Published on

jobs

Product backlog adalah: Ketahui definisi, perbaikan, serta 4 karakteristiknya

Nur Rosita Dewi

product-backlog-adalah-EKRUT.jpg

Dalam bidang pengembangan produk, terdapat istilah product backlog yang perlu dipahami secara khusus. Berikut ini adalah bahasan mengenai apa dan bagaimana product backlog tersebut.

Apa itu product backlog?

product backlog
Product Owners bertanggung jawab atas product backlog (Sumber: Pexels)

Product backlog adalah daftar pekerjaan yang diprioritaskan untuk tim pengembang sesuai roadmap dan requirements. Umumnya, daftar yang paling penting akan ditampilkan di bagian atas sehingga tim mengetahui pekerjaan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. 

Product backlog juga bisa diartikan sebagai daftar urutan dari segala sesuatu yang diketahui dan dibutuhkan dalam produk. Ini adalah satu-satunya sumber persyaratan untuk setiap perubahan yang akan dilakukan pada sebuah produk. Product owner bertanggung jawab atas product backlog, termasuk konten, ketersediaan, dan pemesanannya. 

Meski begitu, tim pengembang tidak mengerjakan backlog sesuai keinginan pemilik bisnis. Sebaliknya, tim pengembang akan mengerjakan pekerjaan dari product backlog karena mereka memiliki kapasitas untuk hal itu, baik secara terus menerus (kanban) atau dengan iterasi (scrum).

Baca juga: Company profile: pengertian, fungsi, tips, dan 5 contoh terbaiknya

Secara umum, product backlog berisikan tentang langkah-langkah apa saja yang harus dikerjakan dalam pengembangan suatu produk. Dari urutan prioritas yang disematkan dalam daftar langkah inilah nantinya sebuah produk akan dibuat atau dikembangkan. Hal utama lain tentang product backlog adalah sifatnya yang simultan atau terus menerus dilakukan dan tak berhenti. Hal ini tentu dikarenakan proses pengembangan produk akan tetap berjalan. 

Istilah lain dalam product backlog

istilah lain dalam product backlog
Product backlog memudahkan pengambilan skala prioritas tentang langkah pengembangan produk (Sumber: Pexels)

Dalam berbagai bahasan, product backlog juga sering disebut dengan Scrum, Agile atau Kanban. Mari kita simak penjelasan mengenai Scrum, Agile, dan Kanban dalam uraian berikut ini.

Scrum adalah kerangka kerja yang dibuat untuk membantu tim produksi bekerja sama. Scrum mendorong tim untuk belajar melalui pengalaman, mengatur diri, dan menghadapi permasalahan dalam mengembangkan suatu produk. Dalam proses pengembangan produk perangkat lunak, tim pengembang memakai Scrum sebagai manajemen proyek dan penyusunan pekerjaan yang akan dikelola.

Dalam prosesnya, Scrum umumnya dibagi dengan beberapa tim dengan bagian-bagian seperti product owner, scrum master, dan development team. Tim ini dibagi fungsinya sebagai penanggung jawab dan menjelaskan product backlog, mengatur dan memantau proses pengembangan sesuai product backlog, dan menjalankan proses pengembangan baik desain, program dan berbagai hal lain berdasarkan product backlog.

Agile adalah suatu metode atau pola pikir yang dipakai untuk penyelesaian masalah dengan sifat fleksibel terhadap perkembangan. Metode agile inilah yang nantinya diterapkan lewat Scrum. Agile mencakup adanya rencana, eksekusi, dan perubahan yang mungkin terjadi dalam suatu hal termasuk dalam proses produksi atau pengembangan. Melalui metode inilah product backlog dikerjakan dengan skala prioritas dari periode ke periode.

Kanban, berbeda dengan kedua istilah di atas, Kanban berasal dari istilah Jepang yang berarti “papan penanda”. Istilah ini dicetuskan oleh Taiichi Ohno dari Toyota pada 1953. Istilah ini lantas menjadi ide operasi dari kontrol produksi Toyota saat itu. Mulanya, sistem Kanban dilakukan dengan sistem sinyal pengisian stok produksi secara sederhana lewat kotak-kotak kosong. 

Dua kotak kosong ini nantinya dikembangkan dengan menelaah permintaan pasar terhadap suatu produk. Kanban lantas dipakai untuk mengetahui dari pendekatan mana sebuah permintaan produk dapat dibuat sesuai pesanan dan membuat proyeksi lewat kartu-kartu kontrol produksi. Kanban lantas digunakan sebagai sistem visualisasi pekerjaan untuk pengoptimalan alur kerja di antara tim produksi. 

Baca juga: 12 Jenis strategi pemasaran yang paling efektif 

Kanban selanjutnya dikembangkan pula menjadi perangkat untuk melacak produk serta mencatat kolaborasi ide dan mudah diakses seluruh tim produksi. Proses standarisasi produk ini lantas diatur alurnya lewat papan kanban tiga langkah yaitu To do It, In Progress, dan Done. Papan inilah yang lantas menjadi alat kontrol produksi seperti product backlog.

4 Karakteristik product backlog yang ideal

karakteristik product backlog yang ideal
Estimasi atau perkiraan adalah salah satu karakteristik backlog yang memudahkan pengembangan produk (Sumber: Pexels)

Dilansir dari EasyAgile karakteristik product backlog yang baik telah dirumuskan oleh Roman Pichler lewat bukunya yang berjudul “Agile Product Management with Scrum: Creating Products That Costumers Love”. Dalam buku ini, Pichler mencetuskan empat karakteristik terbaik dari product backlog yang ia sebut dengan DEEP. 

