Published on

Careers

Apa itu Tes Koran? Berikut contoh dan 5 tips mengerjakannya!

Algonz D.B. Raharja

Tes_Koran.jpg

Ketika melamar pekerjaan, perusahaan yang dituju akan menyiapkan berbagai tes bagi calon pegawainya. Jenis-jenis tes yang akrab di dunia akademis dan dunia kerja adalah tes yang berisi soal untuk menilai kecakapan verbal, numerik, dan psikologi. Namun, di dunia kerja terdapat banyak tes-tes serupa. Salah satu dari berbagai tes itu adalah tes koran. Lantas, apa sebenarnya tes koran ini?

Apa itu Tes Koran? 

Apa itu Tes Koran
Tes koran adalah salah satu jenis psikotes yang dipakai oleh perekrut untuk mengetahui karakteristik para pelamar kerja. (Sumber: Pexels)

Tes ini merupakan tindak lanjut dari tahap skrining CV yang terlebih dulu dikirimkan oleh pelamar kerja. Selanjutnya, terdapat tahap wawancara dan juga tes psikotes yang salah satunya adalah memakai tes koran ini. Tes koran yang umum dikenal adalah Tes Kraepelin dan Tes Pauli. 

Tes Kraepelin sendiri pertama kali dibuat oleh seorang psikiatris Jerman bernama Emil Kraepelin yang ahli dalam psikologi klinis, khususnya pada penyakit mental. Kraepelin lahir pada 15 Februari 1856 dan mengawali pendidikan psikologisnya di Universitas Leipzig pada 1874. Kraepelin mempelajari neuropathology dan eksperimental psikologi hingga kemudian tes yang ia ciptakan masih dipakai oleh para sarjana psikologi hingga sekaran. Kraepelin pun didapuk sebagai Bapak Psikologi Klinis.

Tes Pauli sendiri merupakan pengembangan dari tes Krepelin yang dibuat oleh Richard Pauli pada 1938. Tes ini berbentuk hitungan angka per angka secara sistematis dari atas sampai ke bawah. Seorang yang mengerjakan tes Pauli ini hanya perlu mencantumkan nomor terakhir saja, misalnya ketika ada angka 4 dan 9 dalam tes, maka ia hanya menuliskan angka 3 yang diambil dari total jumlah 4 + 9 yaitu 13.

Menurut Indrawati dari Universitas Pendidikan Indonesia, dijelaskan bahwa Tes Kraepelin digolongkan dalam tes yang mengukur faktor-faktor khusus non-intelektual. Sehingga, Tes Kraepelin hanya bertujuan sebagai tes konsentrasi. Tes ini masuk dalam kelompok tes cepat yang tidak memungkinkan pengerjaan semua soal.

Tes koran dengan jenis Kraepelin berisi dari 45 lajur angka satuan dari 0 sampai 9 yang tersusun secara acak sebanyak 60 angka secara vertikal pada tiap-tiap lajur. Orang yang mengerjakan tes ini bertugas menjumlahkan dua buah angka, mulai dari angka terbawah pada tiap-tiap lajur. Waktu yang diberikan dalam tes ini ditentukan dan amat singkat.

Perbedaan Tes Pauli dan Tes Kraepelin

Perbedaan Tes Pauli dan Tes Kraepelin
Tes koran dilakukan untuk menentukan karakteristik individu seseorang (Sumber: Pexels)

Tes koran dengan dua jenis Pauli dan Kraepelin mempunyai perbedaan mendasar dikarenakan Tes Pauli merupakan pengembangan dari Tes Kraepelin. Merujuk pada laman GuruPendidikan dua jenis tes koran ini memiliki perbedaan secara cara dan waktu pengerjaan. Meski, secara umum kedua tes ini disebut sebagai Tes Koran karena ukuran kertas yang dipakai amat besar, atau berukuran A4 sampai A3.

Pertama adalah tujuan, Tes Kraepelin mulanya dibuat untuk menjadi alat bantu diagnosis gangguan psikis seperti demensia. Sedangkan Tes Pauli merupakan hasil pembaruan dari Tes Kraepelin yang lantas menjadi standarisasi untuk tes kepribadian.

Kedua, adalah cara penjumlahan angka. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam Tes Kraepelin penjumlahan dilakukan dari angka terbawah hingga ke atas. Sedangkan dalam Tes Pauli, penjumlahan dilakukan dari angka teratas hingga ke bawah.

Ketiga, perbedaan dalam waktu pengerjaan. Tes Kraepelin secara umum dikerjakan dalam waktu yang singkat, sekitar 10 hingga 15 menit. Untuk tes koran dengan jenis Pauli, waktu pengerjaan tes umumnya sekitar 60 menit.

