Published on

Careers

Mengenal Hustle Culture, 4 Penyebab, dan Dampak Negatifnya dalam Bekerja

Tsalis Annisa

hustle_culture_ekrut.jpg

Seiring berjalannya waktu, kita semakin dituntut untuk bisa bekerja cepat dan menyelesaikan ragam pekerjaan demi bisa memenuhi kebutuhan hidup dan target pencapaian lainnya. Hingga pada akhirnya, secara tidak sadar kita sedang menjalani hustle culture. Agar lebih paham mengenai budaya kerja yang satu ini dan tidak semakin tenggelam di dalamnya, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai hustle culture dan dampaknya yang perlu kamu waspadai.

Apa itu hustle culture?


Tren content marketing yang dapat kamu terapkan. (sumber: pexels)

Pernah menghabiskan 6 hari dalam seminggu untuk bekerja dan hanya punya sedikit waktu untuk mengurus kehidupan personal? Itu artinya kamu sedang menjalankan hustle cultureHustle culture merupakan istilah yang merujuk kepada budaya dimana pekerjaan merupakan prioritas utama di atas kehidupan pribadi. Hustle culture mendorong diri kamu untuk bekerja melewati batas kemampuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Kondisi ini mungkin sangat tidak asing bagi kamu karena seiring berjalannya waktu, hustling menjadi hal yang umum terjadi, terlebih lagi kita dituntut untuk dapat bergerak cepat.

Baca juga: 5 Tips kerja dari rumah agar lebih efektif

4 Penyebab hustle culture


Tuntutan gaya hidup dan sosial adalah salah satu penyebabnya. (sumber: pexels)

Seperti yang sudah disebutkan di atas, salah satu penyebab hustle culture adalah dorongan untuk memiliki pendapatan yang jauh lebih tinggi. Adapun penyebab hustle culture lainnya adalah sebagai berikut.

1. Tuntutan sosial

Saat seseorang bisa pergi ke tempat yang bagus, memiliki aset seperti rumah, mobil dan lainnya sebagainya, maka umumnya sosial akan menganggapnya sebagai seseorang yang sukses. Pandangan inilah yang secara tidak langsung menjadi tuntutan. Terlebih lagi bagi seseorang yang ingin terlihat sukses. Jika kamu salah satunya, maka hasilnya kamu akan berusaha sebaik dan sekeras mungkin untuk mengerjakan banyak hal agar memiliki penghasilan besar.

2. Teknologi

Jika dulu kamu harus berada di depan komputer untuk bekerja, saat ini tablet maupun telepon genggam dapat dijadikan sarana untuk berdiskusi dengan tim bahkan mengerjakan pekerjaanmu. Kemudahan yang diberikan teknologi inilah yang akhirnya membuat batas antara ruang kerja dengan ruang pribadi menjadi semakin buram. Karena kamu semakin tidak memiliki alasan dan kendala untuk melakukannya.

3. Menganggap tekanan adalah hal yang positif

Pernah mendengar kalimat, "pressure is good"? Ini adalah salah satu bentuk tekanan yang dianggap positif atau bisa juga disebut toxic positivity. Meski mungkin sepintas terlihat bagus, namun kondisi ini semakin lama dapat berpotensi menimbulkan stres dan tidak menutup kemungkinan dapat membuat kamu mengalami sakit.

4. Rasa tanggung jawab terlalu tinggi

Memiliki rasa tanggung jawab merupakan hal yang bagus untuk seorang karyawan. Namun, jika terlalu tinggi bahkan selalu mengatakan "iya" pada setiap tugas yang diberikan, maka perlahan kamu akan menjalani hustle culture.

Baca juga: 7 Tips manajemen waktu yang efektif untuk mencapai kesuksesanmu

Dampak hustle culture


Burnout merupakan salah satu dampak dari hustle culture. (sumber: pexels)

Ada banyak hal yang bisa diakibatkan oleh hustle culture, salah satunya adalah burnout. Burnout adalah kondisi dimana mental dan emosi kamu merasa sangat kelelahan hingga kamu tidak memiliki semangat atau motivasi yang sama seperti dulu.

Saat burnout, kamu akan mengalami beberapa hal seperti tidak lagi merasa tertarik dengan pekerjaanmu, merasa kurang peduli dengan orang lain, merasa depresi maupun cemas, kerap menunda pekerjaan, membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaan, bahkan berpotensi untuk lebih sering melakukan kesalahan. Selain burnout, berikut adalah dampak dari hustle culture yang perlu kamu waspadai.

