Published on

startup

Belajar dari kegagalan perusahaan Unicorn WeWork

Nur Lella Junaedi

belajar-dari-kegagalan-wework-EKRUT.jpg

Sempat menjadi salah satu perusahaan rintisan paling bernilai di dunia, WeWork pada akhirnya harus mengalami kejatuhan. Nilai valuasi yang sebelumnya menyentuh USD 47 miliar merosot tajam ke angka USD 6,94 miliar.  

Kerugian yang terus meningkat juga membuat WeWork harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2.400 karyawan mereka di berbagai negara.

Bagaimana awal kehancuran WeWork?

belajar dari kegagalan wework EKRUT 
Eks-CEO WeWork Adam Neumann- EKRUT

Sebelumnya, perusahaan WeWork didirikan pada tahun 2010 silam oleh seorang pensiunan militer Angkatan Laut Israel bernama Adam Neumann dengan kawannya, Miguel Mckelvey.

Sejak awal berdiri, WeWork fokus dalam menyediakan ruang kerja bersama atau coworking space khususnya bagi perusahaan startup yang belum memiliki kantor dan bagi pekerja freelance.

Baca juga: 5 Tips untuk Memastikan Karyawan Freelance Tetap Produktif

Sistem bisnis WeWork yakni dengan cara menyewa ruangan kantor selama 15 tahun, di mana perusahaan startup dan freelancer yang menjadi pelanggannya dapat menyewa ruangan tersebut sesuai dengan jangka waktu yang mereka butuhkan.

Saat itu kantor operasional pertama WeWork berada di distrik SoHo, New York. 

WeWork memulai bisnisnya dengan sokongan modal dari pemilik properti Manhattan Joel Screiber. Ia membeli saham WeWork sebesar 33 persen dengan harga USD 15 juta.

Tidak seperti suasana kantor yang monoton pada umumnya, Neumann mendekorasi kantor kerja WeWork dengan konsep kreatif. 

Ia mendekor ruangan kantor berkonsep open space dengan cat ruangan yang cerah dan pencahayaan yang nyaman.

Tak hanya itu, WeWork juga menyediakan perangkat eletronik yang modern seperti ruangan untuk video conference hingga printer laser. Pantry pun dibuat sangat modern dengan konsep ala bar.

Para penyewa nyaman bekerja di dalamnya dan dapat memilih berbagai macam ruangan yang disediakan, bahkan ruangan dengan model custom.

Mungkin karena salah satu sebab itulah bisnis sewa menyewa WeWork awalnya berjalan cukup mulus.

Pada tahun 2011, WeWork juga meluncurkan WeWork Lab yang menjadi inkubator startup untuk membantu startup pemula yang ingin fokus membangun bisnis.

Baca juga: Berada di ambang kehancuran, WeWork diselamatkan SoftBank

WeWork juga membuat berbagai macam jenis bisnis perusahaan seperti program Rise by We dengan membuka layanan gym di kantor perusahaannya.

Ada pula WeGrow, program sekolah dasar swasta yang berpusat di New York dan WeLife, layanan yang menyediakan sewa untuk apartemen.

Pergerakan bisnis yang semakin positif tersebut akhirnya membuat beberapa investor mulai tertarik menyuntikkan dananya ke WeWork. 

Investor tersebut antara lain Wellington Management, Goldman Sachs Group, the Harvard Corporation, Benchmark, dan Mortimer Zuckerman, eks CEO dari Boston Properties  J.P. Morgan Chase & Co, T. Rowe Price Associates.

Pada 2017 lalu, perusahaan ekuitas swasta terbesar dari Jepang yakni Softbank Group menaruh investasi pertamanya di WeWork dengan nilai mencapai USD 1 miliar.

Setelah itu SoftBank beberapa kali ikut dalam pendanaan WeWork selanjutnya, di November 2018 dan Januari 2019. Setidaknya sudah sekitar USD 10.65 milyar dana yang SoftBank berikan pada WeWork. 

Dari sejak berdiri hingga awal 2019, WeWork telah mendapatkan pendanaan hingga seri G dengan nilai valuasi mencapai USD 47 milyar. 

Dengan semua modal yang dimiliki perusahaan, WeWork mulai memperluas ekspansi bisnisnya ke berbagai negara, tidak hanya di Amerika tapi juga di Eropa, Australia, Afrika dan Asia dengan jumlah mencapai 800 lokasi.  

Hal tersebut turut menjadikan WeWork menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dengan karyawan mencapai 12.500 orang. WeWork pun berencana untuk melantai di bursa saham pada September 2019.  

Sayangnya, sebelum sempat melakukan IPO, perusahaan tersebut harus menghadapi krisis lantaran nilai valuasinya terjun bebas ke angka USD 6,94milyar.  

Terdapat banyak faktor yang menjadikan nilai valuasi WeWork anjlok. Salah satunya yakni isu terkait penggunaan modal investasi yang menyimpang oleh CEO Adam Neumann.

Baca juga: Adam Neumann mundur dari kursi jabatannya sebagai CEO WeWork

Pasalnya dalam beberapa tahun, kekayaan Neumann meroket, di antaranya:

  • Membeli empat apartemen  seharga USD 35 juta di kawasan Manhattan Park
  • Memiliki lima rumah elit dengan harga sekitar USD 10.5 juta
  • Membeli jet Gulfstream senilai $ 60 juta untuk WeWork
  • Sering berlibur keliling London, Panama, Republik Dominika, Tokyo, Hong Kong, hingga Hawaii

Tidak hanya itu, ternyata sang pendiri Adam Neumann pun sering mengonsumsi ganja, alkohol, serta senang berpesta. Dirinya juga dinilai bukan pemimpin yang cakap dan mau menerima aspirasi dari karyawannya. 

Di bawah kepemimpinan Neumann, WeWork pernah membakar uang per kuartal dengan nilai USD 700 juta, membuat perusahaan kekurangan uang dan perlu suntikan dana senilai USD 6 milyar.

Atas kegagalan ini, Neumann akhirnya diberhentikan oleh SoftBank sebagai investor terbesar saat ini di WeWork.

Neumann diganti oleh CEO baru Artie Minson dan Sebastian Gunningham. Keduanya memiliki pengalaman di perusahaan teknologi Time Warner, Apple hingga Amazon.  

Belajar dari kerugian dan kegagalan yang dialami oleh WeWork, penting bagi sebuah perusahaan terutama CEO untuk benar-benar memerhatikan bagaimana alur keuangan yang terjadi di dalam perusahaan dan menghindari perilaku membakar uang yang berlebihan untuk hal-hal yang tidak penting.

Selain perilaku membakar uang, ada beberapa alasan lain yang dapat menimbulkan kegagalan sebuah startup. Misalnya saja seperti, tidak adanya kebutuhan pasar, masalah harga atau biaya, dana yang habis, sulit berkompetisi, hingga tidak dapat menyusun tim yang tepat.
 
Kegagalan ada sebuah pelajaran yang berarti. Apapun yang terjadi pada WeWork, tentu tidak ada salahnya untuk belajar dari sini dan menghindari kegagalan tersebut.

belajar dari kegagalan  wework EKRUT

Rekomendasi Bacaan: 

Sumber: 

  • BusinessinsiderSingapore
  • CNBC
  • BBC
  • Forbes

Tags

Share