Published on

Lainnya

Market Cap: Pengertian, skala perusahaan, cara menghitung, dan 3 strategi investasinya

Algonz D.B. Raharja

H1_Market_Cap.jpg

Dalam proses pemasaran bisnis di suatu pasar modal, terdapat kapitalisasi pasar yang menjadi salah satu indikator utama yang menentukan kinerja pasar saham secara umum. Bagi seorang investor, keberadaan kapitalisasi pasar dapat menjadi salah satu faktor yang menjadi bahan pertimbangan bagi investor untuk membeli saham dari salah satu emiten saham di bursa saham.

Kapitalisasi saham yang dibahas tadi juga akrab disebut sebagai market cap. Lantas, apa sebenarnya market cap dan bagaimana strategi untuk investasinya? Mari simak ulasan berikut ini.

Apa itu market cap?


Market Cap merupakan kapitalisasi pasar dari saham-saham perusahaan di pasar modal (Sumber: Pexels)

Market Cap atau kapitalisasi pasar mengacu pada total nilai pasar; dalam mata uang tiap negara; dari saham perusahaan yang beredar. Umumnya, konsep market cap dihitung dengan mengalikan jumlah total saham beredar dengan harga pasar dari satu saham pada waktu tertentu.

Misalnya, perusahaan A dengan 12 juta saham, masing-masing lembarnya dijual seharga Rp1.000, maka market cap saham tersebut adalah sebesar 12 juta dikali 1.000, yaitu Rp12.000.000.000 (milyar). Market Cap secara sederhana dapat didefinisikan sebagai jumlah saham beredar dikalikan dengan harga saham saat ini. Hasil dari perkalian ini akan menunjukkan nilai saham perusahaan di pasar saham atau market cap saham tertentu di perusahaan.

Penghitungan market cap dapat dilakukan lewat dua metode yaitu free-float dan float. Metode perhitungan market cap dengan float dilakukan dengan basis jumlah saham perusahaan yang beredar dan dimiliki oleh investor publik. Sedangkan, metode free-float dilakukan dengan menghitung saham kecuali yang dipegang oleh eksekutif, pemerintah, dan pihak swasta lain di mana sahamnya tidak diperdagangkan di pasar saham.

Di sisi lain, market cap juga dapat dianggap sebagai nilai pasar terbaru dari saham suatu perusahaan yang beredar. Investor biasanya menggunakan nilai market cap untuk menentukan peringkat perusahaan dan membandingkan ukuran relatif perusahaan tersebut dalam industri atau sektor usaha tertentu.

Dalam jurnal ilmiahnya yang mengutip buku “Kiat Membangun Aset Kekayaan” (2006:41) karya Sapto Raharjo, Rifqiawan menulis bawah market cap atau kapitalisasi pasar merupakan nilai pasar dari saham yang diterbitkan (outstanding share) suatu emiten saham.

Baca Juga: 6 Cara Menabung Saham Bagi Pekerja Kantoran

Apa saja yang memengaruhi market cap?


Salah satu hal utama yang memengaruhi market cap adalah fluktuasi ekonomi di suatu negara maupun kondisi regional-global (Sumber: Pexels)

Penentuan harga market cap saham suatu emiten dapat dipengaruhi beberapa hal yang tentunya berperan secara aktif terhadap besaran harga saham dan ketertarikan investor. Adapun beberapa faktor yang dapat memengaruhi market cap adalah sebagai berikut.

  • Permintaan akan produk atau layanan suatu perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan itu
  • Fluktuasi pasar seperti penurunan ekonomi maupun sebaliknya
  • Menjalankan jaminan atas saham suatu perusahaan
  • Kinerja merek atau strategi perusahaan pesaing
  • Reputasi dan keandalan perusahaan

Secara umum, jumlah saham perusahaan yang beredar amat bergantung pada beberapa faktor di atas. Hal ini dikarenakan investor perlu tahu bagaimana kinerja suatu perusahaan serta proses mereka bergelut dalam gejolak ekonomi tiap tahunnya.

