Published on

Lainnya

Mengenal Apa Itu KYC dan 5 Manfaat Penerapan Program KYC

Algonz D.B. Raharja

H1_KYC.jpg

Dalam relasi bisnis maupun urusan finansial dan perbankan, keberadaan klien atau customer menjadi sebuah hal yang wajar. Kedua subjek tersebut merupakan tujuan utama dari berjalannya sebuah bisnis, terutama dalam ranah perbankan dan finansial. Namun, keberadaan klien dan customer juga tak lepas dari potensi kriminal atau kejahatan yang dilakukan oleh mereka terkait kepentingannya dalam menyimpan uang atau berinvestasi.

Oleh karena itu, dunia perbankan dan finansial mengenal istilah KYC yang digunakan sebagai prinsip dunia bisnis, khususnya perbankan, untuk mengantisipasi adanya transaksi mencurigakan dan hal-hal lain terkait itu. Lantas, apa itu KYC? Mari kita simak ulasannya berikut ini.

Apa itu KYC?


KYC atau Know Your Customer adalah prinsip mengenali nasabah atau pengguna jasa dalam perbankan (Sumber: Pexels)

Dilansir dari situsnya, Barclays Wealth, Investment & Financial Banking Services India menyebut KYC sebagai proses verifikasi identitas pelanggan. KYC atau know your customer merupakan prinsip yang dilakukan dunia perbankan untuk mencegah adanya unsur pidana atau kegiatan pencucian uang lewat institusi perbankan.

KYC secara prinsip memungkinkan bank untuk memahami pelanggannya dan transaksi keuangan mereka. Selain itu, dengan adanya prinsip KYC ini institusi perbankan dapat melayani dan mengelola keuangan pelanggan dengan lebih baik karena mengetahui risiko tertentu dari pelanggan tersebut.

Menurut Pasal 1 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) disebutkan bahwa KYC adalah prinsip yang diterapkan bank untuk mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah, termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan.

Ketentuan dari Peraturan Bank Indonesia tersebut lantas diperjelas pada Pasal 2 ayat (2) dengan menetapkan empat hal utama yang wajib diterapkan bank terkait KYC. Keempat hal yang wajib diterapkan oleh bank tersebut meliputi:

  • Menetapkan kebijakan penerimaan nasabah
  • Menetapkan kebijakan dan prosedur dalam mengidentifikasi nasabah
  • Menetapkan kebijakan dan prosedur pemantauan terhadap rekening dan transaksi nasabah
  • Menetapkan kebijakan dan prosedur manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (KYC)

Secara umum, KYC dapat diartikan sebagai proses untuk memverifikasi identitas dan kredensial lain dari pengguna jasa keuangan (nasabah). KYC secara khusus dalam dunia perbankan akan dilakukan dengan proses regulasi untuk memastikan identitas dan informasi lain dari pengguna jasa keuangan tersebut.

Baca juga: 10 Lembaga Keuangan Bukan Bank di Indonesia

Proses KYC


Proses KYC diawali dengan memverifikasi identitas calon nasabah (Sumber: thalesgroup.com)

Berbagai proses penerapan KYC terhadap nasabah perbankan dilakukan berbeda tergantung kebijakan tiap negara. Di Indonesia, KYC mengacu pada Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles). Pada Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Bank Indonesia tersebut disebutkan bahwa dalam penerapan KYC pihak bank wajib meminta informasi mengenai:

  • Identitas calon nasabah
  • Maksud dan tujuan hubungan usaha yang akan dilakukan calon nasabah dengan bank
  • Informasi lain yang memungkinkan bank untuk dapat mengetahui profil calon nasabah
  • Identitas pihak lain, dalam hal calon nasabah bertindak untuk dan atas nama pihak lain

Apabila diperlukan, pihak bank memiliki landasan hukum untuk melakukan wawancara dengan calon nasabah untuk meneliti dan meyakini keabsahan dan kebenaran dokumen-dokumen pendukung identitas calon nasabah terkait.

Secara umum, proses penerapan KYC dilakukan dalam 5 tahap sebagai berikut:

  • Penyerahan dokumen
  • Verifikasi identitas
  • Verifikasi tempat tinggal
  • Verifikasi kondisi keuangan
  • Pemantauan transaksi

Baca juga: 6 Tips Keuangan untuk Bersiap Menghadapi Resesi

5 Manfaat menerapkan KYC


Prinsip KYC dapat meningkatkan kepercayaan publik dan calon nasabah yang nantinya menunjang keuntungan (Sumber: Pexels)

Secara umum, KYC bermanfaat untuk memverifikasi identitas pelanggan secara independen dan ketergantungan sumber dokumen, data, atau informasi. KYC juga diterapkan untuk mendukung adanya pemberantasan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Oleh karena itu, KYC secara prinsip akan membantu bank atau lembaga keuangan untuk memastikan bahwa mereka tidak terlibat dalam kegiatan ilegal dan kriminal.

Adapun beberapa manfaat utama KYC yang perlu diketahui oleh para calon nasabah adalah sebagai berikut:

1. Memudahkan bank menilai risiko

Dengan adanya KYC, pihak perbankan atau lembaga keuangan dapat melakukan penilaian risiko dengan mudah. Penilaian risiko ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi riwayat keuangan nasabah sebelumnya dan juga aset yang dimilikinya.

