Published on

Careers

Mau ambil rumah? Ketahui dulu jenis KPR dan persyaratannya

Nur Lella Junaedi

kpr-adalah-EKRUT.jpg

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jadi salah satu upaya yang dilakukan milenial untuk memiliki rumah idaman. 

Walaupun begitu ada baiknya kamu tidak asal mengambil KPR. Sebab tanpa pertimbangan yang benar, bisa jadi kamu justru malah kebingungan dalam membayar cicilan KPR per bulan. 

Oleh karena itu, sebelum mengambil KPR ada baiknya kamu mengenal lebih dahulu tentang KPR dan menentukan jenis KPR mana yang cocok untukmu.

Apa itu KPR?  

kpr adalah EKRUT 
KPR adalah kredit yang digunakan untuk membeli berbagai jenis properti-EKRUT

Secara singkat, KPR adalah fasilitas pinjaman berupa kredit atau cicilan yang digunakan untuk membeli  rumah atau jenis properti lainnya seperti rumah bekas, apartemen hingga ruko di mana properti tersebut menjadi jaminannya.  

Untuk mengajukan KPR setidaknya kamu harus memiliki down payment (DP) atau uang muka yang disetorkan di awal kepada pihak pemberi KPR, dalam hal ini bank. 

Bank Indonesia sendiri pada Juni 2018, telah mengeluarkan aturan untuk membebaskan bank menentukan nilai uang muka untuk pembelian rumah pertama. 

Sementara untuk pembelian rumah kedua, BI mengatur uang mukanya mencapai 10-20 persen terkecuali rumah tipe 21 meter. Walaupun begitu, umumnya uang muka KPR mencapai sekitar 10-20 persen dari harga beli properti.

Nantinya setelah kamu melunasi uang muka tersebut, kamu harus mencicil angsuran sesuai dengan suku bunga yang berlaku dan masa utang yang disepakati. 

Akan tetapi sebelum kamu mengajukan KPR, ketahui terlebih dahulu jenis KPR yang ada di Indonesia.

Baca juga: Cara punya rumah dengan gaji di bawah Rp 10 juta

Jenis KPR berdasarkan suku bunga yang wajib kamu tahu!

kpr adalah EKRUT 
Setidaknya ada sekitar 4 jenis KPR yang perlu kamu tahu-EKRUT

Dalam pembahasan kedua ini sebelum memutuskan mengambil KPR, alangkah bijaknya bila kamu membandingkan terlebih dahulu jenis KPR yang kemungkinan mampu kamu ambil. Beberapa jenis KPR adalah:

1. KPR konvensional atau non subsidi 

Jenis KPR ini adalah jenis produk kredit perumahan dari suatu bank tanpa adanya campur tangan dari pemerintah, dimana dalam persyaratan dan ketentuannya sudah disepakati oleh bank dan pihak peminjam, termasuk di dalamnya terkait masa kredit serta persentase pembayaran dan suku bunga. 

Umumnya, ada dua jenis suku bunga di dalam KPR konvensional atau non subsidi ini yaitu: 

  • KPR dengan bunga rata atau fixed rate adalah bunga KPR yang tidak akan berubah dalam periode masa hutang yang telah disepakati, walaupun suku bunga bank mengalami kenaikan atau penurunan.

Dengan begitu keuntungannya memilih KPR dengan bunga flat adalah angsuranmu akan tetap sama setiap bulannya.Bagi orang yang berpenghasilan tetap, KPR dengan bunga flat ini bisa menjadi pilihan menarik untuk dicoba. 

Hanya saja kekurangannya adalah saat suku bunga turun, kamu akan tetap membayar angsuran dengan nominal normal dan terkadang di beberapa bank bunga flat ini dikenai nilai angsuran yang cukup besar setiap bulannya.

  • KPR dengan suku bunga floating rate atau mengambang adalah bunga KPR yang selalu mengikuti suku bunga di pasaran. Bila suku bunga sedang naik maka debitur harus membayar cicilan KPR lebih tinggi mengikuti besaran suku bunga yang ditetapkan. 

Sedangkan keuntungannya bila bunga sedang turun, debitur dapat membayar angsuran dengan cicilan yang lebih rendah. Meski begitu, penurunan suku bunga ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi suatu negara. 

Bila negara yang bersangkutan sedang mengalami banyak masalah maka, bisa jadi akan mengalami defisit anggaran negara yang membuat suku bunga menjadi lebih rendah.

Baca juga: 5 Penghasilan pekerjaan ini membuat kamu mampu beli rumah

2. KPR bersubsidi 

KPR bersubsidi memiliki pengertian sebagai jenis produk KPR yang disediakan oleh pemerintah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. 

Suku bunga yang ditetapkan oleh KPR bersubsidi ini besarnya mencapai 5 persen dan bersifat tetap dalam pembayaran angsurannya berdasarkan masa utang, di mana maksimal pelunasan utang hingga 20 tahun. 

Untuk mengambil jenis kpr bersubsidi ini, kamu harus memiliki uang muka setidaknya 1 persen dari harga properti tersebut. 

Meski begitu, untuk mengambil jenis KPR ini tidak mudah lho, sebab diperlukan beberapa verifikasi dan persyaratan yang menunjang agar kamu dapat memiliki rumah bersubsidi. 

