Published on

startup

Model bisnis D2C: Kenali pengertian, keunggulan, kelemahan, strategi, dan contohnya

Sylvia Rheny

Model_bisnis_D2C_Kenali_pengertian__keunggulan-kelemahannya__strategi__dan_contohnya.jpg

Terdapat perubahan besar terkait cara beberapa brand menjangkau pelanggan mereka. Alih-alih menggunakan wholesaler atau retailer, kini beberapa brand justru memilih menjual langsung ke konsumen atau end user. Model bisnis seperti ini dinamakan model bisnis D2C (Direct-to-Consumer).

Pergeseran yang dihasilkan dianggap menghancurkan retailer atau pengecer tradisional, namun secara bersamaan, telah melahirkan beberapa perusahaan paling inovatif dan sukses dalam dekade terakhir. Yuk, kenali seperti apa model bisnis D2C ini mulai dari keunggulan, kelemahan, cara menerapkan strategi ini, hingga contoh model bisnis D2C!

Baca juga: Apa itu marketplace? Berikut penjelasan lengkap dan 5 contohnya

Apa itu model bisnis D2C?


D2C adalah model bisnis vertikal dari produsen langsung ke konsumen. (Sumber: Pexels)

Direct-to-consumer, juga dikenal sebagai DTC dan D2C adalah model bisnis vertikal yang mengeliminasi pihak-pihak perantaranya, sehingga produsen menjual langsung ke konsumen. Pada model bisnis D2C, perusahaan memutuskan untuk memotong perantara, grosir, dan distributor, kemudian sebagai gantinya, model bisnis D2C memanfaatkan kekuatan cloud dan e-commerce untuk menjual produk mereka langsung ke konsumen.

Sebagian besar merek D2C saat ini menjual produknya melalui platform saluran digital seperti jejaring sosial atau situs e-commerce perusahaan. Selain itu, strategi model bisnis D2C berfokus pada pemeliharaan hubungan dengan loyal customer dan secara bersamaan membangun hubungan dengan target market melalui berbagai saluran seperti media sosial atau situs web.

Perusahaan D2C (Direct-to-Consumer) umumnya memiliki beberapa dari delapan karakteristik ini:

  • Pendatang dari industri dengan hambatan rendah untuk masuk.
  • Capital flexible dan/atau dapat menyewa dan menyewakan bagian dari operasi.
  • Memiliki passion yang tinggi terhadap pelanggan mereka.
  • Memiliki pengalaman memanfaatkan data dan analitik pihak pertama.
  • Mereka memotong perantara sehingga mereka bisa mengirim langsung ke konsumen.
  • Memahami pentingnya berkomunikasi langsung dengan konsumen (memanfaatkan perangkat lunak CRM).
  • Memiliki lebih banyak fleksibilitas harga daripada pengecer lama.
  • Mereka menggambarkan peningkatan penggunaan pemasaran digital (terutama email dan media sosial).

Baca juga: Marketing funnel: Tujuan, tahapan, strategi, dan 3 contohnya

Keunggulan model bisnis D2C


Keunggulan D2C adalah bisa melakukan kontrol terhadap reputasi merek. (Sumber: Pexels)

Model D2C secara alami berfokus pada pengguna dan pada akhirnya memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik. Beberapa keunggulan menerapkan model bisnis D2C adalah sebagai berikut:

  • Pengalaman omnichannel. Manfaat besar memiliki model bisnis D2C adalah produsen mendapatkan kendali penuh atas semua aktivitas mereka, mulai dari pengemasan hingga pemasaran. Artinya, mereka juga dapat menciptakan pengalaman omnichannel bagi konsumen akhir mereka. 
  • Lebih banyak kontrol atas reputasi merek. Dalam model bisnis pengecer tradisional, produsen memiliki sedikit kendali ketika produk mereka dijual oleh pengecer. Strategi model bisnis D2C memberi kendali pada produsen atas upaya pemasaran dan strategi penjualannya, dan menempatkan perusahaan secara langsung berhubungan dengan konsumen akhir. D2C memberi produsen kendali penuh atas pengalaman pelanggannya dari fase penelitian hingga pembelian.
  • Lebih bisa memahami pelanggan. Produsen yang memiliki model bisnis pengecer tradisional jarang berinteraksi dengan konsumen yang telah membeli produknya. Jadi, mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengenal konsumen akhir mereka, selain dengan melakukan riset pasar sasaran untuk mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mereka suka dan tidak sukai.

