bahwa kamu memberikan value untuk anggota komunitas mereka melalui grup tersebut. Mereka yang sebelumnya tidak mengetahui brand kamu bisa jadi tahu karena terinspirasi dari konten di dalam grup komunitas yang kamu buat.

Baca juga: 12 Jenis strategi pemasaran yang paling efektif beserta contohnya

Nah, agar kamu lebih paham lagi mengenai growth hacking, yuk dengarkan langsung bincang-bincang dengan Fajar Widi di podcast EKRUTtalks episode 5. Link-nya ada di bawah ini, ya! Sedangkan untuk kamu yang tertarik untuk bekerja sebagai Growth Hacker di berbagai startup ternama, kamu bisa daftarkan dirimu sekarang juga melalui EKRUT karena ada banyak peluang kerja untukmu yang bisa disesuaikan dengan kriteria yang kamu inginkan.

 

growth hacking - EKRUT 
Last update: 11 October 2021

Sumber:

  • Neilpatel.com
  • Optinmonster.com
  • Cloudways.com
 

Tags

Share