Pasalnya rumah ini diperuntukkan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Beberapa kelebihan dari mengambil rumah dengan KPR bersubsidi yakni: 

  • Harga terjangkau 
  • Lahan berada di daerah yang berpotensi mengalami perkembangan 
  • Rumah ready stock artinya sudah ada dan siap huni

Sementara itu bila dilihat dari kekurangan mengambil KPR bersubsidi adalah: 

  • Akses sulit dijangkau 
  • Jauh dari pusat kota 
  • Kualitas bangunan tidak cukup baik atau bagus untuk digunakan dalam waktu yang lama
  • Spesifikasi bangunan yang ditawarkan terbatas

3. KPR Syariah   

KPR Syariah ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan KPR non subsidi. Perbedaannya ada pada penggunaan syariat Islam dimana transaksinya menggunakan akad murabahah jual beli atau akad musyarakah mutanaqishah atau sewa. 

4. KPR In-house

KPR jenis ini adalah KPR yang disediakan oleh pengembang sehingga segala bentuk transaksi merujuk pada kesepakatan antara pengembang dan calon pembeli. Nantinya rumah akan diserahkan oleh pengembang apabila total pembayaran telah mencapai lebih dari 80 persen dan akan disahkan pula oleh Notaris dalam akta perjanjian jual beli (PJB).

Baca juga: 5 Cara mengatur keuangan agar bisa beli rumah

Persyaratan pengajuan KPR

kpr adalah EKRUT 
Sebelum mengajukan KPR ketahui pula syarat-syarat dan dokumen yang diperlukan-EKRUT

Setelah kamu memahami jenis-jenis KPR di atas dan telah menentukan jenis KPR mana yang akan diambil, langkah selanjutnya yaitu mengetahui persyaratan pengajuan KPR. Adapun umumnya persyaratan KPR adalah: 

  1. Umur dari orang yang mengajukan pinjaman tidak kurang dari 21 tahun dan tidak lebih dari 50 tahun 
  2. Dokumen yang disiapkan antara lain KTP, Kartu Keluarga, akta nikah, surat keterangan warga negara Indonesia, dokumen kepemilikan seperti SHM,PBB dan IMB
  3. Dokumen pendukung bagi pemohon dengan pekerjaan sebagai karyawan, seperti slip gaji 3 bulan terakhir, buku tabungan dengan transaksi keluar 3 bulan terakhir dan surat keterangan kerja 
  4. Dokumen pendukung bagi pemohon berstatus wiraswasta di antaranya surat izin perdagangan (SIUP), NPWP, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), bukti transaksi usaha, dan rekening tabungan beserta catatannya

Pertimbangan bagi milenial, lebih baik mencicil KPR atau sewa?

kpr adalah EKRUT 
Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengajukan KPR menurut Farah-EKRUT

Selain beberapa hal di atas, ada baiknya keputusan untuk mengambil KPR tetap dipertimbangkan dengan matang.
Hal ini ditegaskan oleh Farah Dini Novita selaku Co-Founder & CEO dari Jouska Indonesia dalam sesi EKRUT Talks beberapa waktu lalu yang mengangkat  tema tentang, “Rumah untuk milenial: sewa atau KPR?”.

Dalam pembahasan itu, Farah memandang bahwa sekarang ini kebutuhan akan rumah menjadi bagian dari additional goals. Artinya membeli rumah adalah tujuan lain dari hidup karena fungsinya dapat digantikan oleh beberapa alternatif lain seperti sewa apartemen, kost, kontrakan dan tinggal bersama orang tua. 

Ia pun menyarankan agar kamu bisa lebih fokus pada tujuan utama keuangan yang lebih penting sebelum memutuskan mengambil KPR. Apa saja tujuan itu? 

  • Menyiapkan dana asuransi jiwa atau kesehatan bagi dirimu dan anggota keluarga bila telah menikah 
  • Menyiapkan dana darurat atau cadangan 
  • Menyiapkan dana pendidikan anak
  • Menyiapkan dana pensiun

Baca juga: Cara jitu mengatur keuangan rumah tangga di tengah pandemi

Nah, apabila keempat kebutuhan ini telah terpenuhi maka selanjutnya kamu bisa mencoba untuk mengambil KPR disertai dengan beberapa pertimbangan seperti: 

  • Pertimbangkan pula biaya lain yang menyertai uang muka KPR seperti biaya notaris, pajak, asuransi, dan administratif. 
  • Pertimbangkan juga cicilan KPR yang membengkak. Pasalnya menurut Farah, tahun pertama hingga tahun kelima cicilan KPR itu umumnya suku bunga yang dipakai adalah flat disebabkan adanya promosi dari bank. 

Sayangnya, baru di tahun keenam suku bunga KPR akan mulai mengalami floating atau berubah-ubah, tentunya keadaan ini akan memaksamu membayar cicilan KPR lebih tinggi.

Bila melihat pada teori keuangan, jumlah cicilan itu tidak boleh lebih dari 30 persen dari gaji. Sebab bila lebih dari itu, maka keuangan kamu hanya akan habis untuk membayar utang saja,” ucap Farah.

Jika kamu tertarik untuk mengetahui  pembahasan KPR untuk milenial ini secara lengkap, kamu bisa melihatnya melalui video di bawah ini. 

Jadi, itulah gambaran lengkap tentang KPR dan seluk beluknya. Ada baiknya sebelum mengambil KPR, kamu mempertimbangkan lebih dahulu mengenai kebutuhan akan rumah itu sendiri. Jangan sampai memiliki rumah malah akan menjadi hal yang membebanimu

kpr adalah EKRUT

Sumber:

  • cermati.com
  • duwitmu.com
  • 99.co
  • cekaja.com

Tags

Share