Baca juga: Personal selling: Pengertian, tujuan, jenis, dan 3 contohnya

Kelemahan model bisnis D2C


Kelemahan D2C adalah rantai pasokan yang kompleks. (Sumber: Pexels)

Di luar keunggulan yang disebutkan di atas, model bisnis D2C memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Bersaing dengan pengecer. Dengan strategi model bisnis D2C, tantangan terbesar bagi produsen adalah harus bersaing dengan pengecer. Pengecer sudah memiliki pengalaman dalam menjual kepada konsumen dan pemahaman yang baik tentang klien mereka dan pasar ritel.
  • Pemenuhan pesanan. Perusahaan D2C yang baru dibentuk sering kesulitan dengan pemenuhan pesanan. Produsen tidak hanya harus mengirimkan produk mereka, tetapi mereka juga harus bersaing dengan banyak pengecer online lainnya dengan pengiriman hari berikutnya.
  • Rantai pasokan yang kompleks. Memiliki kendali penuh atas seluruh proses bisnis pasti memiliki keuntungan, tetapi itu membuat operasi sehari-hari jauh lebih kompleks, mulai dari pemasaran, penjualan, pengiriman, transportasi, pembayaran, pengembalian, hingga layanan pelanggan. Itu semua tidak hanya meningkatkan tanggung jawab namun juga titik kerentanan pada bisnis.

Baca juga: Fulfillment: Pengertian, fungsi, alur, dan 5 modelnya dalam e-commerce

Cara menerapkan strategi model bisnis D2C


Salah satunya cara menerapkan D2C adalah dengan memaksimalkan SEO. (Sumber: Pexels)

Menggunakan model bisnis D2C berarti suatu bisnis harus dapat menjangkau target audiensnya. Namun, sebelum itu, kamu perlu tahu siapa mereka. Semakin baik kamu mempelajari target audiens semakin baik peluang untuk membuat mereka menemukan dan beralih ke brand-mu. Beberapa strategi bisnis D2C di bawah ini bisa kamu pertimbangkan.

  • Memanfaatkan ulasan dan testimoni dengan baik. D2C sangat bergantung pada pelanggan setia yang menyebarkan testimoni positif dari mulut ke mulut. Manfaatkan kekuatan ini dengan mengumpulkan ulasan dan testimonial dan membagikannya di iklan, media sosial, halaman arahan, halaman produk, dan lokasi relevan lainnya.
  • Muncul dalam pencarian oleh potential audience. Menggunakan iklan SEO (Search Engine Optimization) dan PPC (Pay-per-Click) dapat menempatkan merekmu di urutan teratas. Dengan menelitinya dengan baik, kamu dapat mempelajari kata kunci dan frasa yang mereka gunakan untuk menemukan apa yang kamu jual. Mulailah dengan SEO on-page, memanfaatkan kata kunci yang dicari target pasar dan memastikan situs web milikmu menggunakan kata kunci tersebut secara efektif. Membuat kata kunci tersebut menjadi berita utama, deskripsi produk dan tag, judul halaman, dan banyak lagi. Kemudian buat iklan yang memanfaatkan kata kunci tersebut dan pastikan iklan tersebut melukiskan gambaran yang jelas tentang solusi yang diberikan.
  • Mengubah pelanggan menjadi pengembang produk. Tanyakan kepada pelanggan tentang apa yang mereka inginkan dari brand-mu. Salah satu manfaat paling signifikan dari D2C adalah kepemilikan akses ke pelanggan sehingga kamu dapat lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. Ajukan pertanyaan dan cobalah mendengar dari sisi pelanggan, baik yang puas dan tidak puas dengan produkmu. Pelanggan akan menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan produk karena mereka dapat memberi tahu tentang apa yang bekerja dengan baik dan apa yang perlu ditingkatkan, serta produk, atau layanan lain apa yang ingin mereka lihat di masa depan. Ini tidak hanya membantu membawa produk ke pasar yang disukai masyarakat, tetapi juga membangun hubungan baik dengan pelanggan. Orang ingin merasa didengar, dan perusahaanmu dapat menonjol sebagai brand yang mau mendengarkan pelanggannya.

