Published on

Lainnya

Disaster Recovery Plan (DRP): Pengertian, Panduan Membuatnya, Tipe, dan Manfaatnya

Sylvia Rheny

Disaster_Recovery_Plan_(DRP)_Pengertian__Panduan_Membuatnya__Tipe__dan_Manfaatnya.jpg

DRP atau Disaster Recovery Plan penting dimiliki oleh perusahaan sebagai langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak terburuk yang bisa terjadi akibat terjadinya bencana atau hal-hal diluar dugaan. Untuk itu, ketahui pengertian, manfaat, jenis, hingga cara membuat Disaster Recovery Plan (DRP) berikut ini!

Baca juga: 6 Alasan pentingnya menjaga keamanan data pribadi

Pengertian Disaster Recovery Plan (DRP)


DRP adalah serangkaian langkah untuk melanjutkan operasi bisnis normal setelah bencana. (Sumber: Shutterstock)

Bersumber dari laman Hypr, Disaster Recovery Plan (DRP) adalah serangkaian langkah yang akan diambil perusahaan untuk melanjutkan operasi bisnis normal setelah bencana yang mengganggu operasi bisnis.

Sedangkan menurut Techopedia, Disaster Recovery Plan (DRP) adalah rencana bisnis yang menjelaskan bagaimana pekerjaan dapat dilanjutkan dengan cepat dan efektif setelah bencana.

DRP mirip dengan Business Continuity Plan (BCP), namun DRP secara khusus memperhatikan langkah-langkah yang diambil dan jenis pemulihan setelah bencana terjadi. DRP adalah bagian dari BCP dan diterapkan pada aspek perusahaan yang mengandalkan infrastruktur TI untuk berfungsi.

DRP berfungsi untuk memulihkan operasi bisnis normal yang hilang atau perlu dinilai ulang seperti data dari brankas, kembalinya karyawan ke tempat kerja normal, serta fitur bisnis non-darurat, dan sebagainya sebelum terjadi bencana atau gangguan.

Ide keseluruhannya adalah untuk mengembangkan rencana yang memungkinkan departemen TI dalam memulihkan data dan fungsionalitas sistem yang cukup untuk memungkinkan bisnis atau perusahaan beroperasi, bahkan mungkin pada tingkat minimal.

Pembuatan DRP dimulai dengan proposal DRP untuk memperoleh dukungan manajemen tingkat atas. Kemudian, analisis dampak bisnis / business impact analysis (BIA) diperlukan untuk menentukan fungsi bisnis mana yang paling kritis dan apa saja persyaratan untuk membuat komponen TI dari fungsi tersebut beroperasi kembali setelah bencana, baik di lokasi maupun di luar lokasi.

Baca juga: 5 Rekomendasi situs proxy site untuk keamanan berselancar

Cara membuat Disaster Recovery Plan (DRP)


Langkah awal membuat DRP adalah membuat analisis risiko. (Sumber: Shutterstock)

Terdapat langkah-langkah yang bisa kamu ikuti untuk membuat Disaster Recovery Plan (DRP) yang efektif. Cara membuat DRP adalah sebagai berikut:

1. Membuat analisis risiko

Langkah pertama dalam menyusun DRP adalah melakukan analisis risiko menyeluruh terhadap sistem komputer perusahaan. Buat daftar semua kemungkinan risiko yang mengancam waktu pengoperasian sistem dan evaluasi seberapa besar kemungkinan risiko tersebut terjadi.

Apa pun yang dapat menyebabkan pemadaman sistem adalah ancaman, mulai dari ancaman buatan manusia yang relatif umum seperti serangan virus dan penghapusan data yang tidak disengaja hingga ancaman alam yang lebih langka seperti banjir dan kebakaran.

Tentukan ancaman mana yang paling mungkin terjadi dan prioritaskan mereka menggunakan cara yang sederhana, misalnya beri peringkat setiap ancaman dalam dua kategori penting, probabilitas dan dampak. Di setiap kategori, beri peringkat risiko sebagai rendah, sedang, atau tinggi.