Baca Juga: 12 Rekomendasi Aplikasi Saham Online Terbaik

Skala perusahaan dalam market cap Indonesia


Berikut adalah skala perusahaan dalam market cap Indonesia (Sumber: Pexels)

Dalam market cap, terdapat skala saham perusahaan yang ditentukan dalam beberapa kategori berdasarkan kondisi keuangan dan kinerjanya dalam tiap periode.

Adapun kategorisasi skala saham perusahaan itu adalah sebagai berikut.

1. First liner (blue chip)

Saham dengan kategori blue chip merupakan saham tingkat pertama yang telah beroperasi selama banyak periode dengan dasar keuangan perusahaan stabil atau kuat. Market cap saham blue chip ini memiliki kinerja yang dapat memengaruhi hampir seluruh IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) karena umumnya saham kategori ini memiliki market cap di atas Rp10 triliun.

Dalam Pasar Saham Indonesia, saham kategori blue chip ini umum dikenal dengan 45 emiten atau perusahaan atau disebut dengan Indeks LQ45. Indeks LQ45 ditujukan kepada emiten-emiten saham dengan likuiditas tinggi, market cap besar, serta fundamental perusahaan yang baik.

Beberapa saham dengan market cap tinggi yang masuk dalam LQ45 antara lain adalah BBCA (Bank Central Asia Tbk.), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), ADRO (Adaro Energy Tbk.), dan lain-lain.

2. Second liner

Saham dengan market cap second liner merupakan saham lapis kedua di bawah blue chip dengan market cap dalam rentang Rp1 triliun hingga Rp10 triliun. 

Saham jenis ini memiliki likuiditas menengah meski di satu sisi sering terpengaruh dan cenderung fluktuatif. Valuasi saham second liner ini biasanya lebih murah dan menarik minat  investor yang mencari saham undervalue. Meski begitu, saham second liner juga memiliki potensi keuntungan.

Secara umum, saham second liner terdapat pada emiten yang masih berkembang. Beberapa contoh emiten saham second liner adalah BBKP (Bank KB Bukopin Tbk.), PWON (Pakuwon Jati Tbk.), dan lain-lain.

Baca Juga: 10 Sekuritas Terbaik di Indonesia yang Aman Digunakan

3. Third liner

Saham dengan market cap rendah atau third liner umum dikenal pula dengan istilah “saham gorengan”. Sifat saham jenis ini tentu saja amat volatil atau mudah berubah atau bergejolak seiring perkembangan pasar saham di hari itu. Saham third liner merupakan saham dengan market cap di bawah Rp1 triliun dan cenderung dimainkan oleh spekulan karena harganya yang murah.

Beberapa saham third liner yang umum dikenal di antara investor antara lain adalah AYLS (Agro Yasa Lestari), BOSS (Borneo Olah Sarana Sukses, ARKA (Arkha Jayanti Persada), dan lain-lain.

Baca Juga: IPO Adalah: Pengertian, Cara Kerja, dan Kelebihannya

Cara menghitung market cap


Market cap dihitung dengan mengalikan total jumlah saham beredar dengan harga per lembar saham tersebut (Sumber: Pexels)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, market cap dapat dihitung dengan mengalikan jumlah saham beredar dengan harga saham per lembar saat ini. Berikut adalah rumus menghitung market cap.

Market Cap = Total Jumlah Saham Beredar x Harga per Lembar Saham

Strategi investasi berdasarkan ukuran market cap


Berikut adalah strategi investasi berdasarkan ukuran market cap (Sumber: Pexels)

Seiring dengan skala saham perusahaan tadi, beberapa investor perlu memiliki strategi tertentu untuk memilih saham dari berbagai emiten dengan basis besaran market cap. Adapun strategi untuk tiap-tiap skala saham perusahaan yang dapat diacu oleh para investor adalah sebagai berikut.

