Published on

Technology

Karyawan NSO Group melaporkan Facebook ke Pengadilan

Nur Lella Junaedi

NSO-melaporkan-facebook-EKRUT.jpg

Delapan orang karyawan perusahaan spyware dari Israel NSO Group, melaporkan perusahaan sosial media Facebook ke Pengadilan Tel Aviv.

Laporan ini dilatar belakangi atas dugaan Facebook memblokir akun media sosial mereka tanpa alasan dan pemberitahuan sebelumnya. 

Dalam gugatannya, delapan orang ini menggunggat Facebook atas keinginan pribadi, karena Facebook telah melanggar hukum privasi di Israel.

Dengan cara mengumpulkan informasi pribadi dan mengindetifikasi bahwa ke delapan orang ini bekerja sebagai karyawan di NSO Group. Bukan karena melanggar aturan Facebook. 

Facebook melaporkan kembali

Sementara, Facebook sendiri pada Oktober lalu telah melaporkan perusahaan NSO Group ke pengadilan California.

Sosial media milik Mark Zuckerberg itu menuduh NSO Group telah memanfaatkan kelemahan server milik WhatsApp untuk menyadap 1.400 pengguna sejak April hingga Mei tahun ini.

Akun WhatsApps yang disadap kebanyakan berasal dari kalangan birokrat, aktivis, jurnalis, diplomat, pejabat senior, akademisi dan kritikus di 20 negara lima benua.

Di mana hasil penyadapan ini akan diberikan oleh NSO Group kepada kliennya. Akan tetapi, NSO Group membantah tuduhan ini dan mengatakan bahwa hal itu tidak benar.

NSO Group sendiri merupakan perusahaan mata-mata swasta yang terkenal di dunia. Lembaga ini mengklaim bahwa mereka bisa mengawasi pergerakan dari para teroris untuk mencegah kejahatan.

Baca juga: Fitur clear history jamin keamanan data di Facebook?

Hasil penyelidikan Facebook

Menindak lanjuti penyadapan ini, Facebook dibantu oleh Citizen Lab University of Toronto mencoba melakukan penyelidikan.

Hasilnya melaporkan bahwa penyadapan yang dilakukan oleh NSO menggunakan spyware Pegasus milik mereka.

Caranya Spyware ini akan membuat panggilan WhatsApp kepada para korban dan korban tidak perlu menjawab panggilan telepon yang sudah terinfeksi tersebut.

Spyware tersebut bisa mengambil data korban meliputi daftar kontak, kata sandi, kalender, dan panggilan langsung.

Rekomendasi Bacaan: 

Sumber: 

  • Forbes.com
  • CNN.com 
  • Reuters.com

Tags

Share