Published on

Expert's Corner

Full-Stack Developer: Tugas, Kualifikasi, dan Proyeksi Karier 2022

Tio Derma

full-stack-developer-EKRUT.jpg

Full-stack developer adalah seorang ahli teknologi yang mampu memperbaiki front-end maupun back-end dari sebuah aplikasi. Oleh karena itu, orang yang bekerja pada posisi ini perlu paham dan familiar dengan hal seperti tampilan utama yang berkaitan dengan user interface, tampilan dapur aplikasi yang berkaitan dengan validasi data, dan tampilan database. Seorang full-stack developer memang tidak perlu menguasai segala jenis teknologi, namun setidaknya mampu memenuhi keinginan klien dan mengembangkan aplikasi sesuai permintaan. Nah, artikel ini akan mengulas tugas, kualifikasi, dan proyeksi karier full-stack developer. Untuk itu, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Ikuti tips ini dan dapatkan posisi software developer!

Apa itu full-stack developer?

seorang full-stack developer sedang membuat code
Full-stack developer diharuskan memiliki kemampuan yang beragam dalam bahasa pemrograman (sumber: pexels)

Seperti yang telah disinggung di atas, kamu mungkin pernah mendengar tentang pengembang back-end yang bekerja di belakang layar maupun pengembang front-end yang bekerja dengan proses coding dalam pembuatan situs laman dan aplikasi yang dilihat pengguna sebagai produk akhir. Secara ringkas, full-stack developer adalah seorang pemrogram terampil yang dapat melakukan dua hal tersebut.

Seorang full-stack developer adalah pengembang perangkat lunak yang memiliki kemampuan di berbagai pokok keahlian untuk membuat produk perangkat lunak. Umumnya, seorang full-stack developer diminta untuk menulis kode back-end, mengintegrasikan database, dan menulis HTML/CSS di bagian front-end yang terintegrasi dengan kode back-end tadi. Sebagai teknisi profesional, seorang full-stack developer tentunya diharuskan memiliki kemampuan yang beragam dalam bahasa pemrograman.

Hal itu membuat pekerjaan ini merupakan aset yang amat bernilai bagi banyak perusahaan. Sebabnya, seorang full-stack developer terlibat dalam seluruh proses untuk menerapkan fitur-fitur digital ke dalam produksi. Di samping itu, seorang full-stack developer amat diharapkan untuk dapat menggunakan pengetahuan mereka untuk membuat, mengembangkan, dan memecahkan permasalahan dalam berbagai proyek perusahaan, baik untuk karyawan internal maupun untuk klien.

Baca juga: 6 Keuntungan menjadi Software Developer

Perbedaan full-stack developer dan full-stack engineer

seorang full-stack developer sedang bekerja di depan komputer
Terdapat beberapa perbedaan khusus antara full-stack developer dan full stack engineer (sumber: pexels)

Meski secara umum dianggap sama, namun terdapat beberapa perbedaan khusus antara full-stack developer dan full-stack engineer. Keduanya seringkali dirangkap menjadi satu pekerjaan yang sama, meski sejatinya seorang pengembang dan teknisi full-stack dapat dibedakan. Berikut adalah beberapa perbedaan tersebut.