2. Menetapkan anggaran (budgeting)

Langkah selanjutnya dalam membuat DRP adalah budgeting. Setelah mengetahui risiko, cari tahu beberapa hal seperti: apa yang dapat dilakukan untuk menekannya dan berapa biaya yang diperlukan, dapatkah ancaman dideteksi secara dini, bagaimana cara mengurangi potensi terjadinya ancaman, dan cara meminimalkan dampaknya.

Hasil dari langkah di atas harus berupa daftar lengkap kemungkinan ancaman, masing-masing dengan solusi dan biaya yang sesuai. Kamu bisa memulai dengan menyajikan biaya downtime untuk bisnis, yaitu berapa lama bisnis kamu dapat bertahan tanpa sistem komputernya jika salah satu ancaman terjadi.

Anggaran pemulihan bencana bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain tetapi biasanya berkisar antara 2 dan 15 persen dari keseluruhan anggaran TI tergantung seberapa besar operasional perusahaan bergantung pada sistem.

3. Mengembangkan rencana

Langkah selanjutnya dalam membuat DRP adalah mengembangkan rencana. Prosedur DRP harus ditulis dalam rencana rinci atau "skrip." Kamu bisa membentuk tim pemulihan dari staf TI dan menetapkan tugas pemulihan khusus untuk setiap anggota.

Tentukan bagaimana menangani hilangnya berbagai aspek jaringan (basis data, server, jembatan/router, tautan komunikasi, dll.) dan tentukan siapa yang mengatur perbaikan atau rekonstruksi dan bagaimana proses pemulihan data terjadi.

Skrip juga akan menguraikan prioritas untuk pemulihan mulai dari apa yang perlu dipulihkan terlebih dahulu dan bagaimana prosedur komunikasinya. Untuk melengkapi skrip, buat checklist atau prosedur pengujian untuk memverifikasi bahwa semuanya kembali normal setelah perbaikan dan pemulihan data dilakukan.

4. Melakukan pengujian

Setelah DRP telah dibuat, lakukan pengujian sesering mungkin. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua orang mengetahui perannya. Uji sistem yang akan kamu gunakan dalam pemulihan secara teratur untuk memvalidasi bahwa semua bagian berfungsi. Selalu catat hasil pengujian dan perbarui DRP untuk mengatasi segala kekurangan.

Saat lingkungan bisnis berubah, DRP juga harus berubah. Periksa kembali rencana tersebut setiap tahun. Karyawan baru harus dilatih tentang prosedur pemulihan. Ancaman baru terhadap bisnis mungkin bisa muncul kapan saja dan DRP yang baik bisa memperhitungkan hal tersebut.

Baca juga: VPN adalah: 5 Kegunaan, risiko, dan memilih layanan yang tepat

Tipe-tipe Disaster Recovery Plan (DRP)


Terdapat beberapa tipe DRP yang disesuaikan untuk lingkungan tertentu. (Sumber: Shutterstock)

DRP dapat secara khusus disesuaikan untuk lingkungan tertentu. Beberapa tipe DRP adalah sebagai berikut:

1. Virtualized Disaster Recovery Plan

Virtualisasi memberikan peluang untuk menerapkan pemulihan bencana dengan cara yang lebih efisien dan sederhana. Lingkungan tervirtualisasi dapat meningkatkan instance dari virtual machine (VM) baru dalam hitungan menit dan menyediakan pemulihan aplikasi melalui high availability.

Pengujian juga dapat lebih mudah dilakukan, tetapi rencana tersebut harus mencakup kemampuan untuk memvalidasi bahwa aplikasi dapat dijalankan dalam disaster recovery mode dan kembali ke operasi normal dalam recovery time objective (RTO) and recovery point objective (RPO).

2. Network Disaster Recovery Plan

Mengembangkan rencana untuk memulihkan jaringan menjadi lebih rumit seiring dengan meningkatnya kompleksitas jaringan. Penting untuk merinci prosedur pemulihan langkah demi langkah, mengujinya dengan benar, dan terus memperbaruinya. Data dalam rencana ini akan khusus untuk jaringan, seperti kinerja dan staf jaringan.