Baca juga: Event marketing: Pengertian, 6 jenis, manfaat, dan strategi membuatnya

Contoh model bisnis D2C


Contoh brand dengan model bisnis D2C di Indonesia. (Sumber: Pexels)

Setelah mengetahui berbagai karakteristik model bisnis D2C, sekarang waktunya melihat aplikasinya. Berikut adalah beberapa contoh brand di Indonesia yang menggunakan model D2C.

1. Eiger

Eiger merupakan brand Indonesia yang menjual produk-produk fashion outdoor. Produk Eiger diproduksi secara mandiri di pabrik yang berpusat di Bandung. Untuk pendistribusiannya sendiri, Eiger memiliki beberapa channel mulai dari toko fisik hingga toko online. Pemasaran yang dilakukan oleh Eiger menggunakan akun sosial media Instagram. Secara teori, Eiger memang tidak sepenuhnya D2C karena Eiger juga menjual produknya melalui online marketplace. Namun, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga distribusi menunjukkan bahwa Eiger mempraktikkan model D2C.

2. Humblezing

Sedikit mirip dengan Eiger, Humblezing memiliki konsep “Modern Adventurewear” yaitu fashion yang modern dengan gaya ala-ala adventure. Pabrik produksi Humblezing berpusat di Bandung dan produk-produknya bisa diorder melalui webstore. Untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, Humblezing juga memiliki fitur Reward Program mulai dari menjadi member melalui website, pengumpulan poin melalui pembelanjaan, hingga program referral untuk mendapatkan kupon belanja di Humblezing.  Meskipun tidak sepenuhnya D2C karena Humblezing juga menjual produk mereka melalui online marketplace, namun Humblezing telah mempraktikkan bagaimana memaksimalkan pengalaman pengguna dengan berbelanja melalui webstore mereka.

Sekian penjelasan tentang model bisnis D2C mulai dari pengertian D2C hingga beberapa contoh model bisnis D2C. Untuk perusahaan yang telah memiliki basis pelanggan yang tetap, memilih strategi model bisnis D2C bisa menjadi salah satu cara yang bagus untuk berinovasi, melayani pelanggan baru, dan memperluas bisnis.

Selain dari artikel EKRUT Media ini, kamu masih bisa memperoleh informasi dan berbagai tips bermanfaat lainnya melalui YouTube EKRUT Official. Nah, kalau kamu ingin mengembangkan karier dan mencari pekerjaan baru, yuk, sign up di EKRUT sekarang juga karena banyak peluang kerja dari perusahaan besar menantimu!

sign up EKRUT

Rekomendasi Bacaan:

 

Sumber:

  • Coredna
  • Fundera
  • Sana-commerce
  • Fool

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    pexels-singkham-1108572.jpg

    startup

    15 Startup berbasis ESG (Environmental, Social, Governance) di Indonesia

    Fakhrizal Muttaqien

    20 September 2022
    8 min read
    pexels-christina-morillo-1181406_(1).jpg

    startup

    8 Tips Membuat Sprint Planning Meeting yang Efektif dan Efisien

    Fakhrizal Muttaqien

    14 September 2022
    7 min read
    pexels-fox-1595385.jpg

    startup

    Mengenal Design Sprint dan Tahapan Membuatnya

    Fakhrizal Muttaqien

    14 September 2022
    7 min read

    Video