Full-stack developer Full-stack engineer
Bekerja untuk pengembangan di sisi server (internal) dan klien. Secara umum lebih terikat pada coding aplikasi internal.
Menulis application programming interface (API) untuk desain situs web. Membangun aplikasi yang bekerja di personal computer.
Dapat mengakses seluruh aspek dari aplikasi web dan membantu pemecahan
masalah di bagian front-end maupun back-end.
Hanya bertanggung jawab pada aspek tertentu dan tidak aksesibilitas.
Membuat prototipe dalam waktu cepat untuk desain produk, pendekatan holistik. Membangun sebuah langkah untuk sebuah aplikasi, harus memastikan tidak ada eror, pendekatan parsial (khusus).
Harus mengetahui bahasa pengembangan front-end, termasuk HTML, CSS, dan
JavaScript, bersama dengan bahasa back-end seperti Python dan PHP.
Fokus pada bahasa pemrograman tertentu dalam pembuatan aplikasi pada
operating system (OS) seperti C#, Java, dan Swift. Memahami konsep dasar
ilmu komputer.
Umumnya adalah ketua dari sebuah tim dengan anggota dari kedua aspek pengembangan (front-end dan back-end). Umumnya adalah bagian dari sebuah tim yang bekerja di area tertentu dan
bekerja dengan anggota lainnya untuk membangun langkah-langkah berbeda
untuk sebuah aplikasi.
Bekerja pada aplikasi web yang produknya dapat diakses siapa saja melalui laman internet. Contoh: SEMRush dan Grammarly. Bekerja untuk membangun aplikasi asli pada PC. Contoh: Adobe dan Desktop’s Skype.

Jika dilihat secara umum, tugas seorang pengembang dan teknisi memang serupa, tetapi peran utama mereka dalam sebuah tim amat berbeda. Begitu pula akses yang dapat dilakukan dalam proses kerja hingga cakupan produk aplikasinya juga berbeda.

Baca juga: Panduan software development bagi milenial

Tools umum yang digunakan oleh full-stack developer

seorang full-stack developer sedang bekerja
Full-stack developer harus dapat mengoperasikan sejumlah tools untuk memudahkan pekerjaannya (sumber: pexels)

Full-stack developer sangat dibutuhkan di berbagai perusahaan, sehingga banyak juga tools yang dibuat untuk membantu seorang full-stack developer bekerja lebih baik. Seorang full-stack developer andal harus dapat mengoperasikan sejumlah tools untuk memudahkan pekerjaannya. Berikut beberapa tools umum yang digunakan oleh full-stack developer.

1. Backbone.js

Backbone.js merupakan tool yang mempermudah pengelolaan data di JavaScript dan memberikan struktur untuk aplikasi web. Backbone.js mudah dioperasikan dan memiliki fitur yang lengkap. Dengan Backbone.js, kamu dapat melakukan proses MVC (Model, View, Controller) atau membangun model, mengecek, hingga mengendalikannya.

2. Github

Github adalah salah satu tool penting yang harus dikuasai oleh full-stack developer. Pasalnya, alat ini berfungsi untuk memantau perubahan program dari coding yang ada. Kesalahan dan eror bisa dideteksi dari awal dan menulis kode bisa lebih mudah. Platform ini pun dapat membantu kolaborasi tim dan host kode.

3. Visual Studio Code

Visual Studio Code adalah salah satu tool text editor pilihan bagi para developer. Visual Studio Code adalah core editor yang memiliki banyak fitur yang bisa digunakan seperti syntax highlighting, code refactoring, dan lain-lain. Tool ini juga bisa digunakan di berbagai framework dan bahasa kode, dari JavaScript, Ruby, Rust, dan sebagainya.

4. Slack

Slack adalah tool yang bisa membantu komunikasi antara tim. Slack bisa membuat workspace virtual dan memudahkan menyusun pekerjaan untuk semua tim, dari membuat laporan sampai memberikan masukan dan komentar. Bisa dibilang, Slack adalah gabungan dari Discord dan Trello.

5. Sass

Sass atau syntactically awesome style sheets adalah tool yang dipakai full-stack developer dalam membuat CSS. Tool ini memungkinkan developer untuk mengembangkan dan membuat CSS dalam waktu yang relatif singkat. Keuntungan menggunakan Sass, yaitu dapat membuat CSS lebih mudah dipahami dan terstruktur. Dengan begitu, CSS akan berjalan dengan baik tanpa masalah di browser mana pun.

