Published on

startup

Memahami Lean Startup, Metode yang Wajib Dikuasai oleh Business Owner Saat Ini!

Sylvia Rheny

Memahami_lean_startup__metode_yang_wajib_dikuasai_oleh_Business_Owner_saat_ini!.jpg

Jika kamu sekarang ini sedang berpikir untuk membuat bisnis dan sedang mencari metode untuk melakukannya, mungkin ini saat yang tepat untuk kamu memahami metode lean startup dan perbedaannya dengan startup tradisional. Dengan mengetahui keduanya maka akan membantu kamu untuk menentukan mana metode yang tepat untuk diterapkan di bisnismu.

Berikut penjelasan selengkapnya seputar pengertian lean startup, karakteristik lean startup, fase-fase dalam lean startup, hingga perbedaannya dengan startup tradisional!

Apa itu lean startup?


Lean startup dirancang untuk mengembangkan bisnis secara efektif. (Sumber: Pexels)

Menurut Investopedia, lean startup adalah metode yang digunakan untuk mendirikan perusahaan baru atau memperkenalkan produk baru atas nama perusahaan yang sudah ada.

Sedangkan bersumber dari laman University Lab Partners, metode lean startup adalah metode mengelola dan membangun bisnis atau startup dengan bereksperimen, menguji, dan mengulangi sambil mengembangkan produk berdasarkan temuan dari pengujian dan feedback.

Metode lean startup ini dirancang untuk mengembangkan produk dan bisnis dalam waktu singkat dan memberikan produk kepada pelanggan dengan lebih cepat.

Saat menerapkan metode lean startup, bisnis akan berfokus pada pengembangan produk sambil mendapatkan feedback pelanggan, yang biasanya dilakukan dengan meluncurkan dan menguji MVP (Minimum Viable Product) ke pasar atau sebagian kecil pelanggan.

Metode lean startup memungkinkan pencipta produk atau bisnis dengan cepat menentukan apakah model bisnis mereka layak dan tahu kapan waktunya bertahan atau berbalik.

Baca juga: MVP (Minimum Viable Product): Pengertian, 3 tahapan, tujuan, karakteristik, dan contohnya

Karakteristik lean startup


Lean startup berfokus pada eksperimen dan keinginan pasar. (Sumber: Pexels)

Model lean startup dirancang untuk mendorong startup dalam proses pengembangan produk yang efisien. Beberapa karakteristik utama dari lean startup adalah sebagai berikut:

  • Memungkinkan business owner mengembangkan produk berdasarkan keinginan pasar
  • Menggunakan pembelajaran yang divalidasi untuk menentukan minat pelanggan
  • Berfokus pada metrik seperti popularitas produk dan lifetime customer value
  • Dimulai dengan MVP (Minimum Viable Product) untuk menilai reaksi pelanggan terhadap produk
  • Eksperimen lebih berharga daripada perencanaan terperinci

Baca juga: 9 Segmen business model canvas untuk merancang bisnis startup

3 Fase lean startup


Fase lean startup meliputi build, measure, dan learn. (Sumber: Pexels)

Metode lean startup diciptakan oleh Eric Ries dengan tujuan untuk meminimalkan risiko saat mendirikan sebuah startup. Untuk itu, metode lean startup berpusat pada build, measure, dan learn agar efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Penjelasan selengkapnya mengenai 3 fase lean startup adalah sebagai berikut.

1. Build

Fase pertama dalam lean startup adalah build. Ini merupakan fase penciptaan MVP (Minimum Viable Product) yang mengacu pada layanan atau produk yang memiliki fitur yang cukup untuk membuat pelanggan tetap puas saat business owner menguji teori bahwa produk tersebut dapat sukses di pasar.

Ingatlah bahwa MVP tidak boleh diberikan kepada semua pelanggan namun sebagian kecil pelanggan di berbagai demografi yang dapat menggunakan produk tersebut. Karena fase build adalah aspek pertama dari metode ini, sangat disarankan agar kamu mulai membuat produk atau layanan dasar pada hari-hari awal startup-mu berdiri.

2. Measure

Fase selanjutnya dalam lean startup adalah measure. Ini merupakan fase untuk mengukur hasil MVP secara efektif sambil terus mengembangkannya. Feedback yang diberikan oleh pelanggan dapat digunakan untuk menyempurnakan produk yang kamu kembangkan dan fitur-fitur di dalamnya.

Feedback dari pelanggan dapat diukur dengan berbagai cara. Dalam bisnis online, feedback bisa didapatkan dengan cara memberikan survei kepada pelanggan dan dengan melihat analitik situs web. Dari situ, kamu bisa menentukan apa yang bisa ditingkatkan dan sebaiknya kamu lakukan.

Sedangkan untuk produk yang sedang diuji sebelum dipasarkan, feedback dapat lebih mudah diperoleh dengan mengajukan pertanyaan kepada penguji tentang produk yang mereka gunakan. Setelah memperoleh data tentang produk minimum yang layak, kamu dapat mulai belajar dari data ini, yang merupakan fase ketiga dari metode lean startup.

3. Learn

Fase ketiga dalam lean startup adalah learn. Jika pada akhirnya kamu ingin membuat produk atau layanan yang siap dipasarkan, maka penting bagi kamu untuk belajar dari data dan feedback yang diterima. Meskipun begitu, fase ini tidak selalu mudah dilakukan.

Misalnya, beberapa feedback yang kamu terima mungkin tidak mengarah pada pembuatan produk yang sukses. Namun, feedback ini paling baik digunakan untuk mengidentifikasi aspek produk mana yang tidak berfungsi dan aspek mana yang mungkin perlu disempurnakan.

