Published on

Careers

Mengenal FIFO, LIFO, FEFO, dan Average dalam Proses Pengelolaan Barang

Alvina Vivian

H1_fifo_adalah.jpg

Berbisnis tentu mengharuskan kamu lebih teliti dalam mengelola usaha tersebut, bahkan dalam hal inventarisasi dan distribusi. Dari beberapa metode yang ada dalam tahap pengelolaan barang, FIFO adalah salah satunya. Agar kamu bisa lebih memahami dan menerapkan metode ini, simak penjelasan berikut hingga akhir artikel, ya.

Definisi FIFO, LIFO, FEFO, dan Average


Tiap bisnis dapat menggunakan metode perhitungan yang berbeda-beda (sumber: pexels)

Terdapat beberapa pilihan metode dalam proses pengelolaan barang di sebuah bisnis, di antaranya yaitu FIFO, LIFO, FEFO, dan Average. Setiap metode tersebut memiliki keunggulan dan dasar sistemnya masing-masing.

1. FIFO

FIFO adalah singkatan dari First In First Out yang mana metode ini menggambarkan bahwa barang yang terjual merupakan barang yang diinputkan paling awal. Misalkan pada sistem apotek, obat yang harus dijual terlebih dahulu adalah obat yang lebih awal dibuat. Hal ini bisa dikarenakan banyak faktor, misalkan saja melihat kedaluwarsa dari produk, adanya pemberlakuan sistem penghasilan dengan laba kotor tinggi karena HPP (Harga Pokok Penjualan) yang rendah pada sebuah perusahaan, atau aspek lainnya.

Metode FIFO adalah sistem yang cukup sering digunakan pada perusahaan food and beverages, medis dan obat-obatan, atau bisnis lain yang memiliki masa kedaluwarsa. Pada dasarnya, metode FIFO didasari oleh perhitungan jumlah biaya persediaan harus disesuaikan dengan hasil penjualan.

2. LIFO

Berbeda dengan metode sebelumnya, LIFO adalah kebalikan dari FIFO. Kepanjangan LIFO adalah Last In First Out yang artinya barang terakhir yang diinputkan adalah barang pertama yang akan terjual. Ibaratnya ada sebuah tumpukan buku di sebuah toko, maka buku yang akan terjual terlebih dahulu adalah buku yang terakhir diletakkan.

Pendataan produk yang menggunakan metode FIFO bukanlah barang yang memiliki batas kedaluwarsa, misalkan buku, baju, tumpukan piring, atau barang lainnya. Meskipun tidak ada kaitan dengan masa kedaluwarsa, namun produk-produk tersebut tidak jarang mengikuti alur tren yang ada.

3. FEFO

Konsep FEFO sebenarnya hampir mirip dengan FIFO. Jika FIFO adalah metode yang menjual barang pertama yang diinputkan terlebih dahulu, FEFO adalah First Expired First Out. Metode ini menjual barang yang akan expired terlebih dahulu, bisa jadi barang tersebut diinputkan lebih awal atau akhir sekalipun.

4. Average

Metode Average merupakan gabungan antara FIFO dan LIFO yang didasari perhitungan cost persediaan aset. Cara menghitungnya, yaitu dengan membagi jumlah pemasukan dengan jumlah unit yang dijual dalam durasi waktu yang ditentukan. Hasil pembagian tersebut menunjukkan harga rata-rata yang akan didapatkan ketika barang terjual. Metode ini merupakan konsep yang paling praktis karena kamu tidak perlu berfokus pada masuk keluarnya stok, dan akan mempermudah proses perhitungan harga pokok.

Baca juga: 8 Peluang karier lulusan manajemen keuangan dalam dunia kerja saat ini

Keuntungan dan kekurangan menerapkan FIFO


Metode FIFO sangat disarankan untuk bisnis dengan kategori makanan (sumber: pexels)

Dari beberapa metode yang ada, konsep FIFO adalah metode yang lebih sering digunakan. Bagi kamu yang ingin menerapkannya, berikut adalah keuntungan dan kerugian yang didapatkan ketika menerapkan FIFO.

1. Keuntungan menerapkan FIFO

  • Menekan angka kerugian karena barang yang expired

Ketika kamu menjual barang yang memiliki masa kedaluwarsa pendek terlebih dahulu, maka stok barang yang akan kedaluwarsa tentunya semakin sedikit. Dengan begitu, angka kerugian yang ditanggung karena barang kadaluarsa dan tidak terjual akan lebih kecil.

  • Laporan keuangan yang lebih jelas

Metode FIFO memungkinkan kamu mendapatkan detail laporan keuangan yang jelas dari alur barang masuk hingga keluar. Karena itulah data laporan yang kamu dapatkan tentunya akan lebih presisi dan valid.

  • Kualitas stok barang lebih terjaga

Sedikitnya jumlah stok yang akan expired menandakan bahwa stok barang yang kamu miliki masih berkualitas dan kecil kemungkinan terjadi kerusakan. Inilah yang menyebabkan metode FIFO lebih unggul dari metode pendataan lainnya.