Baca juga: 6 Cara menjadi developer aplikasi di perusahaan startup

8 Kualifikasi menjadi full-stack developer

kode full-stack developer di dalam komputer
Full-stack developer perlu menguasai teknologi front-end dan pemrograman back-end (sumber: pexels)

Berikut ini adalah beberapa kemampuan teknis yang sebaiknya kamu miliki jika ingin menjadi seorang full-stack developer yang andal.

1. Menguasai teknologi front-end

Seseorang yang berkecimpung dengan profesi full-stack developer perlu menguasai beberapa teknologi esensial yang berkaitan dengan front-end seperti HTML5, CSS3, dan JavaScript. HTML dan CSS adalah salah satu ilmu dasar yang tidak dapat digantikan untuk profesi satu ini. HTML5 dan CSS3 merupakan dua skills yang dibutuhkan untuk memodifikasi konten dan bagian aplikasi yang dekat dengan pengguna. Begitu pula dengan JavaScript yang merupakan bahasa terpopuler di internet dan tidak hanya digunakan pada front-end, namun juga back-end. Bahasa pemrograman satu ini dapat dikatakan sangat penting untuk seorang developer.

2. Ahli dalam bahasa pemrograman untuk back-end

Tidak hanya tampilan depan saja yang memerlukan optimasi agar tetap benar-benar berfungsi. Oleh karena itu, dibutuhkan juga kesinambungan antara back-end dan integrasi user interfere.Terdapat beberapa jenis bahasa pemrograman yang biasa digunakan untuk back-end, seperti Node.js, Python, Ruby, dan lain-lain. Node.js pada dasarnya menggunakan JavaScript, jadi penggunanya harus mengetahui dan menguasai dasarnya terlebih dahulu. Ada lagi Python yang merupakan bahasa pemrograman yang juga populer dan mendapat banyak permintaan dari berbagai perusahaan. Sebab, pemrograman satu ini sejatinya merupakan bahasa sintaks yang sangat sederhana.

3. Pengetahuan database yang mumpuni

Kemampuanmu menguasai data adalah kunci sukses lainnya sebelum menjadi seorang full-stack developer. Ketika terjadi suatu kesalahan pada situs saat menarik data dari database, seorang developer yang dapat memperbaiki kode tanpa memberikan dampak negatif pada database akan sangat berharga.

Skill satu ini turut melibatkan hal lain, yaitu kemampuan menyelesaikan masalah. Bagaimana seorang developer mengatasi masalah akan memberikan dampak besar tidak hanya untuk karirnya namun juga untuk perusahaan tempatnya bekerja. Jadi, seorang developer harus mampu melihat secara objektif ketika dihadapkan pada masalah. Cara ini akan membuatmu lebih mudah mengetahui apa akar dan penyebab masalah sebelum pada akhirnya lebih mudah menuntunmu menemukan solusi yang tepat.

4. Familiar dengan web architecture 

Seorang full-stack developer juga harus familiar dengan cara menstrukturkan kode, memisahkan dan menyimpan file tertentu, metode penyimpanan file besar, menyusun basis data, dan menentukan di mana setiap tugas komputasi harus ditempatkan.

5. Menguasai Versi Control System (VCS) 

Skill lain yang dibutuhkan full-stack developer adalah menguasai keterampilan Versi Control System (VCS), di mana VCS ini memungkinkan full-stack developer untuk dapat melacak semua perubahan yang dibuat dalam basis kode. Pengetahuan tentang Git membantu pengembang untuk memahami cara mendapatkan kode terbaru, membuat perubahan terhadap kode, hingga memperbaharui bagian kode. Dengan menunjukkan semua keterampilan di atas, kamu bisa menjadi full-stack developer yang andal.

6. Menggunakan development frameworks dan third-party libraries

Dalam proses pekerjaannya, seorang full-stack developer memerlukan frameworks untuk pengembangan aplikasi web. Pada dasarnya, frameworks adalah sekumpulan kode yang berperan sebagai kerangka bagi full-stack developer. Frameworks ini menjadi bagian penting dari pengembangan web karena standar aplikasi web selalu meningkat, begitu pula kompleksitas teknologi juga dibutuhkan. Membuat aplikasi web yang kaya dan interaktif tentunya memerlukan frameworks ini.