1. Small cap


Salah satu strategi untuk berinvestasi pada saham third liner adalah dengan investasi jangka panjang terbatas (Sumber: Pexels)

Untuk dapat memahami saham small cap atau third liner, seorang investor perlu mengerti dahulu bahwa saham dengan besaran market cap di bawah Rp1 triliun dan rawan terhadap penggorengan saham oleh para spekulan.

Saham third liner yang amat volatil juga memerlukan keberanian tersendiri bagi investor untuk mempertaruhkan uang mereka pada saham third liner. Oleh karena itu, investor memiliki harga saham bersifat semu.

Salah satu strategi investor untuk bergelut di saham third tier adalah berinvestasi dalam jangka panjang karena saham kategori ini memiliki likuiditas rendah. Untuk itu, risiko dari saham third tier memiliki risiko yang lebih tinggi dan tidak disarankan membeli jumlah banyak.

2. Mid cap

Saham middle cap dengan besaran market cap menengah umumnya cukup nyaman sebagai tempat investasi. Hal ini dikarenakan harganya yang tidak terlampau mahal dan pergerakannya masih cenderung stabil dan likuiditasnya menengah. Berinvestasi di saham second liner ini dapat dilakukan dengan melihat perkembangan beberapa saham di sektor tertentu seperti JPFA (Japfa Comfeed Tbk) di sektor pakan ternak, atau BUMI (Bumi Resources Tbk.)

3. Large cap


Berinvestasi pada saham dengan market cap tinggi lebih stabil namun tidak fluktuatif (Sumber: Pexels)

Berbeda dengan kategori saham sebelumnya, saham dengan market cap tinggi atau large cap memiliki kestabilan tinggi dan memiliki harga tinggi pula untuk tiap lembar sahamnya. Namun, harga ini diikuti dengan stabilitas tinggi dan risiko yang rendah.

Meski begitu, berinvestasi di ranah saham first liner ini juga tidak melulu disukai oleh investor dengan tipe spekulan karena nilai atau harganya cenderung stabil. Oleh karena itu, saham dengan market cap tinggi ini diperuntukkan kepada mereka yang ingin terhindar dari risiko dan tertarik berinvestasi dalam jumlah besar.

Baca Juga: Rapat Umum Pemegang Saham dan Segala Seluk Beluknya

Itulah tadi sekilas tentang market cap dan bagaimana strategi investasi untuk tiap kategori saham dengan tingkat market cap berbeda. Bagi kamu yang tertarik dengan bursa saham, tentu hal ini bisa menjadi salah satu sumber pengetahuanmu.

Sedangkan, bagi kamu yang masih mencari lowongan pekerjaan dan memiliki keahlian di bidang analisis pasar modal, maka bisa jadi EKRUT merupakan jalanmu untuk menjemput karier. Kamu bisa mendaftar lewat EKRUT dan ditemukan oleh berbagai perusahaan yang memerlukan kapasitas individu yang relevan denganmu.

Kamu hanya perlu membuat CV terbaikmu dan klik tautan di bawah ini untuk mendaftar lewat EKRUT.

sign up EKRUT

Sumber:

  • investopedia.com
  • thebalance.com
  • media.neliti.com

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    Kenali_Investasi_Reksa_Dana_Pendapatan_Tetap_(RDPT)_beserta_Kelebihan_dan_Kekurangannya.png

    Lainnya

    Kenali Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) beserta Kelebihan dan Kekurangannya

    Sylvia Rheny

    28 June 2022
    6 min read
    H1_Honorarium.jpg

    Lainnya

    Honorarium: Definisi, Ketentuan Hukum, dan Bedanya dengan Gaji

    Algonz D.B. Raharja

    27 June 2022
    5 min read
    H1_Total_Cost_Definisi__Manfaat__Jenis__Hingga_Rumus_dan_Contohnya.jpg

    Lainnya

    Total Cost: Definisi, Manfaat, Jenis, hingga Rumus dan Contohnya

    Sartika Nuralifah

    22 June 2022
    5 min read

    Video