Published on

jobs

5 Perbedaan micro influencer vs macro influencer

Sherentina Rhany K

micro_influencer_adalah.jpg

Sebelum teknologi digital berkembang seperti sekarang, influencer marketing masih sebatas seseorang yang terkenal seperti selebriti dan blogger. Namun, sebelum bahas lebih lanjut, apakah kamu familiar dengan istilah influencer marketing? Ada apa saja jenis influencer marketing itu?

Untuk menambah wawasan kamu seputar influencer marketing, micro marketing, dan macro marketing, berikut penjelasan selengkapnya!

Mengenal influencer marketing

Mengenal influencer marketing
Syarat menjadi influencer marketing adalah memiliki kepercayaan yang tinggi dari pengikutnya di media sosial. (Sumber: Pexels)

Influencer marketing adalah strategi pemasaran dengan membangun citra suatu brand melalui seseorang dengan reputasi yang dipercaya dapat memberi pengaruh di media sosial. Influencer marketing dapat berjalan dengan cara melakukan endorsement suatu barang kepada influencer.

Influencer marketing dapat memiliki kredibilitas yang tinggi karena terciptanya hubungan yang erat antara influencer dengan pengikutnya di media sosial. Hal ini menyebabkan segala sesuatu yang direkomendasikan atau di–posting pada akun media sosial milik influencer memiliki pengaruh yang tinggi terhadap pengikutnya.

Maka dari itu dengan influencer marketing dapat mempermudah promosi produk kamu untuk lebih dikenal secara luas, bahkan tanpa susah payah target audiens kamu akan terbentuk dengan sendirinya. Influencer marketing terbagi ke dalam 2 tingkat, yaitu micro influencer dan macro influencer. Kira-kira, apa yang membedakan kedua tingkat tersebut? Intip penjelasan di bawah, yuk!

Baca juga : Mengetahui pentingnya influencer marketing dalam suatu brand

Micro influencer

Micro influencer
Jangkauan yang dimiliki micro influencer adalah tidak lebih dari 100.000 pengikut. (Sumber: Pexels)

Dilansir dari cmsware, micro influencer adalah seorang influencer yang memiliki jumlah pengikut di media sosial sebanyak 1.000 hingga 100.000. Walau begitu, micro influencer dipercaya memiliki hubungan yang lebih kuat jika dibanding dengan influencer lain. Hal tersebut disebabkan oleh pengikut micro influencer yang memiliki kecenderungan tinggi terhadap bidang yang sama. Bahkan telah menjadi rahasia umum jika perusahaan teknologi, termasuk Adobe dan Squarespace terlibat dalam suatu kampanye pemasaran micro influencer.

Baca juga : 6 Pekerjaan online yang cepat menghasilkan uang

Macro influencer

Macro influencer
Macro influencer dapat menjangkau audiens lebih dari micro influencer. (Sumber: Pexels)

Macro influencer merupakan seorang influencer yang memiliki cakupan lebih luas dibanding micro influencer, yaitu memiliki lebih dari 100.000 hingga 1.000.000 pengikut. Kebanyakan yang termasuk ke dalam macro influencer adalah seorang selebriti atau vlogger.

Dilansir dari xendit, dengan menggunakan macro influencer suatu bisnis atau brand dapat memiliki kontrol yang lebih besar saat menjalankan suatu kampanye. Pihak brand dapat memberi arahan yang tepat sesuai keinginannya kepada influencer, sehingga hasil dari kampanye tersebut dapat diprediksi. Dengan begitu, brand juga dapat membangun identitas maupun reputasi sesuai yang diinginkan.

Baca juga : 8 Tren digital marketing 2021 yang patut pemilik brand ketahui

5 Perbedaan micro influencer vs macro influencer

5 Perbedaan micro influencer vs macro influencer
Perbedaan utama macro influencer dan micro influencer adalah tingkat jangkauan yang dimiliki. (Sumber: Pexels)

Demi mencapai target sasaran yang tepat untuk bisnis kamu, simak penjelasan berikut mengenai apa saja perbedaan antara micro influencer dengan macro influencer yang perlu kamu ketahui.

1. Tingkat jangkauan

Perbedaan utama macro dengan micro influencer adalah terletak pada tingkat jangkauan. Micro influencer memiliki pengikut lebih sedikit dari macro influencer. Tentu hal tersebut menjadikan jangkauan yang dimiliki micro influencer adalah tidak seluas macro influencer.

2. Target sasaran

Jika bisnis kamu memiliki target audiens yang fokus terhadap satu bidang, maka kamu lebih cocok memilih strategi pemasaran menggunakan jasa micro influencer. Sebab, micro influencer adalah tipe influencer yang cenderung memiliki pengikut yang memiliki ketertarikan yang sama, contohnya bidang beauty.

3. Biaya

Memperhitungkan pengeluaran untuk influencer marketing penting untuk bisnis kamu, jika tidak biaya yang kamu keluarkan bisa saja sia-sia karena target audiens kamu tidak maksimal.  Apabila bisnis yang kamu miliki masih tergolong memiliki sektor kecil, micro influencer adalah pilihan yang lebih sesuai dengan bisnis kamu karena biaya yang dikeluarkan tergolong lebih murah. Namun, jika bisnis kamu sudah memiliki sektor pasar yang luas, kamu bisa memilih macro influencer.