1. Menjadi sering mengeluh

Sebagai hustler atau seseorang yang menjalani hustle culture, pencapaian orang lain terkadang terlihat seperti kompetisi. Hal inilah yang terkadang membuat kamu mungkin terus merasa tidak cukup dengan apa yang sudah kamu hasilkan sejauh ini dan menjadi sering mengeluh.

2. Tidak memiliki kehidupan yang seimbang

Dengan terus bekerja mencapai target ekonomi yang diinginkan, kamu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu sehingga kamu tidak memiliki waktu untuk keluarga, teman, bahkan dirimu sendiri. 
Padahal, work life balance merupakan salah satu hal yang dapat membantu kamu menurunkan tingkat stres karena pekerjaan.

Baca juga: 9 Tanda Kamu Butuh Cuti Secepatnya

Cara mengatasi hustle culture


Mulailah untuk membagi waktu untuk kehidupan pribadi. (sumber: pexels)

Meski awalnya mungkin terasa sulit untuk keluar dari budaya ini, namun dengan upaya penerapan ritme kerja yang baru dan tepat kamu pasti bisa melakukan penyesuaian.

1. Pasang batasan antara ruang kerja dan kehidupan pribadi

Cobalah mulai memberanikan diri untuk memberi batasan dengan menetapkan jam berapa terakhir kamu akan membalas email dan mengerjakan pekerjaanmu. Pastikan juga kamu menyampaikannya kepada rekan kerja dan atasanmu tujuannya adalah untuk meminimalisir konflik dan agar mereka paham dengan kondisimu.

2. Cari tahu batas kemampuan energimu

Sebagai seorang hustler mungkin kamu akan kesulitan untuk benar-benar menyadari kapan kamu harus berhenti dan beristirahat. Jadi, cobalah untuk membuat jurnal harian mengenai apa yang terjadi pada hari itu. Apa saja yang berhasil kamu kerjakan dengan baik, apa yang tidak, kapan kamu merasa kamu kesulitan untuk berpikir dan seterusnya. Dari sini kamu akan lebih mudah dalam menentukan ritme kerja dan bagaimana kamu mengalokasikan energi dan waktu yang kamu miliki.

3. Luangkan waktu untuk melakukan hobimu dan beristirahat

Kedua hal ini sangatlah penting untuk terus menjaga stamina dan kemampuan berpikir. Jadi, pastikan kamu meluangkan waktu untuk merawat diri, bertemu dengan teman atau keluarga, serta melakukan hobi yang dapat mengurangi stres akibat bekerja.

4. Utamakan pekerjaan yang berdampak besar

Bagaimana caranya? Kamu bisa melakukan analisis 80/20 dengan memprioritaskan pekerjaan yang dalam 20% aksimu dapat memberikan 80% hasil. Sedangkan untuk pekerjaan yang tidak terlalu memberikan dampak yang besar, kamu bisa mendelegasikannya kepada tim mu atau meletakkannya di prioritas bawah.

Sekilas tujuan dari hustle culture ini nampak baik. Kamu bekerja keras dan berproses untuk memiliki masa depan yang lebih baik dan sukses. Namun, melakukannya secara terus menerus bahkan enggan mengambil cuti bisa berdampak buruk bagi dirimu dan orang sekitar.

Baca juga: 6 Cara agar tidak stres setelah bekerja seharian

Jadi, cobalah untuk mengambil jeda dari kerja keras atau hustle culture ini. Cobalah untuk beristirahat dan peduli terhadap kesehatan tubuh serta mentalmu. Ingat, kerja kerasmu selama ini mungkin akan sia-sia jika kamu sakit atau hal buruk lainnya menimpamu.

Selain dari artikel EKRUT Media ini, kamu masih bisa memperoleh informasi dan berbagai tips bermanfaat lainnya melalui YouTube EKRUT OfficialNah, jika ingin mengembangkan karier dan mencari pekerjaan baru, kamu cukup sekali sign up di EKRUT untuk mendapatkan lebih dari satu kali undangan interview oleh berbagai perusahaan ternama!

Sumber:

  • goodhousekeeping.com
  • blog.skillacademy.com
  • orami.co.id
  • sampoernauniversity.ac.id

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    shutterstock_1682336344.jpg

    Careers

    9 Tips Menghadapi Interview Kerja Setelah Terkena Layoff

    Fakhrizal Muttaqien

    23 September 2022
    7 min read
    cara-membalas-email-panggilan-interview---EKRUT.jpg

    Careers

    Cara Membalas Email Panggilan Interview beserta Contohnya

    Maria Tri Handayani

    23 September 2022
    7 min read
    H1_1._10__Rekomendasi_Kursus_Digital_Marketing.jpg

    Careers

    10+ Rekomendasi Kursus Digital Marketing

    Anisa Sekarningrum

    21 September 2022
    8 min read

    Video