2. Mencegah penipuan

Lewat penerapan KYC yang terstruktur, pihak perbankan dapat membatasi adanya penipuan yang terjadi karena penyembunyian identitas nasabah. Hal ini dilakukan guna mencegah adanya penggunaan identitas palsu atau nama alias oleh nasabah yang mungkin terkait tindak kriminal maupun kejahatan lain.

3. Mencegah pencucian uang

Tindak kejahatan finansial paling umum adalah pencucian uang. Tindakan ini terjadi karena kelihaian pelaku untuk memanfaatkan bank atau lembaga keuangan dalam kegiatan ilegal ini. Dengan adanya KYC, pihak perbankan dapat meminimalisasi tindak pidana pencucian uang dan juga pelacakan aktivitas anti-sosial lainnya seperti pendanaan terorisme maupun kelompok kriminal lainnya.

Baca juga: Apa Itu Investor? Berikut 2 Jenis Utama dan Panduan untuk Memulainya

4. Meningkatkan stabilitas investasi negara

KYC secara umum juga berdampak pada stabilitas ekonomi dan investasi di suatu negara. Hal ini dikarenakan dengan adanya KYC maka lembaga keuangan dan institusi perbankan akan membuat kerangka keuangan yang lebih dapat dipercaya. Tak hanya itu, KYC juga membuat lembaga keuangan mengurangi risikonya dan terhindar dari potensi kerugian tertentu.

5. Meningkatkan potensi keuntungan

Bagi institusi perbankan atau lembaga keuangan, penerapan prinsip KYC dapat menjadi salah satu faktor yang menunjang peningkatan keuntungan mereka. Dengan adanya KYC, bank mengalami penurunan risiko dan ketidakpastian finansial yang memungkinkan mereka meminjamkan lebih banyak uang kepada nasabah. Hal ini akan meningkatkan keuntungan dari hasil bunga pinjaman-pinjaman tersebut.

Baca juga: Manajemen Keuangan: Pengertian, Tujuan Hingga Tugasnya

Syarat dokumen KYC


Penerapan KYC oleh lembaga keuangan mewajibkan calon nasabah menyiapkan dokumen-dokumen identitas dan keuangan untuk diverifikasi (Sumber: Pexels)

Persyaratan dokumen KYC dijelaskan secara rinci pada Pasal 5 Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles) yang menerangkan bahwa dokumen untuk nasabah perorangan sekurang-kurangnya mencakup:

  • nama
  • alamat tinggal tetap
  • tempat dan tanggal lahir
  • kewarganegaraan
  • keterangan mengenai pekerjaan
  • spesimen tanda tangan
  • keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana

Sedangkan untuk nasabah perusahaan diwajibkan melengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut:

  • akta pendirian/anggaran dasar bagi perusahaan yang bentuknya diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku
  • izin usaha atau izin lainnya dari instansi berwenang
  • nama, spesimen tanda tangan, dan kuasa kepada pihak-pihak yang ditunjuk mempunyai wewenang bertindak untuk dan atas nama perusahaan dalam melakukan hubungan usaha dengan bank
  • keterangan sumber dana dan tujuan penggunaan dana

Untuk perusahaan yang tidak tergolong Usaha Kecil perlu ditambahkan beberapa dokumen seperti:

  • Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 
  • laporan keuangan dari perusahaan atau deskripsi kegiatan usaha perusahaan
  • struktur manajemen perusahaan
  • dokumen identitas pengurus yang berwenang mewakili perusahaan

Baca juga: Mengenal Kejahatan Skimming ATM dan 7 Cara Menghindarinya

Prinsip KYC secara menyeluruh memang digunakan untuk melindungi institusi perbankan dan negara dari adanya tindak kejahatan finansial maupun tindak kejahatan lain yang berkaitan dengan perbankan atau keuangan. Hal ini terutama karena adanya pencegahan terhadap tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Nasabah atau pengguna jasa perbankan dapat diinvestigasi dan diidentifikasi lewat alur transaksi keuangan miliknya. Langkah ini yang kemudian diambil ketika terdapat laporan bahwa seorang nasabah terkait dalam tindak pidana dan melibatkan keuangannya pada bank atau lembaga keuangan tertentu. KYC diterapkan untuk mencegah hal-hal semacam ini terjadi berulang dan menurunkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan.

Bagi kamu yang memiliki potensi di bidang perbankan, tentu perihal KYC ini penting untuk kamu pahami. Sedangkan, jika kamu sedang ingin mengembangkan potensimu untuk berkarier, maka kamu bisa mencari lowongan pekerjaan yang relevan lewat EKRUT.

Dengan mendaftar lewat EKRUT, kamu berpotensi ditemukan dan direkrut oleh berbagai perusahaan bonafide. Kamu hanya perlu menyiapkan CV terbaikmu lalu klik tautan di bawah ini untuk langsung mendaftar lewat EKRUT.

Sumber:

  • barclays.in
  • peraturan.bpk.go.id
  • corporatefinanceinstitute.com

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    H1_Motif_Ekonomi.jpg

    Lainnya

    Sebutkan 4 Macam Motif Ekonomi? Berikut Informasi Selengkapnya!

    Lita Lia

    06 July 2022
    6 min read
    H1_GMV.jpg

    Lainnya

    GMV (Gross Merchandise Value): Pengertian dan Cara Menghitungnya

    Algonz D.B. Raharja

    06 July 2022
    5 min read
    cover_(11).jpg

    Lainnya

    DP (Down Payment): Definisi, Fungsi, Cara Kerja, dan Keuntungannya

    Detty Risetya

    05 July 2022
    5 min read

    Video