4. Engagement rate

Dilansir dari Forbes, ternyata engagement rate yang dihasilkan oleh micro influencer adalah lebih tinggi daripada macro influencer, yaitu mencapai angka 60 persen. Oleh karena itu, walaupun memiliki pengikut yang sedikit, suatu brand dapat memperoleh nilai penjualan yang tinggi dari micro influencer. 

5. Pengalaman 

Berbicara tentang pengalaman, dikarenakan micro influencer adalah orang-orang yang belum lama menjajah dunia social media, maka macro influencer sudah lebih dulu merasakan lebih banyak pengalaman daripada micro influencer. Dilihat dari angka pengikut di media sosial macro influencer yang lebih banyak, dapat dikatakan jika macro influencer lebih berpengalaman tentang bagaimana mengatur strategi agar dapat hasil yang maksimal.

Baca juga : 5 Tips rahasia saat membangun startup marketing strategy

Tips melakukan influencer marketing yang tepat dan efektif

Tips melakukan influencer marketing yang tepat dan efektif
Penting untuk menentukan kualifikasi terhadap target influencer yang akan diajak kerjasama. (Sumber: Pexels)

Untuk dapat maksimal dalam menggunakan strategi pemasaran dengan influencer marketing, maka kamu harus memperhatikan beberapa kriteria untuk target influencer yang akan kamu ajak kerjasama. Untuk ulasan lebih lanjut simak beberapa tips di bawah ini, ya!

1. Tentukan target audiens

Tentukan target audiens
Kedekatan yang dimiliki oleh audiens dengan micro influencer adalah tergolong intens. (Sumber: Pexels)

Menentukan target audiens sangatlah penting sebelum melakukan influencer marketing. Selain berdasarkan intuisi, data dan analisa yang menjadi pertimbangan yang sangat dibutuhkan bagi suatu brand saat ingin memilih influencer yang tepat agar dapat merepresentasikan brand value. Dalam hal ini dapat dikatakan jika audiens micro influencer adalah orang-orang yang lebih tersegmen, dengan begitu mungkin pilihan micro influencer adalah hal yang dapat kamu pertimbangkan.

2. Analisa data influencer

Analisa data influencer
Analisa data dapat membantu memaksimalkan hasil yang ingin dicapai suatu brand. (Sumber: Pexels)

Analisa data tentu penting untuk dilakukan. Selain menganalisa tipe pengikut media sosial influencer, juga diperlukan analisa engagement rate. Engagement rate dapat menunjukkan seberapa besar kemungkinan profil influencer dapat menghasilkan interaksi dengan target audiens brand.

Namun, ternyata biasa ditemukan kasus penurunan engagement rate pada seorang yang dulunya micro infuencer lalu telah melalui fase peralihan menjadi macro influencer. Mungkin hal ini dapat kamu jadikan pertimbangan jika micro influencer adalah pilihan yang lebih tepat untuk perkembangan bisnis kamu kedepan.

3. Pilih influencer yang merepresentasikan brand value

Influencer yang merepresentasikan brand value akan mempermudah dalam brief yang sesuai dengan identitas yang ingin ditunjukkan oleh brand. Namun, sebelum itu pihak brand harus terlebih dahulu memahami value brand itu sendiri serta tahu pasti apa yang ingin dicapai, agar terjalin komunikasi yang baik dalam mengatur strategi dengan pihak influencer.

4. Pilih influencer yang memiliki gaya bahasa yang sama

Setiap influencer memiliki gaya bahasa sendiri dalam menyampaikan pesan sesuai dengan identitas mereka di hadapan audiens. Maka dari itu perlu diperhatikan untuk memilih influencer yang memiliki gaya bahasa yang sesuai dengan brand, karena dengan begitu ini menjadi poin penting agar influencer tetap dapat menyampaikan pesan yang merepresentasikan brand value dan tujuan brand dengan tepat sasaran.

5. Pilih influencer yang berpotensi melakukan kerjasama jangka panjang

Pilih influencer yang berpotensi melakukan kerjasama jangka panjang
Salah satu keahlian yang dimiliki micro influencer adalah pandai menjaga kepercayaan audiens dengan keotentikannya. (Sumber: Pexels)
 

Sangat penting bagi brand dalam membangun kerja sama jangka panjang dengan influencer untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan audiens terhadap brand. Di samping itu, influencer juga dapat lebih memahami brand value dan kebutuhan brand sehingga mereka dapat memikirkan strategi yang tepat untuk menyampaikan pesan pada target audiens brand.

Dalam hal ini, mungkin micro influencer adalah ahlinya. Selain itu juga dengan keotentikannya dalam menggunakan produk dapat membuat audiens menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap brand.

Baca juga : 6 Pekerjaan online yang cepat menghasilkan uang

Jadi, bagaimana? Kamu lebih tertarik menggunakan micro influencer atau macro influencer? Atau jika kamu masih berfokus untuk mengembangkan karier dan berminat untuk bekerja di perusahaan lain yang dapat mewujudkan impianmu, kamu bisa mendaftarkan diri melalui EKRUT. Di EKRUT terdapat beraneka kesempatan kerja yang dapat kamu sesuaikan dengan minatmu. 

Dapatkan juga berbagai tips dan insight menarik untuk pengembangan karier kamu melalui YouTube EKRUTtv, salah satunya “Prediksi tren digital marketing 2021” di bawah ini.

sign up EKRUT

Sumber:

  • sproutsocial
  • accurate
  • cmswire
  • zeals
  • forbes
  • xendit

Tags

Share