3. Cloud Disaster Recovery Plan

Cloud DRP dapat berkisar dari cadangan file di cloud hingga replikasi lengkap. Cloud DRP ini dapat menghemat ruang, waktu, dan biaya, tetapi mempertahankan rencana pemulihan bencana memerlukan pengelolaan yang tepat. Manajer harus mengetahui lokasi server fisik dan virtual. Rencana tersebut harus bisa mengatasi keamanan, yang merupakan masalah umum di cloud yang dapat diatasi melalui pengujian.

4. Data Center Disaster Recovery Plan

Data Center DRP berfokus secara eksklusif pada fasilitas dan infrastruktur pusat data. Penilaian risiko operasional adalah elemen kunci dalam Data Center DRP. Data Center DRP ini menganalisis komponen utama seperti lokasi gedung, sistem tenaga dan perlindungan, keamanan, dan ruang kantor. DRP ini juga harus membahas berbagai kemungkinan skenario.

Baca juga: Fungsi cache dan cookies yang tak banyak diketahui!

Manfaat Disaster Recovery Plan (DRP)


Salah satu manfaat DRP adalah peningkatan produktivitas. (Sumber: Shutterstock)

DRP tentu memiliki manfaat utama seperti mencegah kehilangan data dan memungkinkan pemulihan TI yang memadai. Di luar itu, manfaat DRP untuk perusahaan antara lain:

1. Penghematan biaya

DRP mencakup berbagai komponen yang meningkatkan efisiensi biaya. Elemen yang paling penting termasuk pencegahan, deteksi, dan koreksi. Menjaga perangkat lunak diperbarui dan sistem dipelihara secara optimal dapat menghemat waktu dan lebih hemat biaya. Mengadopsi manajemen data berbasis cloud sebagai bagian dari DRP dapat semakin mengurangi biaya pencadangan dan pemeliharaan.

2. Peningkatan produktivitas

Menetapkan peran dan tanggung jawab tertentu bersama dengan akuntabilitas sebagai tuntutan DRP dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas dalam tim. Hal ini juga memastikan redundansi personel untuk tugas-tugas utama, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi biaya pergantian.

3. Peningkatan retensi pelanggan

DRP dapat membantu perusahaan memenuhi dan mempertahankan kualitas layanan yang lebih tinggi dalam setiap situasi. Mengurangi risiko yang dihadapi pelanggan dari data loss dan downtime memastikan mereka menerima layanan yang lebih baik selama dan setelah bencana, dan hal tersebut bisa meningkatkan loyalitas mereka.

Baca juga: 9 Data analytics tools terbaik sesuai kebutuhanmu

Sekian penjelasan mengenai DRP mulai dari pengertian DRP, manfaat DPR, tipe-tipe DRP, hingga cara untuk membuat DRP. Semoga informasi di atas bermanfaat, ya!

Selain dari artikel EKRUT Media ini, kamu masih bisa memperoleh informasi dan berbagai tips bermanfaat lainnya melalui YouTube EKRUT Official. Nah, jika ingin mengembangkan karier dan mencari pekerjaan baru, kamu cukup sekali sign up di EKRUT untuk mendapatkan lebih dari satu kali undangan interview oleh berbagai perusahaan terkemuka!

Rekomendasi Bacaan:

Sumber:

  • Druva
  • Tech Target
  • Hypr
  • Techopedia
  • Disaster Recovery Plan Template

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    general-affair-adalah-EKRUT.jpg

    Careers

    General Affair: Kualifikasi, tugas, skills, dan proyeksi karier

    Nur Lella Junaedi

    05 October 2022
    5 min read
    h1.jpg

    Lainnya

    Goodwill: Definisi, Jenis, Rumus, dan Cara Menghitungnya

    Tio Derma

    05 October 2022
    6 min read
    pexels-pixabay-53621.jpg

    Lainnya

    Cost Accounting (Akuntansi Biaya) adalah: Pengertian, Jenis, dan 5 Fungsinya

    Chrissila Jessica

    30 September 2022
    4 min read

    Video