Pembuatan aplikasi web akan lebih cepat jika menggunakan frameworks karena tak perlu menuliskan kode dari nol. Terlebih, penggunaan frameworks dapat membuat penulisan kode menjadi rapi dan terstruktur. Beberapa contoh frameworks yang populer adalah Express, Django, Laravel, dan lain-lain.

Tak hanya membutuhkan frameworks yang menjadi kerangka bagi pengkodean, seorang full-stack developer juga memerlukan dukungan third-party library (TPL). Secara umum, TPL merupakan alat analitis pada aplikasi berbasis web yang amat populer. Para full-stack developer dapat menggunakan TPL sebagai penyingkat waktu dalam proses pengembangan aplikasi.

Cara kerja TPL adalah kemampuan merujuk pada versi kode terbaru di berbagai tempat, sehingga proses pengkodean akan mendapat bantuan dari pihak ketiga. Manfaat paling penting dari penggunaan third-party libraries adalah pengembang dapat menghemat waktu karena ia tak perlu mengembangkan fungsionalitas tetapi langsung pada logika bisnis dari aplikasi yang akan dibuat.

7. Kemampuan dasar mendesain

Proses pengembangan aplikasi berbasis web oleh seorang full-stack developer juga membutuhkan kemampuan mendesain. Tak hanya mendesain tampilan aplikasi supaya menarik user, tetapi juga bagaimana grafis aplikasi dapat mendukung penggunanya. Dalam pengembangan aplikasi web ini, setidaknya ada dua komponen teknologi desain yang harus dimiliki seorang full-stack developer. Pertama adalah komponen user interface (UI) dan user experience (UX). Komponen ini berfungsi untuk membuat desain aplikasi dari segi tampilan menarik dan mendapat impresi baik saat diakses pengguna. Kedua adalah desain laman yang lebih bersifat praktikal dalam menjalankan aplikasi.

8. Soft skills yang dibutuhkan oleh seorang full-stack developer

Selain kemampuan teknis (hard skills) yang telah dijelaskan di atas, seorang full stack developer juga membutuhkan soft skills untuk mendukung kariernya. Berikut ini adalah soft skills tersebut.

  • Kemampuan komunikasi yang baik

Seorang developer akan dituntut untuk menjembatani beragam ilmu dan disiplin yang berbeda dengan dunia digital. Sehingga, kemampuan komunikasi yang baik dan efektif dengan berbagai macam audiens berbeda organisasi sangat diperlukan. Selain itu, seorang developer juga akan dituntut untuk mampu berbicara ketika ada pertemuan dengan divisi lain atau customer. Bahasa pemrograman dan dunia digital merupakan suatu hal yang rumit, oleh karena itu kemampuan menyampaikannya dengan baik dan mudah dimengerti sangat diperlukan oleh seorang developer.

  • Keinginan belajar teknologi baru

Sebagai full-stack developer, pekerjaanmu pasti erat kaitannya dengan teknologi. Oleh karena itu, penting bagimu untuk tidak cepat puas dengan ilmu yang dimiliki saat ini, dan selalu memiliki keinginan untuk belajar teknologi baru.

  • Kemampuan berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis dan memiliki inisiatif yang baik merupakan hal yang diperlukan bagi seorang full-stack developer. Pasalnya, seseorang yang memiliki pemikiran yang kritis mampu mengevaluasi situasi dengan menggunakan logika dan memberikan solusi terbaik.