Jika kamu dapat belajar secara efektif dari hasil pengujian produk, kamu harus dapat mengembangkan produk yang memenuhi kebutuhan target audience.

Baca juga: 6 Langkah validasi ide startup yang penting dilakukan

Bedanya lean startup dengan traditional startup


Terdapat perbedaan prinsip utama antara lean startup dengan traditional startup. (Sumber: Pexels)

Terdapat perbedaan antara lean startup dengan traditional startup. Prinsip-prinsip startup tradisional berpusat pada pengembangan produk secara diam-diam dan mengharuskan startup untuk membuat rencana bisnis 2-5 tahun yang menjabarkan semua tujuan dan ide tentang bagaimana cara mencapai kesuksesan.

Meskipun pendekatan ini berhasil untuk perusahaan yang telah mencapai banyak kesuksesan, pendekatan ini bisa jadi kurang bermanfaat bagi startup tahap awal.

Pengusaha yang menggunakan metode lean startup biasanya akan memulai dengan mencari model bisnis yang tepat dan menguji ide yang mereka miliki. Feedback yang diterima dari pelanggan kemudian digunakan untuk mengulangi produk dan memperbaikinya. Meskipun kedua pendekatan ini bisa berhasil, mereka memiliki prinsip utama yang sangat berbeda.

Baca juga: Apa itu Scrum Master? Berikut ini fungsi, tugas, dan 5 skill utamanya 

Persyaratan lean startup


Eksperimen pada lean startup lebih berharga daripada perencanaan terperinci. (Sumber: Pexels)

Metode lean startup menganggap eksperimen lebih berharga daripada perencanaan terperinci, dan reaksi pelanggan adalah yang terpenting. Lean startup menggunakan model bisnis berdasarkan hipotesis yang diuji dengan cepat.

Ketika pelanggan tidak bereaksi seperti yang diinginkan, startup dengan cepat menyesuaikan diri untuk membatasi kerugiannya dan kembali mengembangkan produk yang diinginkan konsumen.

Pebisnis yang mengikuti metode ini, menguji hipotesis mereka dengan melibatkan pelanggan potensial, pembeli, dan mitra untuk mengukur reaksi mereka tentang fitur produk, harga, distribusi, dan akuisisi pelanggan.

Dengan informasi tersebut, pemilik bisnis membuat penyesuaian kecil yang disebut iterasi pada produk, dan penyesuaian besar yang disebut pivot memperbaiki masalah utama apa pun. Fase pengujian ini dapat mengakibatkan perubahan target pelanggan atau modifikasi produk untuk melayani target pelanggan saat ini dengan lebih baik.

Metode lean startup pertama-tama mengidentifikasi masalah yang perlu dipecahkan. Kemudian, mengembangkan MVP yang memungkinkan pemilik bisnis untuk memperkenalkannya kepada pelanggan potensial untuk mendapatkan feedback.

Lean startup mendefinisikan ulang startup sebagai perusahaan yang mencari model bisnis yang scalable, bukan yang memiliki rencana bisnis yang sudah ditentukan untuk dijalankan.

Baca juga: Kuasai hal ini untuk jadi product manager

Contoh lean startup


Dropbox adalah salah satu contoh kesuksesan lean startup. (Sumber: Dropbox)

Dropbox adalah salah satu contoh bisnis yang paling terkenal yang telah berkembang menggunakan metode lean startup. Dropbox adalah layanan transfer file yang saat ini memiliki lebih dari 500 juta pengguna di seluruh dunia.

MVP Dropbox pada awalnya adalah dalam bentuk siaran layar berdurasi 3 menit yang menunjukkan kepada audiens tentang apa yang dapat dilakukan oleh Dropbox.

Tanggapan terhadap video memungkinkan Dropbox untuk menguji apakah terdapat permintaan untuk produk tersebut dan pada saat yang sama adalah cara Dropbox untuk mendapatkan calon pelanggan awal melalui daftar tunggu.

Selain itu, komentar di video tersebut merupakan cara bagi Dropbox untuk mendapatkan feedback dari target audience yang kemudian digunakan oleh tim untuk membentuk pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Sekian penjelasan tentang lean startup hingga perbedaan antara lean startup dengan traditional startup. Semoga artikel ini dapat membantu kamu menentukan metode mana yang tepat untuk diterapkan dalam bisnismu.

Selain dari artikel EKRUT Media ini, kamu masih bisa memperoleh informasi dan berbagai tips bermanfaat lainnya melalui YouTube EKRUT Official. Nah, kalau kamu ingin mengembangkan karier dan mencari pekerjaan baru, yuk sign up di EKRUT sekarang juga karena banyak peluang kerja dari perusahaan dan startup ternama menantimu!

Sumber:

  • University Lab Partners
  • Investopedia
  • The Startup Factory
  • Netguru

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    H1_(4)_(1).jpg

    startup

    Apa Itu Decacorn? Berikut Informasi Lengkapnya beserta Bedanya dengan Unicorn dan Hectocorn!

    Gloria Renatha

    10 June 2022
    5 min read
    H1_1._Startup_Adalah_Definisi__Cara_Kerja__Kelebihan-Kekurangan__dan_6_Tipe_Perusahaannya.jpg

    startup

    Startup Adalah: Definisi, Cara Kerja, Kelebihan-Kekurangan, dan 6 Tipe Perusahaannya

    Anisa Sekarningrum

    28 April 2022
    5 min read
    H1_ojk_adalah.jpg

    startup

    Mengenal Apa itu OJK? Mulai dari Tujuan, Peran, Fungsi, dan 4 Wewenangnya

    Alvina Vivian

    08 April 2022
    5 min read

    Video