Keempat, secara fisik tes koran dengan jenis Kraepelin berbentuk lembar kerja berupa kertas seukuran A4 dengan angka bolak-balik di setiap lembarnya. Dan dalam pengerjaan tes ini tidak diperkenankan untuk menambah kertas lembar kerja. Sedangkan pada Tes Pauli, lembar kerja berisi angka bolak-balik pada kertas ukuran selebar koran atau A3. Permintaan untuk menambah kertas lembar kerja diperbolehkan dalam Tes Pauli.

Kelima, adalah instruksi yang dipakai untuk memindah kolom pada tes koran. Dalam Tes Kraepelin, umumnya penggunaan instruksi “pindah” tiap selang beberapa menit dari total waktu pengerjaan. Sedangkan, dalam Tes Pauli instruksi yang dipakai adalah “ganti” dalam selang waktu beberapa menit dari total waktu 60 menit.

Penilaian Tes Koran

Penilaian Tes Koran
Dalam tes koran, penilaian dilakukan dengan menyambung atau membuat garis dari puncak-puncak tertinggi tiap kolom hingga membentuk grafik.

Penilaian ini dapat dilihat dari garis timbang yang didapat dari penjumlahan puncak tertinggi dengan puncak terendah lalu dibagi dua. Selanjutnya, penilaian diambil dari kecepatan pengerjaan lajur tiap menit. Hasil ini didapat dari dua kali jumlah angka di atas garis timbang (x) dikurangi jumlah angka di bawah garis timbang (y). Skor akan diperoleh dari 2(x-y) dibagi 40.

Setelah itu, penilaian dilakukan untuk aspek ketelitian. Di mana dalam hal ini penghitungan skor dilakukan dengan jumlah kesalahan 15 lajur yang terdiri dari 5 lajur bagian depan, 5 lajur tengah, dan 5 lajur bagian akhir. Setelah penilaian tersebut, kemudian dilakukan apa yang disebut interpretasi yang memuat 4 aspek utama dalam tes koran. Keempat aspek dalam tes koran itu adalah sebagai berikut.

1. Kecepatan

    Aspek kecepatan dalam tes koran ini dapat mengindikasikan tempo kerja seseorang atau manajemen waktu seseorang dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga, jika seseorang yang mengerjakan tes koran ini dapat menyelesaikan sekian banyak penjumlahan tertentu dalam kurun waktu terbatas, maka diasumsikan bahwa ia mampu bekerja dalam tempo yang cepat.

2. Ketelitian

Ketelitian
Aspek ketelitian merupakan salah satu aspek penilaian dalam tes koran (Sumber: Pexels)

Aspek ketelitian dalam tes koran dapat mengindikasikan konsentrasi kerja dari seseorang. Sehingga, jika seseorang yang mengerjakan tes koran ini mendapat skor baik dari jumlah kesalahan terhitung maka ia dapat diasumsikan memiliki ketelitian mumpuni.

3. Kestabilan

Aspek kestabilan atau keajekan didapat dari tes koran yang mengindikasikan stabilitas emosi. Hal ini dikarenakan tidak semua orang akan betah melihat lembar kerja berisi angka sekian banyak dan sekian penjumlahan dalam tempo tertentu. Stabilitas ini dapat diasumsikan sebagai pengukuran emosi seseorang dalam mengerjakan tugas tertentu.

4. Ketahanan

Ketahanan
Aspek ketahanan dalam tes koran dapat mengindikasikan kondisi emosi seseorang (Sumber: Pexels)

Aspek ketahanan mengindikasikan daya tahan seseorang terhadap situasi yang menekan. Dalam hal ini, pengerjaan tes koran akan menjadi sebagai tekanan bagi seseorang, baik itu melalui isi lembar kerja, tugas penjumlahan, hingga waktu yang singkat. Hal ini membuat skor tes koran akan dapat mengasumsikan ketahanan seseorang akan suatu pekerjaan dan tekanan tertentu.

Seorang individu dapat dikatakan memiliki kinerja yang baik jika dalam rentang waktu lama dan dalam situasi menekan tetap mampu menampilkan diri untuk bekerja secara cepat, teliti, dan stabil.

5 Tips mengerjakan Tes Koran

5 Tips mengerjakan Tes Koran
Sebelum mengerjakan tes koran, seyogianya individu mencari tahu terlebih dahulu apa saja jenis tes koran dan cara mengerjakannya.