  • Manajemen waktu

Seorang full-stack developer diharapkan dapat mengatur waktunya dengan baik dalam bekerja. Sebab, mengelola waktu dengan efisien dapat membuatmu fokus dengan hal yang paling penting saat kamu menyelesaikan tugas. Beberapa upaya yang bisa kamu lakukan yakni dalam satu periode tertentu fokus pada satu tugas kemudian istirahat kemudian kembali lagi mengerjakan tugas itu hingga selesai. Atau, bila tugasmu cukup banyak kamu bisa terlebih dahulu memvisualisasikan tugas itu dan memilih mana yang lebih mudah lalu berlanjut ke mana yang lebih sulit.

  • Kemampuan menyelesaikan masalah

Sebagai seorang full-stack developer, perusahaan mengharapkanmu dapat menyelesaikan masalah yang saling berhubungan selama siklus pengembangan. Sehingga dengan begini, kamu dapat memberikan kualitas yang konsisten baik untuk seluruh proyek. Jadi, untuk menjadi full-stack developer, kamu perlu memiliki pikiran yang terbuka, mau belajar, dan tidak gagap terhadap teknologi baru. Setidaknya, kuasailah beberapa teknologi yang telah disebutkan sebelumnya. Tetapi, jangan lupa kuasai juga soft skills seperti komunikasi dan kerja sama tim agar makin mendukung pekerjaan developer. Kemampuan tersebut juga mampu membantumu menjadi seorang developer yang baik.

Baca juga: 8 Skills ini perlu dimiliki oleh seorang Frontend Developer

Proyeksi karier full-stack developer tahun 2022

dua orang full-stack developer sedang diskusi
Indonesia membutuhkan setidaknya 17 juta pekerja di bidang ekonomi digital hingga tahun 2030 (sumber: pexels)

Proyeksi karier full-stack developer ke depan adalah Indonesia membutuhkan setidaknya 17 juta pekerja di bidang ekonomi digital hingga tahun 2030. Proyeksi ini tentu saja berdampak pada tingginya permintaan akan kebutuhan full-stack developer untuk mengerjakan front-end dan back-end development. Bahkan saking banyaknya permintaan, banyak talent di bidang IT yang bekerja di startup sebelum mereka lulus kuliah. Tentu saja, besaran permintaan ini menjadi peluang bagi para calon full-stack developer di tahun 2022 untuk bersaing merebut posisi di berbagai perusahaan berbasis digital.

Jadi, untuk menjadi seorang full-stack developer diperlukan pikiran terbuka untuk belajar dan tidak gagap terhadap perkembangan teknologi terbaru. Begitu pula, penguasaan hard skills dan soft skills juga dibutuhkan untuk menunjang karier dan kualitas hasil kerja. Nah, jika begitu, mari segera kuasai dan jadi salah satunya. Selain itu, untuk mengembangkan kariermu, cobalah untuk mendaftarkan diri di situs talent marketplace. Cara ini akan memudahkanmu mendapatkan pekerjaan sebagai full-stack developer.

Baca juga: 12 Bahasa pemrograman yang paling relevan untuk dipelajari 2022

5 Bootcamp terbaik untuk menjadi full-stack developer

seorang full-stack developer sedang bekerja
Hacktiv8 merupakan salah satu bootcamp dengan kualitas pembelajaran terbaik (sumber: pexels)

Berikut adalah beberapa rekomendasi bootcamp terbaik untuk menjadi full-stack developer.

1. Hacktiv8

Hacktiv8 adalah salah satu coding bootcamp yang siap membantu alumninya untuk terjun langsung ke dunia coding. Bootcamp ini difokuskan untuk program pembelajaran di bidang IT. Kamu bisa memilih beberapa program seperti online program, part time program, dan juga full time program.

Selain memiliki banyak program pembelajaran, Hacktiv8 juga merupakan salah satu bootcamp dengan kualitas pembelajaran terbaik. Bootcamp coding ini merupakan pertama di Indonesia dan Asia yang telah terdaftar di CIPP atau sering dikenal dengan Council on Integrity in Result Reporting.