Istilah DEEP ini diyakini dapat membantu product owners dan tim pengembangan untuk memahami cara membuat keputusan cerdas dengan tetap mempertahankan kualitas lewat backlog. Adapun keempat karakteristik yang tercakup dalam DEEP itu adalah sebagai berikut:

1. Detailed appropriately

Karakteristik ini berarti adalah ketepatan perincian dalam product backlog. Hal yang terperinci atau detail merupakan poin terpenting dalam menjaga skala prioritas. Impresi pelanggan terhadap suatu produk perlu secara rinci disematkan dalam product backlog agar dapat menjadi pertimbangan saat proses pengembangan produk. Tak hanya itu, setiap item dalam backlog harus dirinci dengan tepat agar mudah dipahami oleh seluruh tim pengembangan. Semakin dekat butir-butir rincian dalam backlog dengan pemahaman tim, maka semakin detail pengerjaan produk yang dikembangkan itu.

2. Estimated

Adanya prakiraan dalam penyusunan product backlog juga merupakan karakteristik utama dari backlog itu sendiri. Estimasi menyeluruh harus difokuskan pada butir-butir prioritas tinggi yang akan segera dikerjakan. Butir prioritas ini umumnya adalah suatu hal yang paling banyak ditambahkan detail di dalamnya. Memperkirakan kehendak konsumen produk adalah hal utama yang ingin ditempuh oleh karakter ini. 

Contoh dari karakter ini adalah estimasi produk ukuran sepatu atau kaos yang disesuaikan dengan product backlog sebelumnya. Ukuran-ukuran tertentu akan lebih laku daripada ukuran paling kecil atau paling besar, dan hal ini menjadi acuan prioritas dalam pengembangan produk nantinya.

Baca juga: Barang subtitusi adalah: pengertian, jenis, 5 contoh, dan pengaruhnya

3. Emergent

emergent
Impresi pelanggan atas suatu produk merupakan urgensi dan bagian darurat dari pengembangan produk (Sumber: Pexels)

Ketika suatu tim produksi semakin menerima banyak impresi dari pelanggan maka akan bertambah pula product backlog yang mereka susun. Hal ini dikarenakan product backlog adalah dokumen hidup yang akan mewakili rencana tim produksi hingga suatu waktu tertentu. Setiap revisi adalah bagian dari peningkatan dari pengembangan produk nantinya.

Adanya impresi dari pelanggan adalah aspek penting dari pembaharuan backlog. Untuk karena itu kedaruratan data dan pencatatan impresi ini diperlukan untuk menambah atau menghapus backlog dalam urusan penyempurnaan atau pengembangan produk secara cepat dan ringkas.

4. Prioritized

Seperti telah disinggung sebelumnya, pemrioritasan dalam product backlog amat diperlukan untuk pengembangan produk. Hal ini dilakukan dengan penempatan butir dengan prioritas tinggi ke tempat paling atas dan pengerjaannya bersifat segera. 

Sebuah tim produksi perlu memaksimalkan upaya untuk memprioritaskan butir-butir di skala tertinggi karena hal itu memberikan nilai paling tinggi dari suatu produk. Semakin banyak impresi masuk maka sepenting itulah pengembangan perlu dilakukan menurut skala prioritas dari butir yang paling banyak mendapat umpan balik itu.

Perbaikan product backlog dan sifatnya yang dinamis

perbaikan product backlog dan sifatnya yang dinamis
Product Owner dan tim pengembang akan berkolaborasi dalam detail item product backlog (Sumber: Pexels)

Product backlog mencakup daftar fitur baru, perubahan pada fitur yang ada, perbaikan bug, perubahan infrastruktur, atau aktivitas lain yang mungkin diberikan oleh tim untuk mencapai hasil tertentu. Perbaikan product backlog bisa juga berupa tindakan menambahkan detail, perkiraan, dan urutan item yang ada.

Tahapan selanjutnya, Product Owner dan tim pengembang akan berkolaborasi dalam detail item product backlog. Selama penyempurnaan product backlog ini, item-item tersebut akan ditinjau, dievaluasi, dan lantas dilakukan revisi terhadapnya.

Peninjauan dan revisi tadi lantas dapat membuat product backlog berkembang seiring berkembangnya produk dan lingkungan yang akan digunakan. Product backlog bersifat dinamis dan terus berubah untuk dapat mengidentifikasi apa yang dibutuhkan produk agar sesuai, berguna, serta bersaing di masa mendatang.

Baca juga: 11 Tips dan teknik manajemen waktu untuk mencapai kesuksesan

Sifat dinamis dari product backlog ini membuat pemilik bisnis dan pengembang jarang membuat daftar detail mengenai pekerjaan dengan interval tiga bulan ke depan. Namun, hal ini pula yang membuat mereka menjadi lebih fokus karena impresi terhadap produk dapat datang kurang dari tiga bulan itu. Selebihnya, impresi ini yang membuat pekerjaan pengembangan menjadi lebih efisien. 

Dengan begitu, munculnya ide baru dapat langsung dieksekusi oleh tim pengembang dengan menambahkannya dalam backlog. Lantas, proses selanjutnya adalah mempelajari ide tersebut lebih lanjut. Setelahnya, tim pengembang dapat memprioritaskan pertimbangan ide itu di samping item lain. Selanjutnya, penghapusan item product backlog juga perlu dilakukan jika ternyata ide tadi tidak membantu untuk mencapai rencana pengembangan yang diinginkan.

Itulah pengertian product backlog dan bagaimana prosesnya. Product backlog nyatanya amat bermanfaat untuk membuat proses pengembangan produk menjadi lebih efisien dan dapat menghindari perdebatan tentang perubahan-perubahan produk secara mendadak.

SIGN UP EKRUT

Sumber:

  • Pichler, R. 2008. Agile Product Management with Scrum: Creating Products That Costumers Love
  • easyagile.com
  • atlassian.com

Tags

Share