Hal yang utama lainnya adalah seorang individu harus mempersiapkan diri baik secara mental dan fisik untuk bersiap mengerjakan tes koran. 
Seperti diketahui, tes koran bukanlah tes potensi akademis yang bisa dipelajari soal-soalnya. Dalam tes koran, keempat aspek yang telah dijelaskan di atas tadi adalah hal utama. Sehingga, calon peserta pengerjaan tes koran tidak bisa mempelajari soal-soal tes koran. Dikarenakan memang tidak ada keharusan untuk mempelajari soal, hanya diperlukan pengenalan soal saja agar peserta lebih akrab dengan tes koran.

Berikut adalah beberapa persiapan sebelum mengerjakan tes koran.

1. Persiapkan semuanya secara matang

Seorang calon peserta pengerjaan tes koran sebaiknya mempersiapkan semua secara matang. Hal ini meliputi perhatian terhadap waktu dan jadwal pelaksanaan tes koran hingga pengenalan diri terhadap apa itu tes koran. Selain itu, calon peserta tes koran diharapkan siap secara mental dan fisik agar dapat fokus saat pengerjaan tes koran.

2. Tenang

Tenang
Ketenangan amat diperlukan untuk mengerjakan tes koran secara teliti (Sumber: Pexels)

Persiapan khusus lain sebelum mengerjakan tes koran adalah ketenangan. Seperti diketahui bahwa tes koran memiliki 4 aspek penilaian yang semuanya memerlukan ketenangan. Menjaga diri dan pikiran tetap tenang dan tidak grogi atau panik diperlukan sebelum mengerjakan tes koran. Lebih baik, seorang peserta datang ke tempat tes koran dengan kepala dingin dan percaya diri.

3. Teliti

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, ketelitian adalah salah satu aspek penilaian dalam tes koran. Ketelitian menentukan jawaban benar dan salah yang akan dihitung sebagai skor dalam tes koran. Hal ini membuat seorang peserta diharapkan dapat fokus pada  teliti saat mengerjakan tes koran.

4. Konsentrasi

Konsentrasi
Konsentrasi dibutuhkan dalam pengerjaan tes koran (Sumber: Pexels)

Sama halnya dengan ketelitian, konsentrasi dibutuhkan untuk tetap menjaga diri dalam tes koran. Fokus dalam pengerjaan tes koran memang mudah teralihkan karena tekanan waktu maupun kejemuan dalam melihat baris-baris angka. Namun, mengingat aspek-aspek penilaian tes koran, maka konsentrasi peserta diharapkan selalu terjaga selama waktu pengerjaan tes koran.

5. Konsistensi

Aspek kestabilan merupakan aspek yang langsung berhubungan dengan penilaian tes koran. Untuk itu, peserta diharuskan dapat mengerjakan tes koran secara konsisten meski dalam tekanan waktu dan kebosanan sekalipun. Konsistensi ini dapat dibangun dengan mengerjakan penjumlahan demi penjumlahan dengan sabar dan teliti tanpa teralihkan pada hal-hal lain.

Contoh Tes Koran

contoh tes koran
Contoh lembar tes koran (Sumber: Kumpulan Soal Populer)

Contoh penulisan hasil penjumlahan dalam tes koran
Contoh penulisan hasil penjumlahan dalam tes koran (Sumber: Kumpulan Soal Populer)

Dalam pengerjaannya, tes koran membutuhkan kejelian dalam melihat dan menjumlahkan angka. Hal ini dapat dilihat dari contoh tabel-tabel di atas, tugas yang sebenarnya mudah karena hanya menjumlahkan menjadi rumit karena tidak ada jeda angka. Kondisi ini dapat membingungkan peserta.

Penjumlahan angka demi angka dalam kolom ditandai dengan warna angka merah. Begitu selanjutnya angka berwarna hitam dijumlahkan ke atas satu per satu. Ketelitian menjadi kunci saat melihat angka-angka berjejer seperti dalam tabel. Hal inilah yang membuat tes koran terkesan membosankan dan mudah teralihkan.

Meski begitu, tes koran masih menjadi salah satu tes yang sering diujikan dalam proses penerimaan pegawai baru. Maka dari itu, mempelajari apa dan bagaimana itu tes koran setidaknya dapat menambah kesiapan para pencari kerja untuk bersiap menghadapi tes-tes perusahaan yang akan datang. Persiapkan dirimu untuk mencari kerja dengan mendaftar pada EKRUT lewat tautan di bawah ini.

sign up EKRUT

Sumber:

  • https://www.ipsychology.net/brief-introduction-pauli-test/
  • TES PSIKOLOGIS (TES KRAEPELIN)
  • https://www.gurupendidikan.co.id/pauli-test/

Tags

Share