Program yang dirancang di sini tidak hanya untuk anak muda dan profesional, tetapi juga untuk anak-anak dengan program Coding for Kids. Seperti tempat kursus IT lainnya, Hacktiv8 memiliki perusahaan rekanan untuk hiring program peserta bootcamp. Selain itu, ada program training untuk perusahaan yang ingin mengembangkan skill para karyawannya di bidang IT.

2. Purwadhika

Purwadhika adalah salah satu pionir lembaga pendidikan di Indonesia yang memiliki fokus di dunia pendidikan teknologi digital. Di Purwadhika, kamu akan langsung belajar dengan profesional yang sudah berpengalaman di industri teknologi sehingga kamu dapat menjadi digital talent yang memiliki daya saing untuk dapat berkontribusi di Indonesia dan di kancah internasional. Purwadhika tidak hanya untuk peserta perorangan, tetapi juga untuk perusahaan yang ingin meningkatkan skill para karyawannya. Seperti tempat belajar yang lain, di sini tersedia program job connector yang menghubungkan lulusan kursusnya dengan dunia kerja.

3. Skill Academy

Skill Academy adalah hasil inovasi dari Ruangguru untuk mereka yang ingin mendapatkan pelajaran yang berkaitan dengan teknologi. Skill Academy menawarkanmu banyak program kelas yang berkaitan dengan full-stack development, mulai dari dasar hingga tingkat lanjut. Kamu bisa memilih dan menyesuaikan program sesuai dengan kebutuhanmu. Untuk kamu yang memiliki fasilitas Kartu Prakerja dari pemerintah, tempat ini dapat menjadi pilihan belajar dengan materi yang berkaitan dengan full-stack development.

4. Inixindo

Inixindo merupakan tempat kursus yang dilakukan secara offline. Bertempat di Yogyakarta, tempat ini dapat menjadi pilihan jika kamu ingin belajar di Yogyakarta sambil kuliah atau bekerja. Selama masa pelatihan, beberapa studi kasus akan diberikan kepadamu sebagai bahan pembelajaran. Selain menyediakan fasilitas belajar, Inixindo juga memberikan sertifikat kompetensi untuk peserta yang membutuhkan. Program yang ditawarkan terbagi dalam segmen berbeda, yakni front-end, back-end, database, dan debug.

5. Digital Skola

Digital Skola adalah perusahaan rintisan yang berfokus pada pelatihan dan peningkatan skill digital melalui kelas kursus atau bootcamp untuk menghasilkan digital talent yang mampu berkontribusi dalam perkembangan industri, serta mampu bersaing di pasar tenaga kerja nasional maupun internasional.

Baca juga: Perbedaan back-end, front-end, dan full-stack developer

Itulah pembahasan mengenai tugas, kualifikasi, dan proyeksi karier full-stack developer. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat untukmu, ya! Selain melalui artikel dari EKRUT Media, kamu juga bisa memperoleh berbagai informasi dan tips menarik seputar karier melalui YouTube EKRUT Official. Tak hanya itu, jika kamu tertarik mendapatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan karier, sign up EKRUT sekarang juga. Hanya di EKRUT, kamu dapat memperoleh berbagai peluang kerja yang dapat disesuaikan dengan minatmu.

Sumber:

  • hackr.io
  • upgrad.com
  • rasmussen.edu
  • scalablepath.com

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    shutterstock_1682336344.jpg

    Careers

    9 Tips Menghadapi Interview Kerja Setelah Terkena Layoff

    Fakhrizal Muttaqien

    23 September 2022
    7 min read
    cara-membalas-email-panggilan-interview---EKRUT.jpg

    Careers

    Cara Membalas Email Panggilan Interview beserta Contohnya

    Maria Tri Handayani

    23 September 2022
    7 min read
    tujuan-karier-EKRUT.jpg

    Careers

    Simak! 7 Tips Membuat Tujuan Karir Kamu Lebih Terarah

    Nelson Simbolon

    23 September 2022
    4 min read

    Video