2. Kerugian menerapkan FIFO

Perusahaan yang menerapkan metode FIFO perlu berhati-hati dalam menentukan laba dan besar keuntungan karena jika hal tersebut terlalu kecil, maka hal tersebut justru dapat menjadi kerugian. Kalkulasikan juga nilai pajak yang perlu dibayarkan karena jika margin yang didapat semakin luas, maka pajak yang perlu dibayarkan juga lebih tinggi.

Baca juga: Metode Agile Development: Pengertian, Tujuan, dan Keunggulan

Cara menghitung persediaan barang dengan metode FIFO


Cara hitung persediaan dengan metode FIFO mudah untuk diterapkan (sumber: pexels)

1. Hitung jumlah produk dan biaya produksi dalam satu kloter

Misalkan dalam satu durasi, sebuah pabrik memproduksi 75.000 buah makanan yang terbagi pada 4 kloter dengan detail berikut:

  • Kloter 1 = 20.000 pcs dengan biaya produksi Rp30.000.000
  • Kloter 2 = 15.000 pcs dengan biaya produksi Rp15.000.000
  • Kloter 3 = 25.000 pcs dengan biaya produksi Rp40.000.000
  • Kloter 4 = 15.000 pcs dengan biaya produksi Rp15.000.000

2. Bagi total biaya dengan jumlah produk

Banyak barang yang diproduksi, yaitu 75.000 buah dengan total biaya Rp100.000.000, maka per produk harga rata-rata yang akan didapatkan Rp1.330.

3. Hitung unit biaya tiap kloter

Lakukan hitungan terpisah untuk mengetahui berapa unit biaya per kloter dengan contoh berikut ini:

  • Kloter 1 = Rp30.000.000 / 20.000 = Rp1.500
  • Kloter 2 = Rp15.000.000 / 15.000 = Rp1.000
  • Kloter 3 = Rp40.000.000 / 25.000 = Rp1.600
  • Kloter 4 = Rp15.000.000 / 15.000 = Rp1.000

4. Lihat stok yang terjual

Dari 75.000 buah yang telah diproduksi, terdapat total 72.000 buah yang terjual dari semua kloter tanpa detail tiap kloternya.

5. Hitung menggunakan konsep FIFO

Dengan menerapkan metode FIFO, maka perhitungannya menjadi: 

  • 20.000 buah dari kloter pertama dengan harga perbuah Rp1.500 dan total Rp30.000.000
  • 15.000 buah dari kloter pertama dengan harga perbuah Rp1.000 dan total Rp15.000.000
  • 25.000 buah dari kloter pertama dengan harga perbuah Rp1.600 dan total Rp40.000.000
  • 12.000 buah dari kloter pertama dengan harga perbuah Rp1.000 dan total Rp20.000.000

Maka total biaya dari 62.000 buah yang terjual, yaitu sebesar Rp105.000.000. Itulah nilai biaya produksinya.

Baca juga: 3 Contoh analisis SWOT yang dapat digunakan untuk memulai bisnis

Bedanya FIFO dan LIFO


FIFO dan LIFO adalah dua metode penghitungan yang berbeda (sumber: pexels)

Untuk lebih memahami konsep FIFO dan LIFO, berikut perbandingan dan perbedaan dari kedua konsep tersebut.

FIFO LIFO
First In First Out Last In First Out
Barang yang dimasukkan di awal adalah yang pertama dijual Barang yang diinputkan terakhir adalah yang pertama dijual
Cocok untuk perusahaan makanan dan obat Cocok untuk bisnis buku, fashion, dan lain-lain
Pajak yang perlu dibayar lebih besar Hemat pajak

Itulah penjelasan mengenai apa itu FIFO, LIFO, FEFO, dan Average beserta perbandingan dan contohnya. Pilihlah metode yang tepat sesuai dengan bisnis yang kamu jalani dan lakukan menggunakan cara perhitungan yang telah dijelaskan di atas.

Untuk mendapatkan informasi unik mengenai bisnis, kamu bisa membaca artikel di EKRUT Media lainnya. Jangan lewatkan juga kesempatan mengembangkan skill serta mendapatkan informasi kerja di tempat yang kamu impikan dengan cara klik sign up di EKRUT sekarang. Selamat mencoba!

Sumber:

  • akseleran.com
  • jurnal.id

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    shutterstock_1682336344.jpg

    Careers

    9 Tips Menghadapi Interview Kerja Setelah Terkena Layoff

    Fakhrizal Muttaqien

    23 September 2022
    7 min read
    cara-membalas-email-panggilan-interview---EKRUT.jpg

    Careers

    Cara Membalas Email Panggilan Interview beserta Contohnya

    Maria Tri Handayani

    23 September 2022
    7 min read
    H1_1._10__Rekomendasi_Kursus_Digital_Marketing.jpg

    Careers

    10+ Rekomendasi Kursus Digital Marketing

    Anisa Sekarningrum

    21 September 2022
    8 min read

    Video